Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI
Dengan sukacita kami mengucapkan “Selamat Memasuki Bulan Februari 2018”. Tak terasa kita telah melewati satu bulan di tahun 2018 ini, yaitu bulan Januari. Ketika kita sibuk dalam aktivitas rasanya hari-hari berlalu dengan cepat. Tetapi bagaimanapun perjalanan kita dalam bulan yang lewat kita tetap percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan membimbing kita. Untuk bulan Februari 2018 tema bulanan GKPI sebagaimana diaturkan dalam Almanak GKPI adalah: “Mengikut Yesus dengan setia” yang didasarkan pada Matius 4:19-20: “Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia." Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini memperoleh semangat baru untuk mengikut Yesus dengan setia. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.
(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 25 Pebruari 2018

KASIH PALING AGUNG
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).
 
                Seorang penginjil India, Sundar Singh, menulis tentang kebakaran hutan di pegunungan Himalaya yang ia saksikan ketika sedang melakukan perjalanan. Saat banyak orang berusaha memadamkan api, ada sekelompok orang yang memandangi sebuah pohon yang dahan-dahannya mulai dijalari api. Seekor induk burung dengan panik terbang berputar-putar di atas pohon. Induk burung itu mencicit kebingungan, seakan-akan mencari pertolongan bagi anak-anaknya yang masih di dalam sarang. Ketika sarang mulai terbakar, induk burung itu tidak terbang menjauh. Sebaliknya, ia justru menukik ke bawah dan melindungi anak-anaknya dengan sayapnya. Dalam sekejap, ia beserta anak-anaknya hangus menjadi abu. Lalu Singh berkata kepada orang-orang itu, "Kita baru saja melihat hal yang luar biasa. Allah menciptakan burung yang memiliki kasih dan pengabdian begitu besar sehingga rela memberikan nyawanya untuk melindungi anak-anaknya.
                Tuhan Yesus memperlakukan kehidupannya juga demikian bagi umat manusia yang sedang mengalami ancaman kematian karena dosa-dosa mereka. Allah karena kasih-Nya yang besar mengutus putera-Nya untuk turun dari Sorga menjadi seorang manusia yang hina untuk menggantikan posisi kita tersalibkan di bukit Golgota. Karena kasih-Nya yang besar itulah, Ia rela mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal itu untuk dikorbankan sampai mati, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal. Itulah yang kita lihat dalam Injil Yohanes ini. Kedatangan Yesus Kristus dan segala karya penyelamatan yang Ia lakukan dalam ketaatan-Nya sampai mati di kayu salib menunjukkan makna kasih yang sejati dan kasih yang paling agung. Kasih Allah yang didatangkan dari sorga itu melebihi semua kasih yang ada di dunia ini, bahkan tidak bisa disandingkan dan disamakan. Allah telah menunjukkan perhatian yang luar biasa bagi kehidupan seluruh ciptaan-Nya, melalui Anak-Nya yang tunggal, Ia rela untuk mengorbankan segala-galanya bukan karena perbuatan kita, melainkan karena Ia ingin menunjukkan arti dari kasih yang paling agung yang tak ternilai harganya.
                Demikianlah dalam kehidupan setiap orang yang percaya. Kita telah memperoleh hidup yang kekal dan kita pasti tidak binasa karena pengorbanan Kristus (bnd.Yoh.10:28). Karena itu hendaklah kita juga meneladani kasih Allah dalam hidup kita melalui sikap pengorbaban diri bagi orang lain sebagai bukti kasih kita kepada mereka. Dalam hal ini orang percaya terpanggil untuk mencerminkan kasih Allah kepada sesama dengan kasih, suka menolong, mengampuni dan bahkan kerelaan berkorban untuk membebaskan mereka dari penderitaannya. (JH).
 
DOA: Bapa Sorgawi, kami telah mengenal kasih-Mu yang paling agung itu melalui Anak-Mu Yesus Kristus. Karena itu kuatkan kami Tuhan untuk rela berkorban untuk mengasihi sesama kami. Dalam Kristus Yesus kami berdoa. Amin.
 
Kata-kata Bijak:
Allah mengaruniakan Kristus Yesus bagi kita supaya kita memperoleh hidup yang kekal.
 

