Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan penuh sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan Maret bagi kita sekalian. Pada bulan Maret ini tentu kita tetap disibukkan dengan pekerjaan dan pelayanan sambil mempersiapkan diri untuk menyongsong PILEG dan PILPRES bulan April 2019. Namun secara khusus tema bulanan GKPI pada Maret 2019 ini sebagaimana dalam Almanak GKPI, adalah: “Menegakkan Keadilan” yang didasarkan pada Amos 5:24: Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." Dengan tema tersebut kita diajak untuk selalu menegakkan keadilan dalam segala aspek kehidupan di tengah-tengah hidup sehari-hari. Secara khusus kita berdoa agar kiranya para penegak hukum di negara kita dikuatkan oleh Tuhan untuk menegakkan hukum seadil-adilnya di tengah-tengah masyarakat tanpa pandang bulu, sehingga tidak ada lagi penegakan hukum seperti istilah “tajam ke bawah tumpul ke atas”. Jadi semua rakyat sama di mata hukum. Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini semakin diberkati oleh Tuhan dan senantiasa berhikmat untuk menegakkan keadilan di mana pun berada. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan. Tuhan Yesus memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Sabtu 23 Maret 2019


PERKATAAN KEKAL
“Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yohanes 6:68b)

                Alkisah, sepulang dari sawah, seekor kerbau berbaring di kandangnya dengan wajah capek dan napas yang berat. Saat itu datanglah seekor anjing, temannya. Kerbau berkata, “Ah, teman lamaku, aku sungguh capek dan besok mau istirahat sehari saja.” Anjing itu pun pergi dan menjumpai kucing di sudut tembok, ia berkata, “Tadi saya bertemu dengan kerbau, ia besok mau istirahat dulu. Pantaslah, sebab bosnya memberi pekerjaan terlalu berat sih.” Ketika kucing itu bertemu dengan kambing, ia berkata, “Si kerbau komplain ke bos karena ngasih kerja terlalu banyak dan berat. Besok ia gak mau kerja lagi.” Saat sedang berjalan, Kambing bertemu dengan ayam, lalu katanya, “Kerbau gak suka kerja untuk bos lagi, mungkin ada bos lain yang lebih baik.” Kemudian Ayam bertemu dengan monyet dan berkata, “Kerbau gak akan kerja untuk bosnya lagi dan ingin cari kerja di tempat yang lain.” Saat makan malam, monyet bertemu dengan bosnya dan berkata, “Bos, si kerbau akhir-akhir ini sudah berubah sifatnya, dan ia mau meninggalkan bos untuk kerja dengan bos lain.” Mendengar ucapan si monyet, bos marah besar dan membunuh si kerbau karena dinilai telah mengkhianatinya. Ucapan kerbau yang sebenarnya adalah, “Saya sungguh capek, dan besok mau istirahat sehari saja.” Tetapi lewat beberapa temannya akhirnya ucapan ini sampai ke bos, namun pernyataan si kerbau telah berubah menjadi, “Si kerbau akhir-akhir ini telah berubah sifatnya dan mau meninggalkan bos untuk kerja dengan bos lain.”Demikianlah yang sering terjadi dalam kehidupan kita tentang perkataan. Yang beredar di sekitar kita sering kali adalah berita “hoax”, yang dapat meresahkan orang banyak bahkan dapat mengakibatkan kerugian/penderitaan bagi orang tertentu. Seperti yang dikisahkan dalam cerita diatas, perkataan si kerbau yang sampai kepada bosnya justru perkataan yang mengakibatkan bosnya marah besar dan akhirnya memutuskan untuk membunuh si kerbau.
                 Apabila kita membandingkannya dengan perkataan Yesus, bagaimana dengan firman yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya? Apakah perkataan yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah “hoax”? Ayat firman Tuhan hari ini mengingatkan kita tentang firman Tuhan Yesus yang disampaikan kepada murid-murid bahwa firman Tuhan yang dapat membawa setiap orang kepada kehidupan kekal apabila mereka percaya kepada perkataan-Nya. Yesus berkata bahwa Dia adalah roti hidup yang memberi kehidupan kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Hanya melalui Dia-lah kita dapat sampai kepada Bapa yang disorga. Namun justru ketika Yesus mengatakan itu, banyak yang meninggalkan Dia dan tidak mau mengikut Yesus (Yoh.6:66). Yesus tidaklah mengatakan perkataan “hoax”, tetapi perkataan-Nya adalah perkataan yang benar yaitu perkataan hidup yang kekal. Karena itu percayalah kepada perkataan-Nya. (LCS).

