Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI
Dengan sukacita kami mengucapkan “Selamat Memasuki Bulan Februari 2018”. Tak terasa kita telah melewati satu bulan di tahun 2018 ini, yaitu bulan Januari. Ketika kita sibuk dalam aktivitas rasanya hari-hari berlalu dengan cepat. Tetapi bagaimanapun perjalanan kita dalam bulan yang lewat kita tetap percaya bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan membimbing kita. Untuk bulan Februari 2018 tema bulanan GKPI sebagaimana diaturkan dalam Almanak GKPI adalah: “Mengikut Yesus dengan setia” yang didasarkan pada Matius 4:19-20: “Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia." Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini memperoleh semangat baru untuk mengikut Yesus dengan setia. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.
(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 25 Pebruari 2018

KASIH PALING AGUNG
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).
 
                Seorang penginjil India, Sundar Singh, menulis tentang kebakaran hutan di pegunungan Himalaya yang ia saksikan ketika sedang melakukan perjalanan. Saat banyak orang berusaha memadamkan api, ada sekelompok orang yang memandangi sebuah pohon yang dahan-dahannya mulai dijalari api. Seekor induk burung dengan panik terbang berputar-putar di atas pohon. Induk burung itu mencicit kebingungan, seakan-akan mencari pertolongan bagi anak-anaknya yang masih di dalam sarang. Ketika sarang mulai terbakar, induk burung itu tidak terbang menjauh. Sebaliknya, ia justru menukik ke bawah dan melindungi anak-anaknya dengan sayapnya. Dalam sekejap, ia beserta anak-anaknya hangus menjadi abu. Lalu Singh berkata kepada orang-orang itu, "Kita baru saja melihat hal yang luar biasa. Allah menciptakan burung yang memiliki kasih dan pengabdian begitu besar sehingga rela memberikan nyawanya untuk melindungi anak-anaknya.
                Tuhan Yesus memperlakukan kehidupannya juga demikian bagi umat manusia yang sedang mengalami ancaman kematian karena dosa-dosa mereka. Allah karena kasih-Nya yang besar mengutus putera-Nya untuk turun dari Sorga menjadi seorang manusia yang hina untuk menggantikan posisi kita tersalibkan di bukit Golgota. Karena kasih-Nya yang besar itulah, Ia rela mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal itu untuk dikorbankan sampai mati, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal. Itulah yang kita lihat dalam Injil Yohanes ini. Kedatangan Yesus Kristus dan segala karya penyelamatan yang Ia lakukan dalam ketaatan-Nya sampai mati di kayu salib menunjukkan makna kasih yang sejati dan kasih yang paling agung. Kasih Allah yang didatangkan dari sorga itu melebihi semua kasih yang ada di dunia ini, bahkan tidak bisa disandingkan dan disamakan. Allah telah menunjukkan perhatian yang luar biasa bagi kehidupan seluruh ciptaan-Nya, melalui Anak-Nya yang tunggal, Ia rela untuk mengorbankan segala-galanya bukan karena perbuatan kita, melainkan karena Ia ingin menunjukkan arti dari kasih yang paling agung yang tak ternilai harganya.
                Demikianlah dalam kehidupan setiap orang yang percaya. Kita telah memperoleh hidup yang kekal dan kita pasti tidak binasa karena pengorbanan Kristus (bnd.Yoh.10:28). Karena itu hendaklah kita juga meneladani kasih Allah dalam hidup kita melalui sikap pengorbaban diri bagi orang lain sebagai bukti kasih kita kepada mereka. Dalam hal ini orang percaya terpanggil untuk mencerminkan kasih Allah kepada sesama dengan kasih, suka menolong, mengampuni dan bahkan kerelaan berkorban untuk membebaskan mereka dari penderitaannya. (JH).
 
DOA: Bapa Sorgawi, kami telah mengenal kasih-Mu yang paling agung itu melalui Anak-Mu Yesus Kristus. Karena itu kuatkan kami Tuhan untuk rela berkorban untuk mengasihi sesama kami. Dalam Kristus Yesus kami berdoa. Amin.
 
Kata-kata Bijak:
Allah mengaruniakan Kristus Yesus bagi kita supaya kita memperoleh hidup yang kekal.
 

