Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan November bagi kita sekalian. Pada bulan November ini kita kembali akan memperingati 10 November, yaitu peringatan hari pahlawan di tengah-tengah bangsa dan negara kita. Kemudian sesuai dengan kalender gerejawi kita akan memasuki sebuah Minggu yaitu Minggu Akhir Tahun Gerejawi setelah itu kita akan memasuki minggu-mingu Advent. Marilah kita menjalaninya dengan pemahaman bahwa segala aktivitas yang kita lakukan di dalamnya Tuhan turut bekerja untuk melakukan yang terbaik bagi umat-Nya. Di samping itu kita pun tidak boleh lupa akan tugas panggilan kita untuk memberitakan Injil sebab Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan. Untuk itulah tema bulanan GKPI pada November 2018 sebagaimana dalam Almanak GKPI, yaitu: “Memberitakan Injil kepada semua mahluk” yang didasarkan pada terang nas Matius 16:15: “Lalu Ia berkata kepada mereka: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk" Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini semakin diberkati oleh Tuhan dan dikuatkan oleh Tuhan untuk memberitakan Injil-Nya. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI,Senin, 19 November 2018


BERHARAP HANYA PADA TUHAN
“Aku tahu, bahwa TUHAN akan memberi keadilan kepada orang tertindas, dan membela perkara orang miskin.” (Mazmur 140:3).

                Sekeliling kita ada orang jahat. Seperti yang dikatakan sebuah ungkapan “Serigala berbulu domba”. Jika dalam pergaulan sehari-hari dia memperlihatkan sisi baiknya, yang cipika cipiki, senyum dermawan. Namun di sisi lain dia adalah serigala yang hendak memangsa buruannya. Orang seperti ini pada awalnya sulit kita kenali, karena dia berkamuflase sebagai seorang yang bijaksana, berhikmat namun nyatanya dia adalah serigala berbulu domba.
                Pemazmur merasakan bahwa dirinya sedang berada dalam cengkraman si jahat, yang selalu berupaya mencari-cari kesalahannya. Lolos dari kesalahan yang satu, dicarinya lagi kesalahan yang lain. Tidak dapat langsung mengenai sasaran, ia pun mengambil jalan melingkar dengan mencoba mencelakakan orang-orang di sekitar si pemazmur.  Hal-hal seperti ini membuat beberapa orang yang menyatakan diri sebagai pengikut Kristus akan mengalami lemah iman. Karena dalam benaknya ada pemahaman bahwa orang yang takut akan Tuhan tidak akan mengalami peristiwa kejahatan. Ternyata semua orang tak terkecuali orang percaya atau pun tidak sama-sama mengalami peristiwa kejahatan. Hal yang membedakannya adalah orang percaya memiliki pengharapan dan mengandalkan Tuhan, sedangkan orang yang tidak percaya akan mengandalkan diri sendiri atau orang lain. Pengandalan kepada orang lain akan mendatangkan kekecewaan. Mengandalkan Tuhan akan mendatangkan sukacita.
                Pengharapan itulah yang ditanamkan oleh Pemazmur dalam dirinya dan juga kepada pembaca bahwa di dalam Tuhan ada pengharapan. Di dalam Tuhan ada keadilan.  Apa makna dari ungkapan ini dalam hidup kita? Maknanya adalah diharapkan kita akan tetap setia kepada Tuhan walau kita mengalami penindasan. Penindasan yang kita alami tidak akan membuat kita berpaling dari Tuhan. Alkitab telah mencatat akan kehidupan orang-orang percaya yang awalnya mengalami penindasan akhirnya dia menjadi berkat. Salah satunya adalah Yusuf, anak Yakub. Dia mengalami ketidakadilan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya. Tidak hanya itu saja dia pun diperdagangkan bagaikan budak, dipenjara hingga akhirnya menjadi orang nomor dua di Kerajaan Mesir. Sekilas kita hanya melihat yang manisnya saja, tidak melihat bagaimana perjalanan hidupnya yang menghadapi onak dan duri. Oleh karena itu Firman hari ini mendorong kita untuk tetap setia dan berharap kepada Tuhan.                                                                                                        (HUM)

DOA: Bapa Sorgawi, ajarlah kami untuk tetap dalam pengharapan bahwa Engkau beserta kami dalam menjalani hidup yang penuh onak dan duri ini. Amin.

Kata-kata Bijak:
Berharaplah kepada Tuhan yang setia menyertai hidup kita.


Renungan Harian Terang Hidup GKPI,Minggu, 18 November 2018


MENGALAH UNTUK MENANG
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian
dengan semua orang!”  (Roma 12:18).

