Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan Juli bagi kita sekalian. Pada bulan ini ada satu momen yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu peringatan Hari Anak Nasional, 23 Juli 2018. Dalam kesempatan ini kita diingatkan untuk semakin mengasihi anak-anak, melindungi anak dari tindakan kekerasan, perdagangan anak dan serta kekerasan seksual. Di samping itu warga jemaat juga diingatkan untuk meningkatkan rasa keadilan dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk itulah tema bulanan GKPI pada Juli 2018 ini sebagaimana diaturkan dalam Almanak GKPI adalah: “Menegakkan Keadilan” yang didasarkan pada terang nas Amos 5:24: “Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini memperoleh semangat baru dalam menegakkan keadilan di tengah-tengah kehidupan sehari-hari. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu, 15 Juli 2018


KESUKAAN MENERIMA TAMU
“Ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Sesudah dilihatnya mereka, ia berlari dari pintu kemahnya menyongsong mereka,
lalu sujudlah ia sampai ke tanah,” (Kejadian 18:2).

Selain memiliki hubungan, memelihara kasih persaudaraan berarti juga adalah tanggung jawab yang harus kita upayakan agar hubungan itu bisa berkembang dengan sehat dan meningkat. Ada komunikasi yang dikembangkan, ada saling memperdulikan. Berbagai perbedaan tidak menjadi hambatan untuk meningkatkan hubungan, tetapi justru memperkaya dan melengkapi satu sama lain. Salah satu yang menjadi tanggung jawab yang harus kita upayakan itu adalah kesukaan menerima tamu.
Alkitab banyak menekankan tentang perlunya dipraktekkan kesukaan menerima tamu. Bukan hanya menerima tamu yang dianggap sebagai suatu tugas yang diperintahkan, tetapi mengemukakan gambaran yang indah tentang kegiatan kasih karunia ini dan berkat-berkat-Nya yang akan didatangkan. Salah satu tokoh Alkitab yang boleh menjadi teladan bagi kita dalam hal menerima tamu adalah Abraham. Dalam nas renungan kita saat ini kita melihat Abraham menyambut kedatangan tiga orang asing, memperlakukan mereka dengan murah hati dan menjamu mereka dengan hidangan yang istimewa, sebagaimana kebiasaan pada zaman itu. Antusiasme Abraham dalam menjamu tamu tampak dari 3 kali kata “segera” digunakan: ia segera ke kemah (ay. 6), meminta istrinya segera membuat roti (ay. 6) dan bagaimana bujangnya segera mengolah anak lembu empuk yang telah dipilihnya (ay. 7). Hidangan harus segera disiapkan. Para tamu tidak boleh terlalu lama menunggu. Sikap yang diperlihatkan oleh Abraham dalam menyambut para tamunya memperlihatkan pada kita bagaimana dia dengan sempurna menjalankan adat istiadat timur dengan baik bahkan hingga menghantar para tamunya itu pergi dari kemahnya. Keistimewaan penyambutan Abraham adalah pada sikap dan responnya menyambut tamu yang datang, sebab kemunculan ketiga orang tadi datang ketika waktu hari panas terik. Padahal di satu sisi Abraham ketika itu tidak mengenal bahwa yang datang itu adalah Tuhan dan kedua malaikat. Maka dengan “tidak sengaja” Abraham telah menyambut Tuhan di kemahnya.
Adalah kesempatan yang indah untuk menerima tamu seperti yang dialami oleh Abraham, dan peristiwa ini bukan sesuatu yang mustahil boleh terjadi kepada kita. Teladan Abraham dalam hal bertamu sangat penting kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Keramah-tamahan, senyum dan sapa serta sikap pelayanan yang baik sangat penting kita tunjukkan sebagai keluarga Kristen kepada tamu kita. Dengan menunjukkan kesukaan menerima tamu kepada umat-umat Allah, berarti kita juga boleh menerima malaikat-malaikat-Nya ke rumah kediaman kita.(JS).

DOA: Ya Tuhan Allah kami, Engkaulah sumber dari segala sesuatu yang kami miliki. Kiranya kami mau berbagi berkat yang telah kami terima agar Engkau dimuliakan. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Tuhan menyebarkan kasih-Nya melalui kita saat kita menjamu orang lain
dan berbagi berkat-Nya.”

