Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan Juli bagi kita sekalian. Pada bulan ini ada satu momen yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu peringatan Hari Anak Nasional, 23 Juli 2019. Dalam kesempatan ini kita diingatkan untuk semakin mengasihi anak-anak, melindungi anak dari tindakan kekerasan, perdagangan anak dan serta kekerasan seksual. Di samping itu warga jemaat juga diingatkan untuk meningkatkan rasa keadilan dalam berbagai aspek kehidupan. Untuk itulah tema bulanan GKPI pada Juli 2019 ini sebagaimana diaturkan dalam Almanak GKPI adalah: “Yesus Cinta Anak-anak” yang didasarkan pada terang nas Markus 10:14: “Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarlah anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah." Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini memperoleh semangat baru dalam menumbuh-kembangkan cinta-kasih kepada anak-anak. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini.

Tuhan Yesus Memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Selasa, 23 Juli 2019



BERANI MENGAKU SALAH
“Firman-Nya: “Apakah yang telah kau perbuat ini?Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.” (Kejadian 4 : 10)

Orangtua dari anak sekolah minggu saya pernah bertengkar hanya karena anak mereka sama-sama mengadu karena terjatuh didorong temannya. Tanpa bertanya dan memperhatikan kebiasan anak mereka, kedua orangtua tersebut jadi bertengkar sampai saling melukai. Awalnya, anak mereka yang bertengkar, akhirnya kedua orangtua anak tersebut ikut bertengar dan tidak lagi dekat, baik dalam bergereja maupun bersosial dalam kumpulan marga atau budaya. Mereka sama-sama merasa benar dan menyalahkan anak orang lain. Anehnya, kok kedua orangtua itu memperlihatkan apa yang mereka nilai sendiri? Begitulah pandangan orang yang merasa benar. 
Kisah Kain dan Habel memberikan gambaran tentang keKristenan. Habel adalah buah dari kehidupan manusia yang benar dan taat kepada Tuhan, sedangkan Kain gambaran dari hidup yang salah serta semakin jahat dihadapan Tuhan. Akibat dari dosa yang ditaburkan oleh orangtua mereka, dosa pun semakin berkuasa atas manusia, seperti Kain yang tega membunuh Habel, adiknya. Melalui peristiwa kematian Habel, kita mengerti bahwa Tuhan akan tetap meminta pertanggungjawaban dari setiap akibat perbuatan manusia. Namun, sering manusia itu berusaha menutupi kesalahannya. Kain juga menutup hatinya sehingga kegelapan semakin membelenggu hidupnya. Tetapi Tuhan tahu, dan terus meminta pertanggungan jawab darinya.
Bagaimana kita merenungkan kisah diatas? Bukankah kita pun sering seperti Kain, melakukan yang jahat kepada sesama dan saudara kita? Sama seperti Kain, kita sering mencari alasan untuk menutupi kesalahan kita. Akibatnya, kita semakin jauh dari Tuhan, jauh dari pengampunan sehingga dosa membinasakan kita. Apakah yang telah kita perbuat sampai saat ini? Mari renungkan dan akui kepada Tuhan. Apapun itu, akuilah dan sampaikanlah semua kepada-Nya, sebab Dia-lah yang akan memberikan kelegaan dan pengampunan. (ES).
                                                                                     Nyanyian K.J. No. 467
DOA: Ya Tuhan, sering sekali aku menutupi kesalahanku dihadapanMu. Kini, aku membutuhkan kuasaMu membaharui hidupku. Amin.

Kata-kata Bijak:
Pikir itu pelita hati. Firman Tuhan pelita Hidup.

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Senin, 22 Juli 2019



HARGA MENENTUKAN RASA
“Sebagai orang yang tidak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, dan sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tidak mati.” (2 Korintus 6 : 9)

Ada pantun yang berbunyi, “pisang emas dibawa berlayar, masak sebiji di dalam peti. Hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati.” Pantun ini berisi nasehat bahwa hutang emas atau materi yang dimiliki manusia masih bisa diganti atau dibayarkan. Tetapi hutang budi atau pengorbanan seseorang dalam hidup kita tidak akan dapat tergantikan atau terbayarkan.
Demikian halnya pada renungan ini, kita mengetahui penjelasan Rasul Paulus tentang seruannya kepada jemaat Korintus untuk mengadakan pendamaian agar kasih karunia Allah yang telah diterima tidak menjadi sia-sia dalam hidup mereka. Kasih karunia telah tercurah bagi mereka yang percaya, tetapi karunia itu tidak boleh menjadi hal yang sia-sia dengan dibiarkan dalam sikap hidup yang berleha-leha dan tidak berguna. Justru hidup harus diperlihatkan dengan berbagai perbuatan yang mencerminkan karakter Kristus. Kasih karunia itulah yang menguatkan Paulus dalam kesaksiannya, bahwa sekalipun nyaris mati tetapi sungguh hidup.
Setiap pengorbanan membutuhkan harga atau nilai yang harus dibayarkan. Bahkan nilai dari sebuah pengorbanan atau hutang budi tidak akan pernah bisa diukur dengan apapun, seperti pepatah diatas. Demikian juga dengan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus, membuat kita menjadi manusia yang sangat berharga karena kasih karunia yang telah kita terima. Kita tidak akan mampu membalas pengorbanan-Nya di kayu salib. Namun, kita dapat membalas semua itu dengan hidup seperti Paulus, sebagai rekan sekerja Allah, yang turut mengambil bagian untuk memberitakan Injil kepada semua orang melalui perbuatan baik kita, sekalipun kita menghadapi penderitaan.

                                                                                           Nyanyian : KJ. 426

DOA:  Ya Tuhan, mampukan aku dengan kasih karuniaMu untuk dapat memuliakanMu di dalam segala keadaanku. Amin.

Kata-kata Bijak:
Jasa dapat diukur dengan materi atau benda.
Kasih karunia tidak terukur oleh apapun yang ada di dunia.

BERITA DALAM FOTO...






Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.

Artikel Rohani

OKULTISME SEBAGAI TANTANGAN GEREJA
Pdt. Humala Lumbantobing, MTh

Akhir-akhir ini kita masih dikejutkan dengan isu-isu Begu Ganjang (har., hantu yang panjang) yang terjadi di beberapa daerah. Isu-isu tersebut nampaknya membuat masyarakat cemas dan takut sebab isu tersebut sering berekpansi ke berbagai daerah  dan nampaknya hal tersebut sulit dibendung. Sebenarnya isu tersebut sudah ada sejak lama di Tanah Batak atau Sumut khususnya. Sebelum masuknya kekristenan ke tanah Batak begu (hantu) yang satu ini ........baca selanjutnya......