                Cerita ini mungkin sudah terkenal, yaitu cerita antara dua orang sahabat yang sedang berdebat tentang hasil perkalian. Ceritanya tidak persis seperti yang saya sampaikan ini, namun alur ceritanya hampir sama. Perdebatan mereka itu hampir berujung kepada saling mencelakakan. Sebutlah namanya si Anto dan si Andi. Mereka memperdebatkan hasil perkalian 3 x 4. Si Anto menjawab 12 sedangkan si Andi menjawab 7. Karena mereka tidak memiliki kesepakatan tentang siapa yang benar dan yang salah dan saling memegang pendapatnya, akhirnya mereka pun berusaha mencari  penengah dengan perjanjian jika si Anto benar maka si Andi  memilih untuk tangannya dipotong, dan jika si Andi benar maka si Anto memilih untuk dicambuk dengan rotan sebanyak 12 kali.  Mereka pun pergi ke pada juru penengah dan menceritakan apa hukuman jika salah satu dari antara mereka benar. Si juru penengah pun membenarkan si Andi dengan jawaban 3 x 4 = 7. Akhirnya si Anto mendapat cambukan rotan sebanyak 12 kali. Setelah si Andi pergi maka si Anto pun protes kepada si juru penengah dengan mengatakan bahwa dialah yang benar. Si juru penegah pun menjawab memang kamu benar tetapi jika kamu saya benarkan maka si Andi akan kehilangan tangannya dan dia tidak akan dapat bekerja lagi.  Si juru penegah mengajarkan kepada si Anto untuk mengalah agar tidak mencelakakan orang lain.
                Hidup seperti inilah yang sesungguhnya perlu kita hidupi di dalam kehidupan kita, yaitu bagaimana mengurangi dampak dari kejahatan atau perbedaan yang terjadi. Kebenaran tentu harus diungkapkan. Namun apakah hal tersebut harus dipaksakan? Apakah nyawa harus diganti dengan nyawa?  Yesus Kristus memberi kita keteladanan bagaimana Dia menyelamatkan kita yang seharusnya kitalah yang harus mati oleh karena dosa. Yesus Kristus hadir dan menyatakan upah dosa adalah maut. Namun upah tersebut tidak dikenakan serta merta kepada manusia, tetapi Dialah yang mengambil tempat itu menjadi korban di kayu salib. Yesus memilih bahwa hanya melalui kematianlah Dia menyelamatkan manusia dari hukum dosa.
                Lalu bagaimana hal ini kita terapkan dalam kehidupan kita. Terkadang perselisihan kecil bisa menjadi persoalan yang besar oleh karena seseorang. Misalnya tentang tawuran. Tawuran umumnya dipicu masalah sepele, seperti saling ejek, atau salah seorang dari anggota geng tersebut dicolek. Namun karena dia mengadu ke kelompoknya dan memprovokasi kelompoknya maka terjadilah perkelahian yang besar. Dalam gereja pun bisa seperti itu. Oleh sebab itu kita perlu belajar dari Yesus, bagaimana mengelola konflik dengan baik menuju damai.  Saudara, jadilah kita sebagai pembawa damai.                (HUM)

DOA: Terimakasih Tuhan atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk menjadi pembawa damai. Amin.
Kata-kata Bijak:
Jadilah pembawa damai dalam lingkunganmu.


BERITA DALAM FOTO...






Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.

Artikel Rohani

OKULTISME SEBAGAI TANTANGAN GEREJA
Pdt. Humala Lumbantobing, MTh

Akhir-akhir ini kita masih dikejutkan dengan isu-isu Begu Ganjang (har., hantu yang panjang) yang terjadi di beberapa daerah. Isu-isu tersebut nampaknya membuat masyarakat cemas dan takut sebab isu tersebut sering berekpansi ke berbagai daerah  dan nampaknya hal tersebut sulit dibendung. Sebenarnya isu tersebut sudah ada sejak lama di Tanah Batak atau Sumut khususnya. Sebelum masuknya kekristenan ke tanah Batak begu (hantu) yang satu ini ........baca selanjutnya......

Artikel Rohani

INTEGRITAS KRISTIANI
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th 


                Kata “ integritas” sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Dalam pemilihan seorang pemimpin di sebuah organisasi  beberapa pertanyaan yang sering muncul: “Siapa pemimpin yang memiliki integritas?”, “Apakah calon Kepala Daerah itu memiliki integritas?” atau “Integritas seperti apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin?” Bukan hanya itu, dalam lingkungan pekerjaan pun sering dipertanyakan: “Apakah karyawan itu memiliki integritas?” Baca Selanjutnya...... 

Artikel Rohani...



HUBUNGAN IMAN DAN KESEHATAN
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th

Hidup sehat adalah dambaan semua orang. Sebab dengan tubuh yang sehat maka kita dapat melakukan segala aktivitas dengan baik. Hidup sehat membuat segalanya indah, di mana kita bisa bekerja dengan maksimal,  bergaul dengan semua orang dan menikmati hidup sebagai anugerah Tuhan. Sebaliknya tubuh yang........Baca selanjutnya di sini......

Artikel Rohani...

MENJADI SESAMA BAGI SEMUA ORANG
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th

Menjadi sesama bagi semua orang  adalah suatu cita-cita yang luhur dalam rangka mewujudkan kerukunan antara sesama di tengah masyarakat pluralis. Kerinduan ini sangat perlu dikembangkan oleh umat percaya sebab kita menyadari manusia di bumi ini diciptakan oleh Tuhan sungguh berbeda baik secara etnis, agama, ras  dan budaya. Perbedaan seperti itu kalau tidak disikapi dengan pikiran positip akan mengarah kepada persaingan, sikap menutup diri dan yang paling parah menganggap orang lain menjadi musuh. Sikap ekslusif yang dipelihara terus-menerus akan selalu mengagungkan kelompok sendiri dengan “kita”, sementara yang di sana itu “mereka”  (bukan kita),  sehingga terjadilah tembok-tembok pemisah. Kenyataannya kita hanya berinteraksi dengan kelompok kita sendiri dan mementingkan kelompok sendiri. Dalam kesusahan kita hanya menolong kelompok kita sendiri, yang nota bene satu warna, kelas, darah dan asal-usul (kedaerahan). Hidup kita menjadi egois dan tidak peduli dengan nasib sesama.