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Sabtu, 24 Pebruari 2018


SPIRITUALITAS KITA
“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik” (Mazmur 37 : 3a)
 
                Ada orang yang perpandangan bahwa kehidupan spiritualitasnya hanyalah tentang hubungan dengan Tuhan. Kalau dia disiplin berdoa, membaca Alkitab, berpuasa dan rajin ke gereja, maka sempurnalah kerohaniannya. Apakah memang demikian? Ternyata kalau kita mambaca dan merenungkan firman Tuhan dalam Alkitab, kita melihat bahwa spiritualitas kita yang utuh adalah selalu berhubungan dengan Tuhan dan  sekaligus berbungan dengan sesama. Dengan kata lain jika kita membangun hubungan yang erat dengan Tuhan, tentu seturut dengan itu hubungan kita juga dengan sesama harus terbangun dengan erat juga. Itulah gagasan spiritualitas yang terkandung dalam nas ini.
                Daud berkata: “Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik”. Di sini kita melihat ada dua dimensi spiritualitas, yaitu dimensi vertikal dan horizontal. Dengan nas itu, Daud memberikan pengajaran kepada umat Tuhan agar percaya kepada Tuhan. Kepercayaan itu harus dinampakkan melalui kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan. Daud menyampaikan seperti itu kepada bangsa Israel agar mereka tidak terpengaruh dengan cara hidup orang fasik yang tidak mengenal Tuhan. Pesan ini menjadi penting bagi mereka sebagai umat pilihan Tuhan agar mereka senantiasa menjaga kekudusan hidup dan tidak melanggar perintah Tuhan. Pada masa pemerintahan raja Daud, Kerajaan Israel mengalami kejayaan dan kemakmuran. Bangsa itu hidup dalam kelimpahan dan kecukupan. Ternyata dalam hidup yang serba berkecukupan itu  tidak membuat bangsa Itu bersyukur. Justru umat pada waktu itu melakukan tindakan yang tidak terpuji dengan melakukan penindasan bagi yang lemah.  Ada di antara mereka yang suka mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, mereka melanggar perintah Tuhan dan mengabaikan kasih kepada orang yang lain. Kecurangan, kejahatan, rasa iri hati menguasai kehidupan umat Tuhan (lih. Mzm. 37:1). Untuk itulah, Daud mengajarkan kepada mereka untuk meninggalkan perilaku yang tidak baik itu. Sebaliknya Daud mendorong umat untuk melakukan yang baik kepada sesama. Hidup percaya kepada Tuhan harus dinampakkan melalui kebaikan. Hubungan yang baik dengan Tuhan harus nyata dalam hubungan dengan sesama.
                Tentu Firman ini juga berbicara kepada kita sebagai pengikut Kristus di zaman sekarang ini, di mana firman ini mengajak kita untuk melakukan kebaikan kepada orang lain sebagai bukti bahwa kita percaya kepada Tuhan. Ada banyak orang mengatakan saya percaya kepada Tuhan, tetapi ketika tetangganya mengalami musibah, dia tidak melakukan apa-apa, malahan dia hanya sebagai penonton dan mengatakan, “kasihan ya!”. Sikap seperti itu bukanlah beriman dengan benar. Percaya atau beriman di zaman now haruslah konkrit. Karena itu lakukanlah kebaikan kepada semua orang sebagai bukti kepercayaan kita kepada Tuhan.(JH).
 
DOA: Bapa Sorgawi, hidup orang percaya haruslah nyata dalam hubungan dengan sesama. Karena itu, kuatkan kami untuk untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan kepada semua orang. Dalam Nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
 
Kata-kata Bijak:
“Iman kita mempunyai arti jika kita melakukan kebaikan kepada orang lain.”

BERITA DALAM FOTO...






Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.

Artikel Rohani

OKULTISME SEBAGAI TANTANGAN GEREJA
Pdt. Humala Lumbantobing, MTh

Akhir-akhir ini kita masih dikejutkan dengan isu-isu Begu Ganjang (har., hantu yang panjang) yang terjadi di beberapa daerah. Isu-isu tersebut nampaknya membuat masyarakat cemas dan takut sebab isu tersebut sering berekpansi ke berbagai daerah  dan nampaknya hal tersebut sulit dibendung. Sebenarnya isu tersebut sudah ada sejak lama di Tanah Batak atau Sumut khususnya. Sebelum masuknya kekristenan ke tanah Batak begu (hantu) yang satu ini ........baca selanjutnya......