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Sabtu, 14 Juli 2018


JANGAN SAMPAI TAMAK
Katanya lagi kepada mereka: “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.”  (Lukas 12:15).

Suatu kali seorang pemilik tanah berujar kepada seorang pria yang ingin memilikii tanah yang luas, demikian, "Anda akan mendapatkan tanah seluas daerah yang mampu Anda kelilingi sebelum matahari terbenam. Jika Anda berhasil mengelilingi 40 hektar, Anda mendapatkan 40 hektar. Jika Anda mampu mengelilingi 50 hektar, Anda mendapatkan 50 hektar." Tanpa buang waktu, orang ini segera berlari sekuat tenaga. Ia terus berlari, dari pagi hingga petang, sampai akhirnya dengan terhuyung-huyung ia berkata kepada pemilik tanah itu, "Saya dapat, saya dapat 500 ribu meter persegi." Namun seketika ia roboh, dan mati. Apa yang diperjuangkannya, akhirnya sia-sia.
Firman Tuhan yang kita baca hari ini menjelaskan kepada kita bahwa ketamakan hanya mendatangkan keburukan bagi kita yang hidup di dunia. Mereka yang hidunya penuh dengan ketamakan adalah mereka yang memberhalakan segala yang ada di dunia ini untuk memuaskan nafsunya. Yesus menantang para pendengar ajarannya, “Katanya lagi kepada mereka: “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Tuhan Yesus mengingatkan ini karena Dia ingin semua orang yang mendengar pada saat itu mengingat apa yang telah dilakukan oleh leluhurnya bangsa Israel yang tamak. Bangsa Israel dihukum Allah karena ketamakan mereka akan manna dan burung puyuh. Tuhan memerintahkan agar mereka mengambil secukupnya (Kel. 16:16). Tetapi karena mereka merasa kekurangan, mereka mengambil lebih dari apa yang diperintahkan. Akhirnya mereka mati karena keserakahannya.
Saudara yang dikasihi Tuhan, pernahkah saudara mengalami atau melakukan perbuatan yang sama seperti bangsa Israel yang terdahulu? Tamak dalam hal apakah saudara? Firman ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika terjadi ketamakan hidup dalam diri kita, kita hanya akan membina hubungan dengan dunia dan harta yang kita kumpulkan akan menjadi focus kehidupan kita. Yesus bersabda: “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat. 6:21). Jika terjadi demikian, maka hubungan kita dengan Allah akan terganggu bahkan ada kecendererungan kita akan melupakan Allah. Oleh karena itu, ketika Yesus berkata “berjaga-jagalah dan waspadalah,” Dia memerintahkan kepada kita untuk membuang segala bentuk ketamakan kita. Mari kita belajar untuk mensyukuri apa yang kita peroleh dari jeri lelah kita dan menjauhi sikap yang tidak puas. (PT).

DOA: Bapa Surgawi,  kami mengaku bahwa ketergilaan kami akan dunia ini membuat kami tidak lagi berpaut pada hati-Mu. Ampunilah kami dari keberdosaan kami dan ajarlah kami untuk menjadi “kaya” menurut pengertian-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak:
Orang fasik akan selalu mengejar kekayaan materi sedangkan orang mulia
akan selalu mengejar kebenaran sejati.

BERITA DALAM FOTO...






Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.

Artikel Rohani

OKULTISME SEBAGAI TANTANGAN GEREJA
Pdt. Humala Lumbantobing, MTh

Akhir-akhir ini kita masih dikejutkan dengan isu-isu Begu Ganjang (har., hantu yang panjang) yang terjadi di beberapa daerah. Isu-isu tersebut nampaknya membuat masyarakat cemas dan takut sebab isu tersebut sering berekpansi ke berbagai daerah  dan nampaknya hal tersebut sulit dibendung. Sebenarnya isu tersebut sudah ada sejak lama di Tanah Batak atau Sumut khususnya. Sebelum masuknya kekristenan ke tanah Batak begu (hantu) yang satu ini ........baca selanjutnya......