KEMBALI KEPADA PANGGILAN

Untuk mengatasi sikap egois yang kian mencuat dan yang tidak mempedulikan sesama, dan dalam rangka menuju kerukunan dan harmoni di tengah masyarakat nampaknya  kita harus kembali merenungkan panggilan  kita  di tengah-tengah masyarakat pluralis. Sebagai orang percaya Allah memanggil kita untuk menjadi berkat bagi semua orang. Dalam hal ini tokoh panutan kita adalah Abraham. TUHAN memanggil Abraham dari Ur-Kasdim, harus meninggalkan saudaranya, rumah bapanya dan  pergi ke Tanah Perjanjian untuk menjadi berkat di sana. TUHAN mengatakan, “Pergilah....dan olehmu semua kaum di muka bumi akan menjadi berkat.” (lihat Kej.12:1-3). Dengan dasar ini panggilan umat percaya adalah menjadi berkat bagi semua orang. Tanah Perjanjian (Tanah Kanaan) itu ternyata dihuni oleh berbagai suku bangsa, yaitu orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus (Kej.15:19). Itu berarti bahwa Abraham harus berinteraksi dengan semua suku bangsa itu tanpa pandang bulu. Dia harus bergaul dengan mereka, membangun persahabatan,  memperbaharui hidup mereka, terlebih supaya semua bangsa itu mengenal Allahnya bangsa Israel.
Pemahaman dasar tersebut dalam Perjanjian Baru justru semakin ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit, “Kamu adalah garam dunia”, dan “Kamu adalah terang dunia” (Mat.5:13-14). Umat percaya terpanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Sebagai garam, kita berfungsi untuk membuat orang lain merasa diberkati, merasa tenteram, merasa didukung, dipuji dan diuntungkan. Di sini kehadiran orang percaya harus mempunyai manfaat bagi sesamanya di mana pun dan kapan pun. Kita harus menjadi sesuatu bagi orang lain. Orang percaya adalah untuk semua orang (We are for all). Lalu sebagai terang orang percaya harus bercahaya di tengah-tengah kegelapan.  Banyak orang masih tinggal dalam ikatan atau kungkungan kegelapan, maka fungsi orang percaya harus menjadi terang di sana. Yesus berkata: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat.5:16). Sikap orang percaya tidak mengutuki kegelapan, tetapi menebarkan berkas-berkas cahaya di tengah kegelapan itu.
Untuk menjadi sesama bagi semua orang, teladan Orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37) juga menjadi dasar yang sangat penting dalam mengembangkan persaudaraan (brotherhood). Dalam konteks itu sikap orang samaria yang baik hati  memberikan gambaran jelas tentang cara pandang kita terhadap sesama. Yesus mengubah paradigma para ahli taurat dari siapakah sesamaku manusia menjadi  siapakah aku bagi sesamaku manusia. Yesus menunjukkan  bahwa kita semua adalah saudara dan sesama (We are brothers and sisters).  Kita adalah sama-sama manusia yang tinggal di bumi ini. Kita adalah sesama manusia yang menghirup udara yang sama. Dengan kata lain, bagi Yesus ’tidaklah penting’ siapakah sesama kita, baik mereka orang miskin atau kaya, baik mereka saudara sedarah atau tidak, baik mereka satu daerah dengan kita atau tidak, baik mereka satu negara dengan kita atau tidak. Yang terpenting bagi Yesus adalah apakah kita mau hidup sebagai saudara dan sesama bagi yang lain atau tidak. Jangan tanyakan siapakah saudaraku yang perlu kita tolong (sebab banyak orang yang menderita yang harus kita tolong),  tetapi tanyakanlah, siapakah aku bagi sesamaku. Sebab untuk menolong atau berbagi dengan sesama, pintu hati kitalah yang pertama sekali harus terbuka.

MEMBANGUN SOLIDARITAS BAGI SESAMA
 
           Dengan menyadari panggilan, “menjadi sesama” bagi saudara yang lain, maka kini kita disegarkan kembali untuk membangu solidaritas bagi semua orang, terutama bagi mereka yang menderita, tertindas dan sengsara. Semua kita menyaksikan bahwa bencana-bencana alam masih sering terjadi di negara kita, gempa bumi, banjir, tsunami, gunung meletus, kebakaran, dan dampak teror-teror bom. Bagaimana orang percaya menyikapi semua kejadian-kejadian ini?  Di samping itu dalam kehidupan sehari-hari kita bertemu dan menghadapi berbagai macam orang dari berlatar belakang suku, agama dan ras. Kita melihat kelompok-kelompok yang mengasingkan diri, kelompok yang memunculkan sikap arogansi, kelompok mayoritas dan minoritas, penduduk pribumi dan non-pribumi. Bagaimanaklah seharunya orang percaya hidup di tengah pluralisme seperti itu? Berangkat dari dasar teologis yang diuraikan di atas, sikap orang percaya yang aktual pada masa kini adalah:  
 
Pertama, orang percaya harus menjadi berkat bagi semua orang sebab itulah panggilan kita. Dalam hal ini umat percaya harus berusaha menciptakan kedamaian, kerukunan, kesejahteraan dan keteduhan bagi orang lain.  
 
Kedua, orang-orang percaya harus menghargai perbedaan, malah perbedaan itu indah. Sekalipun berbeda kita tetap satu (Diversity in unity) di dumi yang diciptakan oleh Tuhan.  Paulus mengatakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang meredeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus.” (Gal.3: 27-28). 
 