Artikel Rohani

INTEGRITAS KRISTIANI
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th 


                Kata “ integritas” sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Dalam pemilihan seorang pemimpin di sebuah organisasi  beberapa pertanyaan yang sering muncul: “Siapa pemimpin yang memiliki integritas?”, “Apakah calon Kepala Daerah itu memiliki integritas?” atau “Integritas seperti apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin?” Bukan hanya itu, dalam lingkungan pekerjaan pun sering dipertanyakan: “Apakah karyawan itu memiliki integritas?” Baca Selanjutnya...... 

Artikel Rohani...



HUBUNGAN IMAN DAN KESEHATAN
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th

Hidup sehat adalah dambaan semua orang. Sebab dengan tubuh yang sehat maka kita dapat melakukan segala aktivitas dengan baik. Hidup sehat membuat segalanya indah, di mana kita bisa bekerja dengan maksimal,  bergaul dengan semua orang dan menikmati hidup sebagai anugerah Tuhan. Sebaliknya tubuh yang........Baca selanjutnya di sini......

Artikel Rohani...

MENJADI SESAMA BAGI SEMUA ORANG
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th

Menjadi sesama bagi semua orang  adalah suatu cita-cita yang luhur dalam rangka mewujudkan kerukunan antara sesama di tengah masyarakat pluralis. Kerinduan ini sangat perlu dikembangkan oleh umat percaya sebab kita menyadari manusia di bumi ini diciptakan oleh Tuhan sungguh berbeda baik secara etnis, agama, ras  dan budaya. Perbedaan seperti itu kalau tidak disikapi dengan pikiran positip akan mengarah kepada persaingan, sikap menutup diri dan yang paling parah menganggap orang lain menjadi musuh. Sikap ekslusif yang dipelihara terus-menerus akan selalu mengagungkan kelompok sendiri dengan “kita”, sementara yang di sana itu “mereka”  (bukan kita),  sehingga terjadilah tembok-tembok pemisah. Kenyataannya kita hanya berinteraksi dengan kelompok kita sendiri dan mementingkan kelompok sendiri. Dalam kesusahan kita hanya menolong kelompok kita sendiri, yang nota bene satu warna, kelas, darah dan asal-usul (kedaerahan). Hidup kita menjadi egois dan tidak peduli dengan nasib sesama.