Artikel Rohani

INTEGRITAS KRISTIANI
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th 


                Kata “ integritas” sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Dalam pemilihan seorang pemimpin di sebuah organisasi  beberapa pertanyaan yang sering muncul: “Siapa pemimpin yang memiliki integritas?”, “Apakah calon Kepala Daerah itu memiliki integritas?” atau “Integritas seperti apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin?” Bukan hanya itu, dalam lingkungan pekerjaan pun sering dipertanyakan: “Apakah karyawan itu memiliki integritas?” Baca Selanjutnya...... 

Artikel Rohani...



HUBUNGAN IMAN DAN KESEHATAN
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th

Hidup sehat adalah dambaan semua orang. Sebab dengan tubuh yang sehat maka kita dapat melakukan segala aktivitas dengan baik. Hidup sehat membuat segalanya indah, di mana kita bisa bekerja dengan maksimal,  bergaul dengan semua orang dan menikmati hidup sebagai anugerah Tuhan. Sebaliknya tubuh yang........Baca selanjutnya di sini......

Artikel Rohani...

MENJADI SESAMA BAGI SEMUA ORANG
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th

Menjadi sesama bagi semua orang  adalah suatu cita-cita yang luhur dalam rangka mewujudkan kerukunan antara sesama di tengah masyarakat pluralis. Kerinduan ini sangat perlu dikembangkan oleh umat percaya sebab kita menyadari manusia di bumi ini diciptakan oleh Tuhan sungguh berbeda baik secara etnis, agama, ras  dan budaya. Perbedaan seperti itu kalau tidak disikapi dengan pikiran positip akan mengarah kepada persaingan, sikap menutup diri dan yang paling parah menganggap orang lain menjadi musuh. Sikap ekslusif yang dipelihara terus-menerus akan selalu mengagungkan kelompok sendiri dengan “kita”, sementara yang di sana itu “mereka”  (bukan kita),  sehingga terjadilah tembok-tembok pemisah. Kenyataannya kita hanya berinteraksi dengan kelompok kita sendiri dan mementingkan kelompok sendiri. Dalam kesusahan kita hanya menolong kelompok kita sendiri, yang nota bene satu warna, kelas, darah dan asal-usul (kedaerahan). Hidup kita menjadi egois dan tidak peduli dengan nasib sesama.

KEMBALI KEPADA PANGGILAN

Untuk mengatasi sikap egois yang kian mencuat dan yang tidak mempedulikan sesama, dan dalam rangka menuju kerukunan dan harmoni di tengah masyarakat nampaknya  kita harus kembali merenungkan panggilan  kita  di tengah-tengah masyarakat pluralis. Sebagai orang percaya Allah memanggil kita untuk menjadi berkat bagi semua orang. Dalam hal ini tokoh panutan kita adalah Abraham. TUHAN memanggil Abraham dari Ur-Kasdim, harus meninggalkan saudaranya, rumah bapanya dan  pergi ke Tanah Perjanjian untuk menjadi berkat di sana. TUHAN mengatakan, “Pergilah....dan olehmu semua kaum di muka bumi akan menjadi berkat.” (lihat Kej.12:1-3). Dengan dasar ini panggilan umat percaya adalah menjadi berkat bagi semua orang. Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan) itu ternyata dihuni oleh berbagai suku bangsa, yaitu orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus (Kej.15:19). Itu berarti bahwa Abraham harus berinteraksi dengan semua suku bangsa itu tanpa pandang bulu. Dia harus bergaul dengan mereka, membangun persahabatan,  memperbaharui hidup mereka, terlebih supaya semua bangsa itu mengenal Allahnya bangsa Israel.
Pemahaman dasar tersebut dalam Perjanjian Baru justru semakin ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit, “Kamu adalah garam dunia”, dan “Kamu adalah terang dunia” (Mat.5:13-14). Umat percaya terpanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Sebagai garam, kita berfungsi untuk membuat orang lain merasa diberkati, merasa tenteram, merasa didukung, dipuji dan diuntungkan. Di sini kehadiran orang percaya harus mempunyai manfaat bagi sesamanya di mana pun dan kapan pun. Kita harus menjadi sesuatu bagi orang lain. Orang percaya adalah untuk semua orang (We are for all). Lalu sebagai terang orang percaya harus bercahaya di tengah-tengah kegelapan.  Banyak orang masih tinggal dalam ikatan atau kungkungan kegelapan, maka fungsi orang percaya harus menjadi terang di sana. Yesus berkata: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat.5:16). Sikap orang percaya tidak mengutuki kegelapan, tetapi menebarkan berkas-berkas cahaya di tengah kegelapan itu.
Untuk menjadi sesama bagi semua orang, teladan Orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) juga menjadi dasar yang sangat penting dalam mengembangkan persaudaraan (brotherhood). Dalam konteks itu sikap orang samaria yang baik hati  memberikan gambaran jelas tentang cara pandang kita terhadap sesama. Yesus mengubah paradigma para ahli taurat dari siapakah sesamaku manusia menjadi  siapakah aku bagi sesamaku manusia. Yesus menunjukkan  bahwa kita semua adalah saudara dan sesama (We are brothers and sisters).  Kita adalah sama-sama manusia yang tinggal di bumi ini. Kita adalah sesama manusia yang menghirup udara yang sama. Dengan kata lain, bagi Yesus ’tidaklah penting’ siapakah sesama kita, baik mereka orang miskin atau kaya, baik mereka saudara sedarah atau tidak, baik mereka satu daerah dengan kita atau tidak, baik mereka satu negara dengan kita atau tidak. Yang terpenting bagi Yesus adalah apakah kita mau hidup sebagai saudara dan sesama bagi yang lain atau tidak. Jangan tanyakan siapakah saudaraku yang perlu kita tolong (sebab banyak orang yang menderita yang harus kita tolong),  tetapi tanyakanlah, siapakah aku bagi sesamaku. Sebab untuk menolong atau berbagi dengan sesama, pintu hati kitalah yang pertama sekali harus terbuka.