Ketiga, orang pecaya harus berdoa syafaat bagi semua orang. Paulus menasihatkan, “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada All;ah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang benar akan kebenaran.” (1 Tim.2:1-4). Kuasa doa orang percaya sangat penting untuk membawa pembaharuan  yang berguna bagi sesama. Akhirnya  dengan penyertaan Tuhan, marilah kita meningkatkan solidaritas bagi sesama, kerukunan antar sesama dan saling menghormati di tengah bangsa dan negara kita yang majemuk ini.
Shalom....

ARSIP BERITA DALAM FOTO

FOTO: Workshop Kepala Departemen   Gereja Anggota UEM Asia




Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.




Foto TIM RENSTRA GKPI:


Rapat Perdana Tim Evaluasi dan Implementasi Percepatan Renstra GKPI telah dilaksanakan dengan baik, Senin, 16 Januari 2018 di Wisma PWKI, Medan. 

Tampak dalam Foto, Ki-Ka: Pdt. Raden Samosir, S.Th (Kadep Diakonat/Anggota Tim), Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th (Kadep Apostolat/Sekretaris Tim), Pdt. Abdul Hutauruk, M.Th (Kadep Pastorat/Ketua Tim), Ev. Dr. Ferdinand Nainggolan (Anggota Tim), Pdt. Ro Sininta Hutabarat, M.Th (Sekjen GKPI), Dra. Tetty Aritonang (Anggota Tim), Dr. Dearlina Sinaga (Anggota Tim) dan Pnt. Ir. Saut Siahaan, M.Kes (Anggota Tim).

Anggota Tim yang juga  hadir tetapi tidak ikut dalam Foto adalah Pnt.Ir. Saut Hutagalung, MSc. 

Pokok bahasan dalam Rapat ini adalah Strategi Evaluasi  dan Implementasi Percepatan Renstra GKPI

VISI-MISI GKPI 2015-2030

VISI
MENJADI PERSEKUTUAN PENYEMBAHAN DAN PERSEMBAHAN

MISI
Dalam rangka mendukung Visi GKPI maka Misi GKPI dijabarkan dalam Panca Pelayanan GKPI:

1. Koinonia (Persekutuan) 
GKPI terpanggil untuk membangun  persekutuan sebagai bagian dari Gereja yang Esa, Kudus dan AM serta Rasuli  yang dikiaskan sebagai tubuh Kristus. Persekutuan itu nampak dalam persekutuan Jemaat,  antar jemaat dan sesama dalam masyarakat yang mencerminkan kasih Kristus.

2. Marturia (Kesaksian)
GKPI terpanggil untuk mewujud-nyatakan syalom Allah sebagai berita kesukaan yang utuh dan menyeluruh untuk segala makhluk dalam keutuhan ciptaan.

3. Diakonia (Pelayanan)
GKPI terpanggil untuk mewujud-nyatakankasih Allah kepada sesama manusia secara utuh dan menyeluruh.

4. Liturgia (Ibadah)
GKPI terpanggil untuk melaksanakan "Ibadah Sejati" dal;am seluruh kehidupan untuk memuliakan Allah.

5. Oikonomia ( Penatalayanan )
GKPI terpanggil untuk melaksanakan tugas memelihara dan megelola dunia cipataan Allah dengan bijaksana dan adil serta bertanggungjawab kepada Allah. Dalam tugas mengelola semua ciptaan sebagai rumah tangga Allah,  Gereja membutuhkan sistem kelembagaan yang handal dalam rangka optimalisasi pelayanannya bagi kemuliaan Allah.


Tahun 2018 ini bagi GKPI merupakan tahun "MEMBENTUK CITRA POSITIF GKPI" . ada 6 hal yang menjadi perhatian dan yang akan dicapai dalam tahun ini yaitu:
  1. GKPI bersaksi tentang Yesus Kristus di dunia ini
  2. GKPI yang terbuka, dinamis, dialogis, kristis, kreatif dan realistis
  3. Kebenaran dan keteladanan adalah prinsip utama dalam GKPI
  4. Gereja yang bersahabat dan perduli
  5. Gembala harus menjadi teladan bagi jemaatnya
  6. Dorongan dan pendampingan gembala pada jemaat yang harus dilakukan dalam kondisi konsistensi yang kuat dan berkelanjutan.
Apa yang akan GKPI capai dalam tahun 2018 ini bukan semata-mata untuk pencitraan, bukan semata-mata mau memuliakan nama GKPI, tetapi apa yang sudah dicapai selama ini lewat pelayanan, sudah seharusnya menghantarkan GKPI kepada citra yang benar sebagai Gereja masa kini yang menyiapkan. menghadirkan, dan mengutus setiap jemaatnya sebagai jemaat yang menyadari dirinya sebagai gambar dan rupa Allah yang harus berbuah serta menjadi garam dan terang dunia.

Salam.