DOA: Tuhan, ajarlah aku untuk percaya kepada setiap firmanMu yang akan menuntun aku kepada kehidupan kekal dan kedamaian dalam hidupku. Amin!

Kata-kata Bijak :
Hidup kekal dikaruniakan kepada setiap orang yang percaya kepada perkataan-Nya.


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Jumat, 22 Maret 2019


BERSERU DALAM KESESAKAN
Dalam kesesakanku aku berseru kepada Tuhan dan Ia menjawab aku” (Mazmur  120:1)
               
                Apa yang dapat membuat hidup kita sesak? Sesak dalam arti keadaan yang sulit yang diakibatkan persoalan kehidupan, yang melilit kehidupan kita. Bisa saja hal itu adalah persoalan ekonomi, anak, pekerjaan, usaha, sakit penyakit dan persoalan hidup yang lain. Ketika datang persoalan yang membuat kita menjadi sesak, apa yang kita lakukan. Ada banyak cara yang dilakukan orang untuk melepaskan diri dari kesesakkan persoalan hidup. Misalnya meminta pertolongan dari orang lain yang dianggap dapat menolong dia terlepas dari persoalannya. Walaupun, bisa saja kita mengalami kekecewaan karena belum tentu yang kita anggap dapat melepaskan kita dari persoalan hidup dapat menolong hidup kita. Tidak sedikit juga mencari jalan keluar dari persoalan hidupnya dengan melakukan tindakan yang dianggap dapat memberikan ketenangan, misalnya memakai obat-obatan (narkoba), minum-minuman keras atau pelampiasan lain yang ditawarkan dunia ini untuk mendapatkan “kelegaan sesaat” dari persoalan hidupnya. Bagaimana dengan kita? Apa yang kita lakukan ketika kita menghadapi kesesakan dalam hidup ini?
                Dalam Mazmur 120:1 menyebutkan: “Dalam kesesakan aku berseru kepada Tuhan dan Ia menjawab aku”. Tindakan yang tepat yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang percaya ketika dia menghadapi persoalan hidupnya, yaitu “berseru kepada Tuhan”. Kita harus menyadari bahwa Tuhan, Dialah Allah yang mengerti segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Tidak ada satu persoalanpun yang tidak dapat diselesaikannya dalam hidup kita. Dan setiap persoalan dalam hidup kita, Allah punya maksud dan rencana untuk mendatangkan kebaikan dalam hidup kita, asalkan kita berseru kepada-Nya, maka Dia sendiri yang akan menuntun kita kepada maksud dan rencana-Nya. Tidak ada persoalan hidup yang lebih besar dari Allah. Hanya terkadang kita terlalu fokus kepada persoalan hidup kita, sehingga kita melihat persoalan hidup kita lebih besar dari kasih Allah Yang Mahamulia. Padahal kasih Allah kita jauh lebih besar dari persoalan hidup kita. Iman yang benar adalah satu-satunya yang kita perlukan dalam menghadapi setiap persoalan hidup.
                Ingatlah untuk datang kepada-Nya jangan datang ke tempat yang salah apalagi oknum yang salah untuk menolong kita dalam menyelesaikan persoalan hidup kita. Dia selalu mendengar setiap seruan kita. Tidak ada seruan kita yang terlewatkan dari hadapan Allah, dan ketika Dia sudah mendengar seruan kita pasti Dia akan bertindak. Walaupun kadang kala cara Allah menjawab seruan kita tidak selalu persis seperti apa yang kita harapkan, tetapi pasti jawaban Tuhan adalah yang terbaik dalam hidup kita. Karena tidak ada seorang bapa yang memberikan batu kepada anaknya yang minta roti., atau memberi ular jika anaknya meminta roti (Bnd. Mat.7:9-10). Apalagi Bapa kita yang di sorga pasti memberikan yang terbaik bagi anak-anakNya. (LCS)

DOA:  Bapa  yang baik, terimakasih karena Engkaulah Bapa yang selalu mendengar setiap seruan dan doaku dan aku percaya Engkau pasti akan menjawabnya. Amin!