KEMBALI KEPADA PANGGILAN

Untuk mengatasi sikap egois yang kian mencuat dan yang tidak mempedulikan sesama, dan dalam rangka menuju kerukunan dan harmoni di tengah masyarakat nampaknya  kita harus kembali merenungkan panggilan  kita  di tengah-tengah masyarakat pluralis. Sebagai orang percaya Allah memanggil kita untuk menjadi berkat bagi semua orang. Dalam hal ini tokoh panutan kita adalah Abraham. TUHAN memanggil Abraham dari Ur-Kasdim, harus meninggalkan saudaranya, rumah bapanya dan  pergi ke Tanah Perjanjian untuk menjadi berkat di sana. TUHAN mengatakan, “Pergilah....dan olehmu semua kaum di muka bumi akan menjadi berkat.” (lihat Kej.12:1-3). Dengan dasar ini panggilan umat percaya adalah menjadi berkat bagi semua orang. Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan) itu ternyata dihuni oleh berbagai suku bangsa, yaitu orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus (Kej.15:19). Itu berarti bahwa Abraham harus berinteraksi dengan semua suku bangsa itu tanpa pandang bulu. Dia harus bergaul dengan mereka, membangun persahabatan,  memperbaharui hidup mereka, terlebih supaya semua bangsa itu mengenal Allahnya bangsa Israel.
Pemahaman dasar tersebut dalam Perjanjian Baru justru semakin ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit, “Kamu adalah garam dunia”, dan “Kamu adalah terang dunia” (Mat.5:13-14). Umat percaya terpanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Sebagai garam, kita berfungsi untuk membuat orang lain merasa diberkati, merasa tenteram, merasa didukung, dipuji dan diuntungkan. Di sini kehadiran orang percaya harus mempunyai manfaat bagi sesamanya di mana pun dan kapan pun. Kita harus menjadi sesuatu bagi orang lain. Orang percaya adalah untuk semua orang (We are for all). Lalu sebagai terang orang percaya harus bercahaya di tengah-tengah kegelapan.  Banyak orang masih tinggal dalam ikatan atau kungkungan kegelapan, maka fungsi orang percaya harus menjadi terang di sana. Yesus berkata: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat.5:16). Sikap orang percaya tidak mengutuki kegelapan, tetapi menebarkan berkas-berkas cahaya di tengah kegelapan itu.
Untuk menjadi sesama bagi semua orang, teladan Orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) juga menjadi dasar yang sangat penting dalam mengembangkan persaudaraan (brotherhood). Dalam konteks itu sikap orang samaria yang baik hati  memberikan gambaran jelas tentang cara pandang kita terhadap sesama. Yesus mengubah paradigma para ahli taurat dari siapakah sesamaku manusia menjadi  siapakah aku bagi sesamaku manusia. Yesus menunjukkan  bahwa kita semua adalah saudara dan sesama (We are brothers and sisters).  Kita adalah sama-sama manusia yang tinggal di bumi ini. Kita adalah sesama manusia yang menghirup udara yang sama. Dengan kata lain, bagi Yesus ’tidaklah penting’ siapakah sesama kita, baik mereka orang miskin atau kaya, baik mereka saudara sedarah atau tidak, baik mereka satu daerah dengan kita atau tidak, baik mereka satu negara dengan kita atau tidak. Yang terpenting bagi Yesus adalah apakah kita mau hidup sebagai saudara dan sesama bagi yang lain atau tidak. Jangan tanyakan siapakah saudaraku yang perlu kita tolong (sebab banyak orang yang menderita yang harus kita tolong),  tetapi tanyakanlah, siapakah aku bagi sesamaku. Sebab untuk menolong atau berbagi dengan sesama, pintu hati kitalah yang pertama sekali harus terbuka.

MEMBANGUN SOLIDARITAS BAGI SESAMA
 
           Dengan menyadari panggilan, “menjadi sesama” bagi saudara yang lain, maka kini kita disegarkan kembali untuk membangu solidaritas bagi semua orang, terutama bagi mereka yang menderita, tertindas dan sengsara. Semua kita menyaksikan bahwa bencana-bencana alam masih sering terjadi di negara kita, gempa bumi, banjir, tsunami, gunung meletus, kebakaran, dan dampak teror-teror bom. Bagaimana orang percaya menyikapi semua kejadian-kejadian ini?  Di samping itu dalam kehidupan sehari-hari kita bertemu dan menghadapi berbagai macam orang dari berlatar belakang suku, agama dan ras. Kita melihat kelompok-kelompok yang mengasingkan diri, kelompok yang memunculkan sikap arogansi, kelompok mayoritas dan minoritas, penduduk pribumi dan non-pribumi. Bagaimanaklah seharunya orang percaya hidup di tengah pluralisme seperti itu? Berangkat dari dasar teologis yang diuraikan di atas, sikap orang percaya yang aktual pada masa kini adalah:  
 
Pertama, orang percaya harus menjadi berkat bagi semua orang sebab itulah panggilan kita. Dalam hal ini umat percaya harus berusaha menciptakan kedamaian, kerukunan, kesejahteraan dan keteduhan bagi orang lain.  
 
Kedua, orang-orang percaya harus menghargai perbedaan, malah perbedaan itu indah. Sekalipun berbeda kita tetap satu (Diversity in unity) di dumi yang diciptakan oleh Tuhan.  Paulus mengatakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang meredeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus.” (Gal.3: 27-28). 
 
Ketiga, orang pecaya harus berdoa syafaat bagi semua orang. Paulus menasihatkan, “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada All;ah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang benar akan kebenaran.” (1 Tim.2:1-4). Kuasa doa orang percaya sangat penting untuk membawa pembaharuan  yang berguna bagi sesama. Akhirnya  dengan penyertaan Tuhan, marilah kita meningkatkan solidaritas bagi sesama, kerukunan antar sesama dan saling menghormati di tengah bangsa dan negara kita yang majemuk ini.
Shalom....