MEMBANGUN SOLIDARITAS BAGI SESAMA
 
           Dengan menyadari panggilan, “menjadi sesama” bagi saudara yang lain, maka kini kita disegarkan kembali untuk membangu solidaritas bagi semua orang, terutama bagi mereka yang menderita, tertindas dan sengsara. Semua kita menyaksikan bahwa bencana-bencana alam masih sering terjadi di negara kita, gempa bumi, banjir, tsunami, gunung meletus, kebakaran, dan dampak teror-teror bom. Bagaimana orang percaya menyikapi semua kejadian-kejadian ini?  Di samping itu dalam kehidupan sehari-hari kita bertemu dan menghadapi berbagai macam orang dari berlatar belakang suku, agama dan ras. Kita melihat kelompok-kelompok yang mengasingkan diri, kelompok yang memunculkan sikap arogansi, kelompok mayoritas dan minoritas, penduduk pribumi dan non-pribumi. Bagaimanaklah seharunya orang percaya hidup di tengah pluralisme seperti itu? Berangkat dari dasar teologis yang diuraikan di atas, sikap orang percaya yang aktual pada masa kini adalah:  
 
Pertama, orang percaya harus menjadi berkat bagi semua orang sebab itulah panggilan kita. Dalam hal ini umat percaya harus berusaha menciptakan kedamaian, kerukunan, kesejahteraan dan keteduhan bagi orang lain.  
 
Kedua, orang-orang percaya harus menghargai perbedaan, malah perbedaan itu indah. Sekalipun berbeda kita tetap satu (Diversity in unity) di dumi yang diciptakan oleh Tuhan.  Paulus mengatakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang meredeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus.” (Gal.3: 27-28). 
 
Ketiga, orang pecaya harus berdoa syafaat bagi semua orang. Paulus menasihatkan, “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada All;ah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang benar akan kebenaran.” (1 Tim.2:1-4). Kuasa doa orang percaya sangat penting untuk membawa pembaharuan  yang berguna bagi sesama. Akhirnya  dengan penyertaan Tuhan, marilah kita meningkatkan solidaritas bagi sesama, kerukunan antar sesama dan saling menghormati di tengah bangsa dan negara kita yang majemuk ini.
Shalom....

ARSIP BERITA DALAM FOTO

FOTO: Workshop Kepala Departemen   Gereja Anggota UEM Asia




Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.