Kata-kata Bijak :
Tuhan tidak pernah mengecawakan mereka yang berseru kepada-Nya.

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Senin, 18 Maret 2019



BERSUKARIA
“Aku bersukaria di dalam Tuhan”.  (Yesaya 61:10a)

                Suatu kali Joni mendapat hadiah undian berupa uang tunai sebesar Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah). Iapun segera pergi ke bank untuk mencairkannya dan mengecek apakah uang itu sudah masuk ke rekeningnya. Benar saja, uang itu memang telah masuk ke rekening. Dalam perjalanan menuju kembali ke rumah, Joni yang membawa sepeda motor terus tersenyum sumringah.Di tengah perjalanan, tiba-tiba ban motornya bocor terkena pecahan beling. Biasanya jikalau mengalami hal ini, dia pasti akan bersungut-sungut, namun kali ini ia tetap bersukacita. Ia pun membawa motornya ke bengkel untuk diperbaiki. Kemudian setelah melanjutkan perjalanan, dia terpaksa harus terjebak macet parah di sebuah persimpangan jalan. Dia baru bisa melaluinya setelah 30 menit menunggu. Biasanya dia akan menggerutu, namun dia tetap saja bersukacita.Di sepanjang perjalanan, dia hanya memikirkan uangnya sehingga apapun yang dialami itu tidak mempengaruhi sukacitanya.Untuk uang Rp 200.000.000,- Joni tetap bersukacita, walau banyak kesulitan yang dialaminya tidak mempengaruhi sukacitanya.
                Cerita di atas menggambarkan bagaimana sesungguhnya sukacita orang percaya dalam menjalani kehidupannya di dunia yang penuh dengan pergumulan kehidupan. Banyak orang menjadi kehilangan sukacita ataupun kebahagiaan dalam hidupnya, karena melihat pergumulan hidupnya yang terlalu besar, sehingga mengalahkan sukacita yang ada dalam hidupnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena sesungguhnya orang percaya tidak memahami dengan baik apa yang menjadi alasannya untuk bersukacita. Orang percaya masih mendasarkan alasannya untuk bersukacita karena hal-hal yang sifatnya masih dapat diukur oleh sesuatu yang ada disekitarnya yang dapat dilihat dan dirasakan secara jasmani.
Tuhan, Dia-lah satu-satunya alasan yang paling mendasar bagi kita untuk bersukacita. Tuhan Allah yang telah mengaruniakan keselamatan kepada kita, Dia-lah yang membuat kita bersukacita.
                Seperti Joni yang selalu mengingat bahwa dia telah mendapatkan uang dua ratus juta rupiah, sehingga walaupun ada kesulitan dia tetap bersukaria di sepanjang perjalanannya. Kebahagiaan kita jauh lebih besar dari nilai uang dua ratus juta rupiah, yaitu keselamatan kekal yang dikaruniakan-Nya di dalam Yesus Kristus bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Itulah kebahagiaan kita, hendaklah kita senantiasa mengingat karya dan pengorbanan Yesus di Kayu Salib yang telah menebus dosa dan menyelamatkan kita, sehingga walaupun dalam perjalanan hidup ini, kita menghadapi berbagai kesulitan dan pergumulan tidak menghilangkan sukacita yang telah kita terima. Kita dapat tersenyum sumringah melihat berbagai persoalan hidup yang datang silih berganti menerpa hidup kita. (LCS).

DOA: Terimakasih Tuhan untuk keselamatan kekal yang telah Engkau karuniakan kepadaku, itulah yang menjadikanku tetap dapat bersukacita menghadapi berbagai persoalan dalam hidupku. Amin !
Kata-kata Bijak :
Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan karena Dia telah menyelamatkan hidupmu.

BERITA DALAM FOTO...






Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.