Baca juga: tentang "Departemen Apostolat GKPI"



DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI


A. PENDAHULUAN
            Departemen Apostolat GKPI adalah salah satu dari tiga Departemen yang ada di GKPI yang didasarkan kepada PRT 66:2.  Departemen adalah alat kelengkapan Pimpinan Sinode GKPI dalam melaksanakan tri-tugas panggilan Gereja (PRT 66:1).  Istilah “apostolat (apostolate, Ing.)” berasal dari bahasa Yunani, “apostole” (art.: utusan). Tetapi kata “apostolat” itu sendiri menunjuk kepada jabatan atau tugas seorang rasul.  Dalam Perjanjian Baru apostolat ditujukan kepada kedua belas murid Yesus termasuk Paulus. Berkaitan dengan Gereja, apostolat itu sendiri menunjuk kepada hakikat kerasulan Gereja untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada semua orang dan semua mahluk.
            Bagaimanakah GKPI memahami tugas panggilan Apostolat? Pemahaman Apostolat telah tertuang dalam TG-GKPI II:2 yaitu bahwa GKPI bertujuan untuk memberitakan Injil dengan pengamalan dan pelayanan berdasarkan kasih setia Allah Bapa, Anugerah dari Tuhan Yesus Kristus, dan persekutuan dari Roh Kudus supaya nama Allah dipermuliakan dan manusia berdosa dalam penebusan Yesus Kristus menjadi pewaris Kerajaan Allah, sesuai dengan rencana keselamatan Allah: “Supaya orang percaya beroleh kehidupan yang kekal.” (Yoh.3:16). Secara praktika GKPI memahami tugas panggilannya dalam bidang Apostolat adalah memberitakan Firman Allah: menyelenggarakan peribadatan, melayankan sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus, menahbiskan pelayan-pelayan Gereja, melakukan pemberitaan Injil dan penegakan ajaran yang benar (Mat.26:26; 28:18-20). 1

B. BIDANG-BIDANG DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI
            Didasarkan kepada hakikat Apostolat dan tugas panggilan di bidang Apostolat maka Departemen Apostolat GKPI di bagi ke dalam 6 (enam) bidang, yaitu: 1) Bidang Pemberitaan Firman, Sakramen dan Ajaran. 2) Bidang Komisi Teologi. 3) Bidang Peribadatan/Liturgi.  4) Bidang Musik Gerejawi/Koor/Nyanyian.  5) Bidang Pekabaran Injil. 6) Bidang Oikumenis dan Kemitraan.

1.     Bidang Pemberitaan Firman, Sakramen dan Ajaran (PFSA)
       Pemberitaan Firman dan Pelayanan Sakramen adalah bagian tugas Gereja yang sangat penting. Menurut Tradisi Lutheran bahwa tanda Gereja yang benar adalah di mana Firman Tuhan diberitakan dan sakramen dilayankan. Dalam hal ini kemurnian pemberitaan Firman Tuhan harus tetap dijaga, yakni bersumber dari Alkitab, sesuai dengan semboyan Reformasi: “Sola Scriptura” (Hanya Alkitab sumber ajaran yang benar). Pemberitaan Firman Tuhan dan kesaksian atas perbuatan kasih dan karya keselamatan Allah adalah hal yang terpenting dan terutama, bukan perbuatan si pemberita ataupun orang lain. Pemberitaan Firman Tuhan dilakukan secara lisan: melalui khotbah di dalam Ibadah Umum, pembacaan Alkitab dan renungan singkat di dalam ibadah khusus (termasuk ibadah rumah tangga), persekutuan Penelaahan Alkitab, siaran radio dan televisi dan percakapan sehari-hari. Pemberitaan Firman Tuhan juga dilakukan melalui tulisan: di dalam dan melalui buku, Renungan Harian Terang Hidup,  Suara GKPI, majalah/warta jemaat dan surat-surat penggembalaan. Untuk periode 2015-2020 GKPI perlu mengerjakan program-program bagaimana untuk meningkatkan kualitas khotbah di GKPI.
      Selanjutnya tentang Sakramen, yaitu Sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus. GKPI mengakui bahwa kedua sakramen tersebut didasarkan atas penetapan Tuhan Yesus Kristus untuk dilaksanakan oleh murid-murid-Nya. Baptisan Kudus adalah sakramen yang ditetapkan oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai tanda pengampunan dan anugerah hidup yang baru serta jaminan untuk memperoleh janji keselamatan dari Tuhan (Rm.6:2-10). Kemudian Perjamuan Kudus adalah sakramen yang ditetapkan Tuhan Yesus yang didasarkan atas peristiwa perjamuan malam yang dilakukan Yesus bersama-sama murid-murid-Nya. Perjamuan Kudus dilaksanakan dan dirayakan untuk mengingat pengorbanan Yesus Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya. Tuhan menetapkan Perjamuan Kudus itu dengan unsur-unsur roti dan anggur sebagai tanda dari tubuh dan darah-Nya.
      Berkaitan dengan Sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus, beberapa program yang dapat dilakukan oleh GKPI adalah: 1) Agar GKPI terus-menerus mensosialisasikan arti dan makna Sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan kudus kepada warga jemaat dan secara khusus kepada para pelajar sidi. Sosialisasi yang dimaksud bisa berupa pengajaran/pembinaan, penerbitan buku, traktat sederhana atau melalui media elektronik. Arti dan makna Sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus tersebut harus mengacu kepada ajaran Lutheran, seperti Katekhimus Kecil Dr. Marthin Luther, Konfesi Augsburg dan Pokok-pokok Pemahaman Iman GKPI (P3I-GKPI). 2) Perlunya pelayanan Sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus yang seragam di GKPI.  3) Setiap jemaat GKPI agar mempersiapkan dengan baik alat-alat yang diperlukan untuk pelayanan kedua sakramen tersebut.
      Selanjutnya di bidang Ajaran, GKPI telah memiliki Pokok-pokok Pemahaman Iman (P3I)-GKPI, yaitu uraian sistematis tentang pemahaman iman GKPI yang menjadi pedoman bagi seluruh jemaat GKPI dalam mengungkapkan dan merefleksikan imanya di tengah-tengah konteks. Untuk itu program yang dapat dilakukan GKPI dalam hal ini adalah sosialiasi tentang P3I-GKPI kepada seluruh pelayan dan anggota jemaat GKPI. Pemahaman yang kuat dan dalam tentang P3I-GKPI akan membuat anggota jemaat tidak mudah diombang-ambingkan rupa-rupa pengajaran yang menyesatkan.

