Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan Oktober bagi kita sekalian. Pada bulan ini ada satu momen yang sangat penting bagi GKPI yaitu Sinode Am Kerja (SAK) XXI GKPI 2018, yang dilaksanakan pada 2-6 Oktober 2018 di GKPI Center. Dalam kesempatan ini kita marilah kita mendukung dan mendoakan pelaksanaan SAK XXI ini agar kiranya berjalan dengan baik dan penuh dengan damai sejahtera dan kiranya melalui SAK ini para pelayan dan warga GKPI mendapat spirit dan energi yang baru untuk menjalankan tugas panggilan GKPI di tengah bangsa dan negara kita ini. Di samping itu pada bulan Oktober 2018 ini kita juga akan memperingati Hari Reformasi 31 Oktober 2018. Untuk itulah tema bulanan GKPI pada Oktober 2018 dikaitkan dengan Sola Gratia dan Sola Fide Martin Luther sebagaimana dalam Almanak GKPI, yaitu: “Diselamatkan karena kasih karunia dan oleh iman” yang didasarkan pada terang nas Efesus 2:8-9: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." Jadi keselamatan kita adalah oleh kasih karunia Allah dan oleh iman. Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini semakin diberkati oleh Tuhan dan dikuatkan dalam segala aktivitas. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini.

Tuhan memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI,Senin, 22 Oktober 2018


HIDUP DI BAWAH KASIH KARUNIA
“Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.” (Titus 2:12).

Tanpa kasih karunia kita tidak akan pernah bisa hidup tenang dan bahagia. Jika rumah tanpa sinar matahari akan terlihat kelam, demikian pula hidup tanpa kasih karunia akan membawa kepada kepahitan. Jika kita menyadari seberapa besar arti kasih karunia Tuhan itu dan ingin memperolehnya, maka hendaklah kita membangun jendela iman yang mampu menerima curahan kasih karunia itu dengan baik. Tidak cukup bagi kita jika kita hanya mendengar firman Tuhan sekali seminggu di gereja. Inilah saatnya untuk terus memperlengkapi diri kita, membuka hati kita untuk terus-menerus mendengar  Firman Tuhan, dan kemudian menanggapinya lewat tindakan-tindakan nyata dalam hidup kita. Kasih karunia akan terus dicurahkan Tuhan kepada semua orang yang menginginkan semua orang bisa hidup dengan penuh sukacita. Tetapi hanya mereka yang memiliki jendela imanlah yang mampu mendapatkannya.
Yang paling mandasar dari kasih karunia yang telah kita terima adalah keselamatan yang dinugerahkan Allah bagi kita melalui Yesus Kristus. Dalam Titus 2:1 dikatakan: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata.” Kasih karunia itulah yang menghidupkan kita dari kematian. Hal ini memberikan pemahaman bagi kita bahwa orang-orang percaya tidak diselamatkan oleh pekerjaan atau perbuatan baik tetapi diselamatkan oleh karena kasih karunia Allah. Oleh karena itu barangsiapa telah diselamatkan oleh Kristus maka dalam hidup sehari-hari ia akan membuahkan pekerjaan atau perbuatan baik. Itulah yang mau diwujudkan melalui nas kita hari ini supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini. Jika kita melaksanakan hal-hal yang dinasihatkan dalam nas ini, maka kita layak disebut sebagai manusia baru.
Saudara sebagai orang-orang yang telah menerima kasih karunia Tuhan, maka kita harus menunjukkan perilaku-perilaku dalam hidup kita yang sesuai dengan petunjuk Firman Tuhan. Dalam nas hari ini dikatakan, marilah kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi. Nasihat ini sangat penting mengingat godaan-godaan dunia bagi kita pada masa kini semakin kuat. Lalu secara positif, marilah kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Dengan menghasilkan buah-buah seperti itu akan menjadi kesaksian bagi orang lain betapa indahnya hidup yang telah diselamatkan oleh Tuhan. Hidup yang seperti itu menjadi bukti bahwa orang-orang yang diselamatkan akan selalu produktif untuk menghasilan buah yang baik. (HLT).

DOA: Terima kasih ya Tuhan untuk keselamatan yang sudah Engkau anugerahkan kepada kami. Ajar dan kuatkan kami ya Tuhan untuk menampakkan keselamatan itu melalui perbuatan-perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Kita berbuat baik bukan untuk diselamatkan tetapi karena kita telah diselamatkan
maka kita harus berbuat baik.”


