Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan September bagi kita sekalian. Dalam kesempatan ini kami sampaikan bahwa gereja kita GKPI sedang mempersiapkan diri untuk pelaksanaan Sinode Am Kerja (SAK) GKPI XXI, yang akan diselenggarakan pada tanggal 2-6 Oktober 2018 di GKPI Center, Pematangsiantar. Kiranya Sinode ini berjalan dengan baik dan seluruh peserta berada dalam keadaan sehat untuk mengikuti momen yang sangat penting ini. Kami memohon kiranya seluruh warga jemaat GKPI dapat mendukung dan mendoakannya agar kiranya Sinode ini berjalan dengan baik dan sukses. Selanjutnya tema bulanan GKPI pada September 2018 ini sebagaimana diaturkan dalam Almanak GKPI adalah: “Diberkati Untuk Menjadi Berkat” yang didasarkan pada terang nas Kejadian 12::1-2: “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar; dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat." Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini memperoleh semangat baru untuk melaksanakan Firman Tuhan ini, yaitu menjadi berkat bagi semua orang. Kita terpanggil untuk menjadi berkat di tengah-tengah kehidupan kita sebab kita telah lebih dahulu diberkati oleh Tuhan melalui Yesus Kristus. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini.

Tuhan memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Artikel Rohani...

MENJADI SESAMA BAGI SEMUA ORANG
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th

Menjadi sesama bagi semua orang  adalah suatu cita-cita yang luhur dalam rangka mewujudkan kerukunan antara sesama di tengah masyarakat pluralis. Kerinduan ini sangat perlu dikembangkan oleh umat percaya sebab kita menyadari manusia di bumi ini diciptakan oleh Tuhan sungguh berbeda baik secara etnis, agama, ras  dan budaya. Perbedaan seperti itu kalau tidak disikapi dengan pikiran positip akan mengarah kepada persaingan, sikap menutup diri dan yang paling parah menganggap orang lain menjadi musuh. Sikap ekslusif yang dipelihara terus-menerus akan selalu mengagungkan kelompok sendiri dengan “kita”, sementara yang di sana itu “mereka”  (bukan kita),  sehingga terjadilah tembok-tembok pemisah. Kenyataannya kita hanya berinteraksi dengan kelompok kita sendiri dan mementingkan kelompok sendiri. Dalam kesusahan kita hanya menolong kelompok kita sendiri, yang nota bene satu warna, kelas, darah dan asal-usul (kedaerahan). Hidup kita menjadi egois dan tidak peduli dengan nasib sesama.