2.     Bidang  Komisi Teologi (KT)
GKPI sebagai salah satu tubuh Kristus di Indonesia hadir dan terpanggil di tengah-tengah masyarakat yang sedang berubah dan yang sedang menghadapi masalah di berbagai aspek sesuai dengan perkembangan dan proses modernisasi. Dalam konteks itu GKPI terpanggil untuk menyampaikan suara kenabiannya melalui berteologi sehingga Firman Tuhan yang disampaikan betul-betul menyentuh, relevan dan mampu menjawab masalah-masalah yang ada. Dalam usaha berteologi dalam konteks tersebut GKPI memandang perlu adanya Komisi Teologi  yang bertugas mengamati teologi yang sedang berkembang di masyarakat di tingkat nasional, regional dan internasional. GKPI juga perlu mengembangkan teologi yang relevan di tengah-tengah konteks yang sedang di hadapi oleh jemaat sehingga warga jemaat tidak mudah diombang-ambingkan oleh arus zaman. Dalam rangka itu tugas Bidang Komisi Teologi adalah:
  1. Mengamati kecenderungan peristiwa-peristiwa yang terjadi dan isu-isu yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat dari sudut pandang teologi.
  2. Mengadakan seminar, lokakarya dan konsultasi teologi untuk menyikapi isu-isu yang sedang terjadi.
  3. Mengkaji teologi yang berhubungan dengan dokumen-dokumen GKPI, seperti: P3I-GKPI, Penggembalaan, Liturgi, dll.
  4. Memberikan masukan-masukan kajian teologis kepada BPRP-GKPI untuk dibahas dalam Rapat Pendeta.
  5. Memberikan informasi tentang kajian-kajian teologis melalui penerbitan Journal Teologi di GKPI.
3.     Bidang Peribadatan/Liturgi (PL)
Peribadatan pada hakikatnya adalah penyembahan, pemujaan dan pengabdian kepada Tuhan atau persekutuan manusia dengan Tuhan dan dengan sesamanya manusia. Manusia beribadah kepada Tuhan di dalam dan melalui gerak hidup dan kegiatannya. Sedangkan liturgi diartikan sebagai pertemuan, pelayanan, kebaktian.
Ibadah mencakup unsur-unsur: pemberitaan Firman, doa, nyanyian/pujian, pernyataan iman dan persembahan syukur. Namun sesuai dengan ajaran Reformator, Marthin Luther bahwa semua ibadah di lingkungan Gereja Protestan berpusat pada pemberitaan Firman. Karena itu pada setiap peribadatan GKPI, yang bersifat formal dan umum maupun non-formal dan khusus (termasuk ibadah rumah tangga), pemberitaan Firman harus menempati kedudukan sentral, tanpa mengabaikan atau mengurangi nilai unsur-unsur ibadah lainnya.
Penyelenggaraan peribadatan tidak hanya pada hari Minggu tetapi juga diselenggarakan pada hari-hari lain, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing unit dan kategori persekutuan, mulai dari tingkat Jemaat hingga Sinode, dari kategori Sekolah Minggu, Remaja, Perempuan, Pria dan Lansia (bnd. 1 Tim.4:7-8). 
Visi GKPI yang didasarkan kepada Renstra GKPI 2015-2030 menyebutkan: “Menjadi Persekutuan Penyembahan-Persembahan Pada Tahun 2030.” Untuk mewujudkan visi ini seluruh warga GKPI terpanggil untuk semakin sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Kiranya dalam periode ini GKPI akan terus berupaya untuk meningkatkan penyembahan-persembahan kepada Tuhan. Sehubungan dengan itu program yang perlu dikerjakan oleh GKPI yang berkaitan dengan peribadahan/liturgi adalah: 1) Membina dan membimbing warga jemaat agar memahami arti dan makna ibadah sebagai persekutuan dengan Tuhan dan dengan sesama, dan mendorong warga jemaat untuk rajin menghadiri dan mengikuti ibadah jemaat dan melaksanakan ibadah keluarga dengan baik. 2) Secara berkelanjutan membina dan mempersiapkan para pemimpin Ibadah dan Pemberita Firman. 3) Mensosialisasikan Buku Tata Ibadah GKPI hasil SAK XIX 2013 khususnya model-model Tata Ibadah yang ada di dalamnya. 4) Membenahi dan memperlengkapi sarana dan prasarana ibadah: rumah ibadah, perlengkapan ibadah, alat-alat sakramen, jubah pelayan, sound-system, alat-alat musik, stola, dll. 5) Melaksanakan penyeragaman terhadap pelaksanaan liturgi dan penyeragaman alat-alat peribadahan di GKPI.