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Sabtu, 24 Pebruari 2018


SPIRITUALITAS KITA
“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik” (Mazmur 37 : 3a)
 
                Ada orang yang perpandangan bahwa kehidupan spiritualitasnya hanyalah tentang hubungan dengan Tuhan. Kalau dia disiplin berdoa, membaca Alkitab, berpuasa dan rajin ke gereja, maka sempurnalah kerohaniannya. Apakah memang demikian? Ternyata kalau kita mambaca dan merenungkan firman Tuhan dalam Alkitab, kita melihat bahwa spiritualitas kita yang utuh adalah selalu berhubungan dengan Tuhan dan  sekaligus berbungan dengan sesama. Dengan kata lain jika kita membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, tentu seturut dengan itu hubungan kita juga dengan sesama harus terbangun dengan erat juga. Itulah gagasan spiritualitas yang terkandung dalam nas ini.
                Daud berkata: “Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik”. Di sini kita melihat ada dua dimensi spiritualitas, yaitu dimensi vertikal dan horizontal. Dengan nas itu, Daud memberikan pengajaran kepada umat Tuhan agar percaya kepada Tuhan. Kepercayaan itu harus dinampakkan melalui kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan. Daud menyampaikan seperti itu kepada bangsa Israel agar mereka tidak terpengaruh dengan cara hidup orang fasik yang tidak mengenal Tuhan. Pesan ini menjadi penting bagi mereka sebagai umat pilihan Tuhan agar mereka senantiasa menjaga kekudusan hidup dan tidak melanggar perintah Tuhan. Pada masa pemerintahan raja Daud, Kerajaan Israel mengalami kejayaan dan kemakmuran. Bangsa itu hidup dalam kelimpahan dan kecukupan. Ternyata dalam hidup yang serba berkecukupan itu  tidak membuat bangsa Itu bersyukur. Justru umat pada waktu itu melakukan tindakan yang tidak terpuji dengan melakukan penindasan bagi yang lemah.  Ada di antara mereka yang suka mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, mereka melanggar perintah Tuhan dan mengabaikan kasih kepada orang yang lain. Kecurangan, kejahatan, rasa iri hati menguasai kehidupan umat Tuhan (lih. Mzm. 37:1). Untuk itulah, Daud mengajarkan kepada mereka untuk meninggalkan perilaku yang tidak baik itu. Sebaliknya Daud mendorong umat untuk melakukan yang baik kepada sesama. Hidup percaya kepada Tuhan harus dinampakkan melalui kebaikan. Hubungan yang baik dengan Tuhan harus nyata dalam hubungan dengan sesama.
                Tentu Firman ini juga berbicara kepada kita sebagai pengikut Kristus di zaman sekarang ini, di mana firman ini mengajak kita untuk melakukan kebaikan kepada orang lain sebagai bukti bahwa kita percaya kepada Tuhan. Ada banyak orang mengatakan saya percaya kepada Tuhan, tetapi ketika tetangganya mengalami musibah, dia tidak melakukan apa-apa, malahan dia hanya sebagai penonton dan mengatakan, “kasihan ya!”. Sikap seperti itu bukanlah beriman dengan benar. Percaya atau beriman di zaman now haruslah konkrit. Karena itu lakukanlah kebaikan kepada semua orang sebagai bukti kepercayaan kita kepada Tuhan.(JH).
 
DOA: Bapa Sorgawi, hidup orang percaya haruslah nyata dalam hubungan dengan sesama. Karena itu, kuatkan kami untuk untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan kepada semua orang. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
 
Kata-kata Bijak:
“Iman kita mempunyai arti jika kita melakukan kebaikan kepada orang lain.”

BERITA DALAM FOTO...






Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.

Artikel Rohani

OKULTISME SEBAGAI TANTANGAN GEREJA
Pdt. Humala Lumbantobing, MTh

Akhir-akhir ini kita masih dikejutkan dengan isu-isu Begu Ganjang (har., hantu yang panjang) yang terjadi di beberapa daerah. Isu-isu tersebut nampaknya membuat masyarakat cemas dan takut sebab isu tersebut sering berekpansi ke berbagai daerah  dan nampaknya hal tersebut sulit dibendung. Sebenarnya isu tersebut sudah ada sejak lama di Tanah Batak atau Sumut khususnya. Sebelum masuknya kekristenan ke tanah Batak begu (hantu) yang satu ini ........baca selanjutnya......

Artikel Rohani

INTEGRITAS KRISTIANI
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th 


                Kata “ integritas” sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Dalam pemilihan seorang pemimpin di sebuah organisasi  beberapa pertanyaan yang sering muncul: “Siapa pemimpin yang memiliki integritas?”, “Apakah calon Kepala Daerah itu memiliki integritas?” atau “Integritas seperti apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin?” Bukan hanya itu, dalam lingkungan pekerjaan pun sering dipertanyakan: “Apakah karyawan itu memiliki integritas?” Baca Selanjutnya......