Foto TIM RENSTRA GKPI:


Rapat Perdana Tim Evaluasi dan Implementasi Percepatan Renstra GKPI telah dilaksanakan dengan baik, Senin, 16 Januari 2018 di Wisma PWKI, Medan. 

Tampak dalam Foto, Ki-Ka: Pdt. Raden Samosir, S.Th (Kadep Diakonat/Anggota Tim), Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th (Kadep Apostolat/Sekretaris Tim), Pdt. Abdul Hutauruk, M.Th (Kadep Pastorat/Ketua Tim), Ev. Dr. Ferdinand Nainggolan (Anggota Tim), Pdt. Ro Sininta Hutabarat, M.Th (Sekjen GKPI), Dra. Tetty Aritonang (Anggota Tim), Dr. Dearlina Sinaga (Anggota Tim) dan Pnt. Ir. Saut Siahaan, M.Kes (Anggota Tim).

Anggota Tim yang juga  hadir tetapi tidak ikut dalam Foto adalah Pnt.Ir. Saut Hutagalung, MSc. 

Pokok bahasan dalam Rapat ini adalah Strategi Evaluasi  dan Implementasi Percepatan Renstra GKPI

VISI-MISI GKPI 2015-2030

VISI
MENJADI PERSEKUTUAN PENYEMBAHAN DAN PERSEMBAHAN

MISI
Dalam rangka mendukung Visi GKPI maka Misi GKPI dijabarkan dalam Panca Pelayanan GKPI:

1. Koinonia (Persekutuan) 
GKPI terpanggil untuk membangun  persekutuan sebagai bagian dari Gereja yang Esa, Kudus dan AM serta Rasuli  yang dikiaskan sebagai tubuh Kristus. Persekutuan itu nampak dalam persekutuan Jemaat,  antar jemaat dan sesama dalam masyarakat yang mencerminkan kasih Kristus.

2. Marturia (Kesaksian)
GKPI terpanggil untuk mewujud-nyatakan syalom Allah sebagai berita kesukaan yang utuh dan menyeluruh untuk segala makhluk dalam keutuhan ciptaan.

3. Diakonia (Pelayanan)
GKPI terpanggil untuk mewujud-nyatakankasih Allah kepada sesama manusia secara utuh dan menyeluruh.

4. Liturgia (Ibadah)
GKPI terpanggil untuk melaksanakan "Ibadah Sejati" dal;am seluruh kehidupan untuk memuliakan Allah.

5. Oikonomia ( Penatalayanan )
GKPI terpanggil untuk melaksanakan tugas memelihara dan megelola dunia cipataan Allah dengan bijaksana dan adil serta bertanggungjawab kepada Allah. Dalam tugas mengelola semua ciptaan sebagai rumah tangga Allah,  Gereja membutuhkan sistem kelembagaan yang handal dalam rangka optimalisasi pelayanannya bagi kemuliaan Allah.


Tahun 2018 ini bagi GKPI merupakan tahun "MEMBENTUK CITRA POSITIF GKPI" . ada 6 hal yang menjadi perhatian dan yang akan dicapai dalam tahun ini yaitu:
  1. GKPI bersaksi tentang Yesus Kristus di dunia ini
  2. GKPI yang terbuka, dinamis, dialogis, kristis, kreatif dan realistis
  3. Kebenaran dan keteladanan adalah prinsip utama dalam GKPI
  4. Gereja yang bersahabat dan perduli
  5. Gembala harus menjadi teladan bagi jemaatnya
  6. Dorongan dan pendampingan gembala pada jemaat yang harus dilakukan dalam kondisi konsistensi yang kuat dan berkelanjutan.
Apa yang akan GKPI capai dalam tahun 2018 ini bukan semata-mata untuk pencitraan, bukan semata-mata mau memuliakan nama GKPI, tetapi apa yang sudah dicapai selama ini lewat pelayanan, sudah seharusnya menghantarkan GKPI kepada citra yang benar sebagai Gereja masa kini yang menyiapkan. menghadirkan, dan mengutus setiap jemaatnya sebagai jemaat yang menyadari dirinya sebagai gambar dan rupa Allah yang harus berbuah serta menjadi garam dan terang dunia.

Salam.

Baca juga: tentang "Departemen Apostolat GKPI"