4.     Bidang Musik Gerejawi/Nyanyian/Koor (MGKN)
Di samping pemberitaan Firman, salah satu unsur yang sangat penting dalam Ibadah adalah Nyanyian Gereja berikut dangan Musiknya. GKPI diharapkan untuk terus menggali dan mengembangkan nyanyian dan musik  Gereja yang berasal dari kekayaan rohani dan budaya Indonesia, baik nyanyian dan musik untuk jemaat umum maupun untuk kelompok vocal dan paduan suara, mulai dari tingkat anak-anak hingga dewasa.  Maksud tersebut akan diupayakan secara sendiri maupun bersama-sama dengan gereja atau badan-badan gerejawi lainnya, misalnya: Yayasan Musik Gerejawi Indonesia (Yamuger) dalam hal pengadaan nyanyian dan alat musik
Mengingat nyanyian adalah salah satu unsur penting dalam Ibadah, juga sebagai sarana untuk menyaksikan karya perbuatan Tuhan serta penguatan dan penghiburan bagi jemaat, maka pada Periode 2015-2020 ini Bidang MGKN-GKPI akan melakukan beberapa program, a.l.: 1) Merampungkan Buku Nyanyian Jemaat (BNJ)-GKPI yang telah terbit pada Tahun 2015 sebagai Edisi Percobaan. 2) Menggalakkan pembinaan-pembinaan (pelatihan) tentang nyanyian, koor, song leaders, dirigen dan musik di setiap jemaat dan resort. 3) Mengadakan pertemuan para musisi GKPI  untuk menggali potensi dan menyatukan persepsi bagaimana memajukan bidang nyanyian dan musik dalam peribadahan GKPI. 4) Melaksanakan Pesparawi se-Indonesia dalam rangka membangun dan potensi/bakat bernyanyi warga jemaat GKPI.  5) Mensosialisasikan Lagu MARS-GKPI kepada warga jemaat GKPI. (Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam rangka pengembangan nyanyian untuk menunjukkan jati diri GKPI, maka mulai Tahun 2013 yang lalu GKPI telah memiliki MARS GKPI Ciptaan Drs. Bonar Gultom. Mars GKPI tersebut telah disosialisasikan sejak Sinode Am Kerja XIX 2013, Yubileum 50 Tahun GKPI 2014  dan juga telah disosialisasikan ke jemaat-jemaat). 6) Dalam periode ini GKPI akan terus meningkatkan untuk kualitas musik dan nyanyiannya dalam rangka mewujudkan visi GKPI sebagai persekutuan penyembahan dan persembahan kepada TUHAN.  

5.     Bidang Pekabaran Injil (PI)
      Pekabaran Injil adalah pewartaan kabar baik, berita sukacita, anugerah, pengampunan dosa, keselamatan, hidup baru dan kehidupan kekal yang tersedia dalam Yesus Kristus, yang diperuntukkan bagi semua orang, segala bangsa, segala mahluk dan seluruh dunia. Pekabaran Injil itu sendiri adalah tugas pengutusan Allah (Mission Dei) di tengah-tengah dunia ini, dalam hal ini adalah dalam rangka mewujudkan misi Allah secara holistik. Namun secara spesifik Pekabaran Injil dalam istilah “evangelisasi” adalah pemberitakan kabar keselamatan dan panggilan untuk bertobat bagi mereka yang belum mendengar dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dalam hal ini Amanat Agung Tuhan Jesus (Mat. 28:19-20) menjadi dasar yang sangat penting bagi GKPI dalam Pekabaran Injil.
      Pekabaran Injil pada hakikatnya adalah tugas semua orang percaya, yakni seluruh warga dan pelayan Gereja, termasuk GKPI. Oleh karena itu program yang perlu terus dikerjakan oleh GKPI yang berkaitan dengan Pekabaran Injil adalah: 1) Membina dan memperlengkapi warga Jemaat dan pelayan untuk memampukan mereka menjadi pekabar Injil di lingkungan kerja dan tempat tinggal  mereka masing-masing. 2) Dalam konteks masyarakat yang pluralis di Indonesia, para pelayan dan warga jemaat diperlengkapi dengan pemahaman Injil yang holistis sehingga pemberitaan Injil tidak hanya verbalistis (dengan kata-kata) tetapi juga melalui program pelayanan kasih secara nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat. 3) Mempersiapkan, membekali dan menahbiskan evangelis untuk di tempatkan di pos-pos Pekabaran Injil, dan juga dalam perintisan Gereja baru di daerah-daerah yang terisolir/terpencil di mana belum ada Gereja; dan juga dalam konteks penginjilan di tengah-tengah masyarakat modern dan pluralis. 4) Mengembangkan dan memperkuat Kelompok Kerja (Pokja) Pekabaran Injil untuk membukat Pos-pos PI yang baru. 5) Untuk membangkitkan kesadaran dan minat warga jemaat untuk mendukung dan ikut dalam kegiatan Pekabaran Injil, pada bulan atau minggu-minggu tertentu setelah Hari Pentakosta diadakan Bulan atau Minggu Pekabaran Injil, yang diisi dengan kegiatan-kegiatan yang memperlihatkan pentingnya Pekabaran Injil pada masa kini. 6) Dalam rangka mengembangkan metode-metode Pekabaran Injil, GKPI dapat bekerjsama dengan Gereja-gereja lain yang seasas dan juga dengan lembaga-lembaga PI sejauh tidak bertentangan dengan P3I-GKPI.