Renungan Harian Terang Hidup GKPI,Minggu, 21 Oktober 2018


MEMILIH BERIBADAH KEPADA TUHAN
TUHAN menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan kita. Kami pun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita.” (Yosua 24:18).

Setelah satu tahun di bimbing om Muluk, kumpulan anak-anak yang berpropesi sebagai pencopet itu diberi kebebasan memilih apakah terus mencopet atau memulai hidup baru sebagai pengasong. Tiga kelompok anak-anak itu bebas memilih dengan kesadaran masing-masing, dan tidak diperbolehkan memaksakan kehendak atau mempengaruhi orang lain, dan tidak bisa karena ikut-ikutan pada om Muluk atau pada siapapun. Maka mulailah Komet pemimpin pencopet di pasar tradisional memilih menjadi pengasong, sementara dua kelompok lagi memilih tetap sebagai pencopet. Demikianlah sepenggal cerita dari film berjudul Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Saya baru sadar bahwa dalam bimbingan om Muluk saya bisa melihat uang 13 juta, bisa membaca, dan lain-lain maka saya akan tetap mengikutinya dan merubah hidupku, Om muluk telah menolongku dan kawan-kawan demikian alasan Komet ketika ditanya kenapa ia memilih menjadi pengasong. Alasan  yang kuat dan rasional berasal dari hati yang bebas.
Dalam perjalan bangsa Israel, sikap memilih dengan bebas apakah menyembah TUHAN atau beribadah kepada allah lain menjadi tawaran yang disampaikan oleh Yosua. Setelah upacara pembagian tanah selesai, Yosua memanggil semua suku orang Israel untuk “berdiri dihadapan Allah”. Setelah mengingatkan semua karya Allah atas kehidupan bangsa itu sejak nenek moyang mereka, Yosua mengajak mereka untuk beribadah pada Allah sebagai mana Yosua dan keluarganya akan beribadah pada Tuhan. Tetapi ajakan ini bukan dengan paksaan melainkan dengan  kebebasan memilih dengan tulus ikhlas (Yos 24:14-15). Bangsa Israel akhirnya memilih untuk beribadah pada Tuhan juga sebab TUHAN telah menghalau semua bangsa dan orang Amori, penduduk negeri ini, dari depan mereka. Yosua menegaskan: “Kami pun akan beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah kita. (Yosua 24:18). Keputusan ini, bukan didorong oleh keinginan untuk ikut-ikutan pada Yosua, tetapi dengan alasan yang kuat dan didorong oleh kesadaran penuh atas semua kebaikan Tuhan pada mereka yang telah mereka rasakan dan saat ini mereka mengakuinya, bahwa Allah membimbing mereka keluar dari mesir, melakukan berbagai mukjizat (ay 17) dan menghalau semua bangsa dan orang amori yang mungkin saja akan menghalangi mereka sampai pada tujuan mereka yakni tanah Kanaan. 
Saat ini kita pun perlu mengingat dan menyadari agar setiap pilihan yang akan kita ambil berasal dari kesadaran kita dan tentu dengan alasan yang kuat dan dari kebebasan kita terlebih dalam menyembah TUHAN, hendaklah dilakukan bukan dengan paksaan tetapi dengan penuh kesadaran. Karena itu pilihan kita adalah menyembah Allah Bapa dalam Kristus Yesus dengan setia. (HLT).

DOA: Bapa Sorgawi, bantulah kami untuk memiliki tekad beribadah dengan kesadaran penuh kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Kata-kata Bijak:
Kesadaran bahwa Allah mengahalau semua musuh supaya kita sampai pada tujuan mendorong kita beribadah dengan bebas.

BERITA DALAM FOTO...






Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.

Artikel Rohani

OKULTISME SEBAGAI TANTANGAN GEREJA
Pdt. Humala Lumbantobing, MTh

Akhir-akhir ini kita masih dikejutkan dengan isu-isu Begu Ganjang (har., hantu yang panjang) yang terjadi di beberapa daerah. Isu-isu tersebut nampaknya membuat masyarakat cemas dan takut sebab isu tersebut sering berekpansi ke berbagai daerah  dan nampaknya hal tersebut sulit dibendung. Sebenarnya isu tersebut sudah ada sejak lama di Tanah Batak atau Sumut khususnya. Sebelum masuknya kekristenan ke tanah Batak begu (hantu) yang satu ini ........baca selanjutnya......