KEMBALI KEPADA PANGGILAN

Untuk mengatasi sikap egois yang kian mencuat dan yang tidak mempedulikan sesama, dan dalam rangka menuju kerukunan dan harmoni di tengah masyarakat nampaknya  kita harus kembali merenungkan panggilan  kita  di tengah-tengah masyarakat pluralis. Sebagai orang percaya Allah memanggil kita untuk menjadi berkat bagi semua orang. Dalam hal ini tokoh panutan kita adalah Abraham. TUHAN memanggil Abraham dari Ur-Kasdim, harus meninggalkan saudaranya, rumah bapanya dan  pergi ke Tanah Perjanjian untuk menjadi berkat di sana. TUHAN mengatakan, “Pergilah....dan olehmu semua kaum di muka bumi akan menjadi berkat.” (lihat Kej.12:1-3). Dengan dasar ini panggilan umat percaya adalah menjadi berkat bagi semua orang. Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan) itu ternyata dihuni oleh berbagai suku bangsa, yaitu orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus (Kej.15:19). Itu berarti bahwa Abraham harus berinteraksi dengan semua suku bangsa itu tanpa pandang bulu. Dia harus bergaul dengan mereka, membangun persahabatan,  memperbaharui hidup mereka, terlebih supaya semua bangsa itu mengenal Allahnya bangsa Israel.
Pemahaman dasar tersebut dalam Perjanjian Baru justru semakin ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit, “Kamu adalah garam dunia”, dan “Kamu adalah terang dunia” (Mat.5:13-14). Umat percaya terpanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Sebagai garam, kita berfungsi untuk membuat orang lain merasa diberkati, merasa tenteram, merasa didukung, dipuji dan diuntungkan. Di sini kehadiran orang percaya harus mempunyai manfaat bagi sesamanya di mana pun dan kapan pun. Kita harus menjadi sesuatu bagi orang lain. Orang percaya adalah untuk semua orang (We are for all). Lalu sebagai terang orang percaya harus bercahaya di tengah-tengah kegelapan.  Banyak orang masih tinggal dalam ikatan atau kungkungan kegelapan, maka fungsi orang percaya harus menjadi terang di sana. Yesus berkata: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat.5:16). Sikap orang percaya tidak mengutuki kegelapan, tetapi menebarkan berkas-berkas cahaya di tengah kegelapan itu.
Untuk menjadi sesama bagi semua orang, teladan Orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) juga menjadi dasar yang sangat penting dalam mengembangkan persaudaraan (brotherhood). Dalam konteks itu sikap orang samaria yang baik hati  memberikan gambaran jelas tentang cara pandang kita terhadap sesama. Yesus mengubah paradigma para ahli taurat dari siapakah sesamaku manusia menjadi  siapakah aku bagi sesamaku manusia. Yesus menunjukkan  bahwa kita semua adalah saudara dan sesama (We are brothers and sisters).  Kita adalah sama-sama manusia yang tinggal di bumi ini. Kita adalah sesama manusia yang menghirup udara yang sama. Dengan kata lain, bagi Yesus ’tidaklah penting’ siapakah sesama kita, baik mereka orang miskin atau kaya, baik mereka saudara sedarah atau tidak, baik mereka satu daerah dengan kita atau tidak, baik mereka satu negara dengan kita atau tidak. Yang terpenting bagi Yesus adalah apakah kita mau hidup sebagai saudara dan sesama bagi yang lain atau tidak. Jangan tanyakan siapakah saudaraku yang perlu kita tolong (sebab banyak orang yang menderita yang harus kita tolong),  tetapi tanyakanlah, siapakah aku bagi sesamaku. Sebab untuk menolong atau berbagi dengan sesama, pintu hati kitalah yang pertama sekali harus terbuka.

MEMBANGUN SOLIDARITAS BAGI SESAMA
 
           Dengan menyadari panggilan, “menjadi sesama” bagi saudara yang lain, maka kini kita disegarkan kembali untuk membangu solidaritas bagi semua orang, terutama bagi mereka yang menderita, tertindas dan sengsara. Semua kita menyaksikan bahwa bencana-bencana alam masih sering terjadi di negara kita, gempa bumi, banjir, tsunami, gunung meletus, kebakaran, dan dampak teror-teror bom. Bagaimana orang percaya menyikapi semua kejadian-kejadian ini?  Di samping itu dalam kehidupan sehari-hari kita bertemu dan menghadapi berbagai macam orang dari berlatar belakang suku, agama dan ras. Kita melihat kelompok-kelompok yang mengasingkan diri, kelompok yang memunculkan sikap arogansi, kelompok mayoritas dan minoritas, penduduk pribumi dan non-pribumi. Bagaimanaklah seharunya orang percaya hidup di tengah pluralisme seperti itu? Berangkat dari dasar teologis yang diuraikan di atas, sikap orang percaya yang aktual pada masa kini adalah:  
 
Pertama, orang percaya harus menjadi berkat bagi semua orang sebab itulah panggilan kita. Dalam hal ini umat percaya harus berusaha menciptakan kedamaian, kerukunan, kesejahteraan dan keteduhan bagi orang lain.  
 
Kedua, orang-orang percaya harus menghargai perbedaan, malah perbedaan itu indah. Sekalipun berbeda kita tetap satu (Diversity in unity) di dumi yang diciptakan oleh Tuhan.  Paulus mengatakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang meredeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus.” (Gal.3: 27-28). 
 
Ketiga, orang pecaya harus berdoa syafaat bagi semua orang. Paulus menasihatkan, “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada All;ah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang benar akan kebenaran.” (1 Tim.2:1-4). Kuasa doa orang percaya sangat penting untuk membawa pembaharuan  yang berguna bagi sesama. Akhirnya  dengan penyertaan Tuhan, marilah kita meningkatkan solidaritas bagi sesama, kerukunan antar sesama dan saling menghormati di tengah bangsa dan negara kita yang majemuk ini.
Shalom....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar