Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI
Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT PASKAH bagi kita sekalian. Kiranya melalui Perayaan Paskah di tahun ini iman kita semakin dikuatkan terutama dalam melaksanakan tugas panggilan kita sebagai orang-orang percaya. Paskah tersebut mengingatkan kita akan pembebasan yang dilakukan oleh Tuhan bagi kita umat berdosa melalui kebangkitan Yesus Kristus. Kebangkitan Yesus menunjukkan bahwa Dia Tuhan, dan Dia hidup. Sukacita kebangkitan itu menggerakkan kita untuk pergi sebagai saksi-saksi Kristus. Untuk itulah tema bulanan GKPI pada April 2018 ini sebagaimana diaturkan dalam Almanak GKPI adalah: “Menjadi Saksi Kristus Yang Setia” yang didasarkan pada terang nas Kisah Para Rasul 1:8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini memperoleh semangat baru untuk menjadi Saksi Kristus yang setia. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.
(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Sabtu 21 April 2018



DI DALAM TERANG FIRMAN TUHAN
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”  (Mzm.119:105.

                Ketika masih bertugas melayani di wilayah perkebunan kelapa sawit, aku mendapatkan banyak pengalaman berharga di sana. Pernah satu ketika, aku harus melayani di rumah warga jemaat yang lokasinya berada di kebun sebelah di malam hari. Karenanya, aku pun harus menyusuri jalanan tanah merah yang licin serta gelap. Mengandalkan sepeda motor yang kupinjamkan dari warga jemaat, aku pun bergegas menuju ke sana. Pengalaman naas pun kualami ketika lampu sepeda motorku mendadak padam di tengah jalan. Suasana langsung berubah menjadi gelap gulita seketika. Aku saat itu mulai panik. Jarak antara tempat tujuanku dan rumahku sudah hampir sama jauhnya. Jadi, tidak ada gunanya kembali ke rumah. Sembari berdoa, aku merogoh kantong tasku untuk mencari telepon genggamku yang memiiki lampu senter kecil. Akhirnya, dengan penerangan seadanya, aku pun melajukan sepeda motorku pelan sekali. Aku selalu bersyukur kepada Tuhan jika mengingat kejadian itu. Biasanya, aku jarang membawa telepon genggamku tiap melakukan pelayanan. Namun, malam itu aku membawa telepon genggamku sehingga aku memiliki cahaya yang cukup untuk menyusuri gelapnya malam.
                Peranan terang dalam hidup kita adalah sangat penting. Demikian juga dalam hidup rohani kita. Dalam nas ini pemazmur menyaksikan kepada kita: “Friman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Mazmur 119:105 ini ditulis dalam konteks pembangunan bait Allah di Yerusalem setelah dihancurkan oleh Babilonia. Bangsa Israel tentu tidak tahu harus memulai dari mana untuk membangun kembali negeri mereka yang sudah porak poranda itu. Karenanya, mereka memohon kepada Tuhan agar menunjukkan apa saja yang perlu mereka lakukan agar menjadi bangsa yang besar lagi. Secara umum, Mazmur 119 ini menggambarkan kepatuhan umat percaya pada perintah dan janji yang difirmankan oleh Tuhan Allah. Umat Israel percaya kalau mereka patuh dan berpedoman pada perintah serta janji Allah yang ada di dalam firman-Nya, maka kehidupan mereka akan dipulihkan oleh Tuhan Allah.
                Terkadang, hidup itu bisa seperti gambaran pengalamanku tadi. Ada kalanya di tengah perjalanan hidup, kita menemukan hal-hal yang tidak kita harapkan. Situasi itu mungkin membuat kita menjadi panik. Karenanya, kita sebagai umat percaya harus memiliki persiapan-persiapan dalam menghadapi situasi demikian. Pemazmur mengajak kita untuk merenungi bahwa pengenalan kita akan firman Allah bisa menjadi solusi dalam mencari jalan keluar dari kesulitan hidup. Kita percaya Firman Tuhanlah pelita kaki dan terang kita. Dengan demikian, firman Tuhan itu adalah suatu kebutuhan utama bagi umat percaya dalam melihat jalan apa yang hendak Tuhan tunjukkan pada kita. (ThS).

DOA: Ya Tuhan, terima kasih atas firman-Mu yang boleh menuntun dan membimbing kami keluar dari situasi hidup yang sulit. Karenanya, biarlah kami selalu hidup di dalam firman-Mu. Di dalam nama Anak-Mu, Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin.

Kata-Kata Bijak:
“Firman Tuhan adalah pedoman terbaik dalam menjalani hari-hari kita di dunia.”