6.     Bidang Hubungan Oikumenis dan Kemitraan (HOK)
      GKPI adalah anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Persekutuan Gereja-geraja di Indonesia pada tingkat Wilayah (PGIW). Dalam Mukadimah Tata Gereja GKPI (paragraph 2) disebutkan bahwa “Gereja Kristen Protestan Indonesia adalah Badan Gerejawi di Indonesia…” dan dalam pasal I,3 disebutkan bahwa “GKPI sebagai bagian dari Gereja yang esa, kudus dan am di seluruh dunia, hadir dan berkedudukan di Indonesia…” Juga dalam Tata Gereja Pasal IV,2 disebutkan bahwa  GKPI “turut memelihara hubungan ekumenis dengan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Kristen di dalam dan di luar negeri.” Melalui rumusan tersebut, GKPI memahami keberadaannya merupakan bagian Integral dari Tubuh Kristus yang tersebar di atas bumi.
      Sebagai anggota PGI yang ke-43, GKPI telah dan akan terus ambil bagian dalam seluruh gerakan dan kegiatan oikumenis untuk menampakkan dan mewujudkan Gereja yang Esa di Indonesia. GKPI akan turut berpartisipasi aktif dalam seluruh program kerjsama oikumenis pada aras local (jemaat), regional (resort dan wilayah) maupun synodal/nasional.
      Sebagai anggota lembaga-lembaga oikumenis Internasional (antara lain: World Council of Churches (WCC), Lutheran World Federation (LWF), United Evangelical Mission (UEM), Christian Conference of Asia (CCA), dsb), GKPI akan turut berpartisipasi aktif dalam program kerjasama gereja pada aras Internasional. Dengan demikian, semua program dan kegiatan GKPI di bidang Apostolat, Pastorat dan Diakonat juga dijalankan dengan memperhatikan semangat dan suasana oikumenis, dengan antara lain mengacu dan berpedoman pada Dokumen Keesaaan Gereja di Indonesia (DKG) yang disusun oleh PGI, dan dokumen-dokumen oikumenis lainnya, di mana GKPI turut berperan dalam menyusunnya.
      Sehubungan dengan pemeliharaan dan peningkatan hubungan Oikumenis, beberapa proram yang bisa dilakukan di bidang Oikumenis, a.l.: (1) Sosialisasi Keputusan Sidang-sidang Raya (SR) dan Sidang-sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL)-PGI kepada Para Pelayan dan Jemaat-jemaat GKPI. (2) Mempersiapkan Kader dan Aktivis Oikumene Gerejawi (AOG) untuk meningkatkan peran serta GKPI dalam kegiatan oikumenis. 3) Mengupayakan usaha oikumenis di tingkat warga jemaat antar gereja untuk meningkatkan interaksi kesaksian dan pelayan dalam kehidupan sehari-hari. 4) Menjalin kerjasama dengan gereja-gereja lain yang bukan anggota PGI, tanpa mengorbankan jati diri GKPI.
      Selanjutnya Kemitraan (Parnership) adalah salah satu bentuk identitas kerjasama gereja (Corporation Identity) dalam rangka mewujudkan visi-misi Gereja. Demikian juga dalam usaha mewujudkan tri-tugas panggilan Gereja GKPI (Apostolat, Pastorat dan Diakonat, TG Pasal IV), maka kemitraan dengan Gereja-gereja lain baik di dalam dan luar negeri mutlak diperlukan. GKPI sebagai salah satu anggota United Evangelical Mission (UEM) berperan aktif dalam membangun kemitraan sejak tahun 1980-an, ketika dimulainya Kemitraan GKPI dengan Gereja Distrik Kleve, Jerman (Kirchrenkreis Kleve) dan Gereja Ev. Nommensen di Bonn-Beuel, Jerman yang diprakarsai oleh Pdt. Dr. Andar Lumbantobing. Sejak itu “kemitraan” sangat penting sebagai suatu alat yang menolong GKPI untuk melakukan tugas panggilannya. Sebagai contoh, pada tahun 1990-an pelayanan Pengmas GKPI sangat maju berkat kemitraan dengan Bonn-Beuel. Pembangunan Aula Sikem GKPI terwujud berkat kemitaan dengan Gereja-gereja Reinland, Jerman. Sekarang ini bentuk (format) kemitraan yang dibangun dalam Gereja-gereja Anggota UEM adalah: Distrik dengan Distrik, Sinode dengan Jemaat, Lembaga Gereja dengan Lembaga Gereja (dalam hal ini antar lembaga Rumah Sakit atau Lembaga Pendidikan). Sebagai contoh hingga sekarang ini GKPI Wilayah Silindung telah bermitra dengan Gereja Ditrik Kleve (Kirchenkreis Kleve) sejak tahun 1983. Juga GKPI secara Sinode telah bermitra dengan Bonn-Beuel, yaitu Jemaat Ev. Nommensen sejak tahun 1984. Kemitraan tersebut ada dalam bentuk “South-North” atau “South-South”.
      Dalam membangun dan merawat kemitraan, GKPI dalam periode ini dapat melakukan program-program, a.l.: 1) Meningkatkan komunikasi dengan sesama mitra yang ada. 2) Bersama-sama melaksanakan program/proyek misi. 3) Meningkatkan kunjungan dalam rangka belajar bersama. 4) Saling memberdayakan untuk bertumbuh bersama. 5) Bekerjasama dengan UEM untuk menambah kemitraan baik antar distrik maupun jemaat dan atau lembaga.

C. PENUTUP
Bidang-bidang Departemen Apostolat ini telah disahkan dalam Keputusan Sidang Majelis Sinode II No. 08/SMS-II/GKPI/III/ 2016 tanggal 16 – 18 Maret 2016 di GKPI Jemaat Khusus Sidorame Medan  dan telah ditetapkan melalui S.K. Pimpinan Sinode GKPI No.626/P.13/V/2016 tertanggal 31 Mei 2016.


1 Lihat TG-GKPI Pasal IV:1a.