Renungan Harian "TERANG HIDUP" GKPI, Jumat, 26 Januari 2018

ROH KEBENARAN
Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan
kepadamu hal-hal yang akan datang.
Yohanes 16:13
 
                Martin Luther pernah pernah menyaksikan bahwa Roh Kudus bukanlah roh yang mengelirukan tetapi Ia adalah Roh yang menerapkan alat-alat (Firman dan Sakramen) yang disediakan Allah sendiri sehingga kita dapat mengadakan kontak dengan Yesus. Maksudnya adalah bahwa Roh Kudus memiliki peran yang luar biasa dalam hidup orang-orang percaya. Peranan itulah yang akan kita lihat secara khusus dalam wejangan yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya sebagaimana dalam konteks nas ini.
                Sebelum Yesus menghadapi menganiayaan yang akan datang dan juga sebelum Ia berpisah dengan murid-murid-Nya, Ia  memberikan nasihat dan menyampaikan janji kepada murid-murid-Nya. Janji itu adalah pengutusan Roh Kudus, yang dalam nas ini disebut dengan Roh Kebenaran. Jika Yesus sudah pergi meninggalkan mereka, Ia akan mengutus Roh Kebenaran. Sebelumnya Yesus menyebut “Penghibur” yang akan datang (ay.7). Tentang Roh Kebenaran itu Yesus berkata: “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran. Tugas Roh Kudus bukan hanya bekerja untuk orang-orang akan diselamatkan tetapi juga bekerja bagi orang-orang percaya, yaitu untuk mengajar, memimpin dan menuntun kepada seluruh kebenaran.  Kebenaran ini juga dikembangkan oleh Tuhan Yesus dalam Yoh.8:31-32: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Roh Kebenaran itu tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang dikatakan-Nya dan bahkan Roh Kebenaran itu akan memberitakan hal-hal yang akan datang.
                Salah satu tanggung-jawab orang-orang percaya pada masa kini mengenal lebih dalam kebenaran Tuhan. Kita terpanggil mendalami Firman Tuhan untuk mengetahui maksud dan rencana-rencana-Nya dalam hidup kita. Tetapi yang menjadi masalah adalah seringkali kita tidak sanggup memahami jalan-jalan Tuhan dalam hidup kita. Hal yang sama juga kita hadapi adalah sulitnya kita memahami kebenaran Tuhan. Bahkan untuk melaksanakan Firman Tuhanpun kita tidak sanggup dengan kekuatan kita sendiri. Oleh karena itulah kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran yang memimpin dan membimbing kita untuk memahami seluruh kebenaran itu, yaitu Firman Tuhan. Setiap kali kita akan membaca dan mendengar Firman Tuhan, kita harus selalu berdoa memohon pertolongan Roh Kudus agar kita dimbimbing untuk memahami dan melaksanakan Firman-Nya.
 
DOA: Bapa Sorgawi, biarlah Roh Kudus-Mu senantiasa membimbing dan menuntun kami untuk memahami kebenaran Firman-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
 
Kata-kata Bijak :

Kebenaran akan tersingkap tatkala Roh Kebenaran bekerja dalam hidup kita.

ARSIP BERITA DALAM FOTO

FOTO: Workshop Kepala Departemen   Gereja Anggota UEM Asia




Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.




Foto TIM RENSTRA GKPI:


Rapat Perdana Tim Evaluasi dan Implementasi Percepatan Renstra GKPI telah dilaksanakan dengan baik, Senin, 16 Januari 2018 di Wisma PWKI, Medan. 

Tampak dalam Foto, Ki-Ka: Pdt. Raden Samosir, S.Th (Kadep Diakonat/Anggota Tim), Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th (Kadep Apostolat/Sekretaris Tim), Pdt. Abdul Hutauruk, M.Th (Kadep Pastorat/Ketua Tim), Ev. Dr. Ferdinand Nainggolan (Anggota Tim), Pdt. Ro Sininta Hutabarat, M.Th (Sekjen GKPI), Dra. Tetty Aritonang (Anggota Tim), Dr. Dearlina Sinaga (Anggota Tim) dan Pnt. Ir. Saut Siahaan, M.Kes (Anggota Tim).

Anggota Tim yang juga  hadir tetapi tidak ikut dalam Foto adalah Pnt.Ir. Saut Hutagalung, MSc. 

Pokok bahasan dalam Rapat ini adalah Strategi Evaluasi  dan Implementasi Percepatan Renstra GKPI