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Jumat 20 April 2018



KASIH UNTUK SAHABAT
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang yang memberikan nyawanya
untuk sahabat-sahabatnya.” (Yoh.15:13).

                Waktu remaja saya pernah mencatat tiga jenis kasih. Pertama, kasih itu dalam bahasa Yunani disebut dengan eros. Kasih eros ini sifatnya ketertarikan fisik antara seorang yang jatuh cinta. Lalu, di atas kasih eros ada yang dinamakan kasih storge yang berarti kasih di dalam keluarga, seperti orangtua pada anaknya dan sebaliknya. Di tingkat berikutnya, ada kasih philia yang berarti kasih kita pada seseorang sekalipun tak bertalian darah. Dan, di tingkat paling atas, ada kasih agape yaitu kasih Allah yang sempurna pada umat-Nya. Pemahaman ini terus bertahan sampai akhirnya aku memasuki pendidikan teologi dan mempelajari bahasa Yunani. Aku membaca penggunaan kata kasih di kitab Yohanes ini begitu mengejutkan penempatannya. Misalnya ayat kita hari ini, di sana dikatakan tidak ada kasih (agape) yang lebih besar dari kasih (philia) seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Dalam hati bertanya-tanya, “Mengapa Yesus di sini mengatakan bahwa kasih philia lebih besar daripada kasih agape?”
                Pendekatan interpretasi teologis dilakukan untuk menemukan maksud sebenarnya dari teks Yohanes ini tentang kasih. Hasilnya, teks kita hari ini merupakan pemberitahuan Yesus secara tersirat tentang penderitaan yang dialami-Nya dan menyinggung komitmen Petrus yang mau mengorbankan nyawa-Nya bagi Yesus (Yoh.13:36-38). Yesus akan disalibkan dalam waktu yang tak lama lagi sebagai kurban penghapusan dosa. Itu memang sudah bagian yang harus dijalankan oleh Yesus, yaitu memberikan nyawa-Nya sebagai tumbal dosa orang yang tak dikenal-Nya. Oleh karena itu, Yesus juga menasehatkan para murid, khususnya Petrus untuk berkorban dengan nyata, bukannya hanya pemanis di mulut. Di kemudian hari, kita memang menemukan sosok Petrus yang berbeda. Ia benar-benar komitmen tentang kasihnya kepada Yesus, bahkan ia rela mempertaruhkan nyawanya demi kecintaan-Nya pada sahabatnya, yaitu Yesus.
                Dari nas hari ini, kita dapat belajar bahwa hal mengasihi tidak terletak pada tingkatannya secara teoritis. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana mewujudnyatakannya. Yesus menempatkan kasih kepada sahabat saat ini lebih tinggi posisinya karena Yesus dalam berkurban tidak bertanya apakah Dia mengenal kita atau tidak? Ada hubungan saudara atau tidak? Namun, kasih pengurbanan Yesus tidak bersyarat, seperti seorang sahabat yang tak bertalian darah. Komitmen mengasihi seperti demikian membutuhkan pembuktian. Seperti Petrus yang pertamanya gagal, tapi pada kesempatan berikutnya ia benar-benar membuktikan kasihnya kepada Yesus. Begitu pula kita, mungkin dalam mengikut Yesus terdapat tantangan yang besar dihadapi. Jika kita benar-benar mengasihi-Nya seperti sahabat kita, maka tantangan itu akan kita nikmati. Kita tak akan mungkin mengasihi sesama tanpa terlebih dahulu mengasihi Allah. (ThS).

DOA: Ya Tuhan, ajarlah kami hidup boleh saling mengasihi antara satu dengan yang lain, layaknya seorang sahabat, sehingga kami boleh mengasihi Engkau yang menganggap kami sebagai sahabat-Mu. Amin.
Kata-Kata Bijak:
                            “Sebuah kasih membutuhkan pengorbanan, termasuk nyawa yang menjadi taruhannya.”

lik di sini  untuk melihat Arsip Renungan Harian Terang Hidup GKPI

BERITA DALAM FOTO...






Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.

Artikel Rohani

OKULTISME SEBAGAI TANTANGAN GEREJA
Pdt. Humala Lumbantobing, MTh

Akhir-akhir ini kita masih dikejutkan dengan isu-isu Begu Ganjang (har., hantu yang panjang) yang terjadi di beberapa daerah. Isu-isu tersebut nampaknya membuat masyarakat cemas dan takut sebab isu tersebut sering berekpansi ke berbagai daerah  dan nampaknya hal tersebut sulit dibendung. Sebenarnya isu tersebut sudah ada sejak lama di Tanah Batak atau Sumut khususnya. Sebelum masuknya kekristenan ke tanah Batak begu (hantu) yang satu ini ........baca selanjutnya......