Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan Agustus bagi kita sekalian. Pada bulan ini ada dua momen yang sangat penting dalam kehidupan bergeraja dan berbangsa, yaitu: HUT RI ke-73 (17 Agustus 1945-2018) dan HUT-GKPI ke-54 (30 Agustus 1964-2018). Dalam kesempatan ini kita diingatkan untuk senantiasa bersyukur kepada TUHAN atas rahmat dan anugerahnya kita dapat merayakan kedua momen itu pada Bulan Agustus ini. Kiranya dengan kedua momen yang bersamaan itu GKPI kitanya semakin meningkatkan peranannya untuk melayani di tengah-tengah masyarakat sebagai suatu bukti bagaimana GKPI berperan untuk mengisi kemerdekaan RI dengan baik. Untuk itulah tema bulanan GKPI pada Agustus 2018 ini sebagaimana diaturkan dalam Almanak GKPI adalah: “Memuji Tuhan karena segala kebaikannya” yang didasarkan pada terang nas Mazmur 103:1-2: “Pujilah TUHAN ahi jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan jangan lupakan segala kebaikan-Nya!" Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini memperoleh semangat baru dalam mengisi kemerdekaan dan juga disemangati sebagai warga jemaat GKPI untuk berperan dalam membangun masyarakat ke depan. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Artikel Rohani 3

INTEGRITAS KRISTIANI
Oleh: Pdt. Humala Lumbantobing, M.Th 


                Kata “ integritas” sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Dalam pemilihan seorang pemimpin di sebuah organisasi  beberapa pertanyaan yang sering muncul: “Siapa pemimpin yang memiliki integritas?”, “Apakah calon Kepala Daerah itu memiliki integritas?” atau “Integritas seperti apa yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin?” Bukan hanya itu, dalam lingkungan pekerjaan pun sering dipertanyakan: “Apakah karyawan itu memiliki integritas?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan betapa pentinya  integritas dalam membangun hubungan dengan orang lain baik secara pribadi maupun secara komunal. Juga integritas sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan yang langgeng. Integritas merupakan salah satu pilar dalam membangun citra seorang pemimpin.

APAKAH INTEGRITAS ITU?
            Menurut  Kamu Besar Bahasa Indonesia (KBBI),integritas” (Eng. Integrity) berarti mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan; kejujuran. Sementara itu Kamus Merriam-Webster yang paling mutakhir mendefinisikan integritas sebagai ketaaatan yang kuat pada sebuah kode, khususnya nilai moral atau nilai artistik tertentu. Kedua kamus tersebut menunjukkan bahwa integritas mengandung makna yang dalam tentang sikap moral yang dimiliki seseorang yang menjadikan seseorang memiliki nilai dan potensi. Sekarang ini sinonim kata integritas beraneka ragam sesuai dengan kultur yang ada dalam masyarakat. Tetapi jika dipahami secara umum beberapa kata yang bisa dijadikan sebagai sinonim integritas adalah kejujuran, dapat dipercaya, teguh, baik, berkarakter, konsisten, bertanggung-jawab, dll.

INTEGRITAS KRISTIANI
                Belakangan ini integritas Kristiani sering dipertanyakan dalam kehidupan bermasyarakat. Integritas Kristiani sering diuji, apakah sikap orang Kristen sesuai dengan nilai-nilai Kristiani yang dianutnya atau tidak?  Acap kali integritas Kristiani tidak nampak lagi dalam hubungan dengan orang lain, malah larut di tengah-tengah kultur yang ada termasuk karena pengaruh modernisasi. Keistimewaan integritas Kristiani sepertinya sulit dikenali dan menjadi samar-samar, yang mana yang Kristiani, yang mana yang tidak. Akibatnya orang-orang Kristen sulit untuk menunaikan tugas panggilannya sebagai “garam dan terang dunia” (Mat. 5:13-14).
                Dalam situasi yang demikian integritas Kristiani harus terus digali yang didasarkan kepada Alkitab dan kiranya terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa unsur integritas yang dapat kita jadikan sebagai acuan dalam mengembangkan integritas Kristiani adalah integritas apa yang ditunjukkan oleh tokoh-tokoh dalam Alkitab. Misalnya, Yusuf adalah seorang tokoh yang memiliki integritas yang handal. Ia seorang yang dapat dipercaya oleh tuannya, Potifar. Dalam Kejadian 39:3-6 disebutkan bahwa “Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.  Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang. Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dari makanannya sendiri.  Integritas yang dimiliki oleh Yusuf adalah dapat dipercaya. Sebagai seorang hamba Potifar, ia senantiasa berkerja dengan baik, jujur, bertanggung-jawab dan dapat dipercaya.  Selanjutnya dengan sikap dapat dipercaya, Yusuf terus mendapat promosi sehingga dia menjadi seorang penguasa di Mesir. Tokoh Yusuf dalam Perjanjian Lama adalah seorang teladan dalam hal integritas. Di samping itu kita juga dalam melihat integritas yang ditunjukkan oleh tokoh yang lain seperti: Daniel, Hananya, Misael dan Azarya  di Istana Babel. Sebagai orang-orang muda Yahudi mereka memiliki integritas di tengah-tengah pemerintahan Raja Nebukadnezar. Mereka adalah orang-orang muda yang tidak bercela, berperawakan baik, memiliki pengetahuan dan cakap bekerja di istana raja (Dan.1:3-5).
                Dalam Perjanjian Baru banyak pengajaran Yesus yang berkaitan dengan integritas. Misalnya, soal kesetiaan. Yesus berkata: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Luk.16:10). Integritas lain yang bisa kita lihat adalah apa yang diajarkan oleh Yesus lewat perumpaaan tentang talenta. Dalam Matius 25:14-30 diceritakan tentang seorang tuan yang memberikan talenta kepada hamba-hambanya. Kepada yang seorang ia memberikan lima talenta, yang seorang lagi dua dan seorang lagi satu, masing-masing menurut kesanggupan mereka. Dari antara ketiga hamba itu, hamba yang menerima lima talenta itu menjalankan uang itu dan beroleh lima talenta, kemudian hamba yang menerima dua talenta itu menjanlankan uang itu dan beroleh dua talenta. Tetapi hamba yang ketika yang menerima satu talenta tidak menjalankan uang itu, malah menggali lobang dan menyembunyikan uang itu dalam tanah. Setelah tuan mereka pulang, mereka masing-masing mempertanggung-jawabkan talenta yang diberikan. Si Tuan memuji kedua hamba itu dengan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkaca kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung-jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mat.25:21-23). Sementara itu kepada hamba yang tidak menjalankan uang itu akan mendapat hukuman (Mat.25:28-30). Masih banyak aspek integritas yang bisa kita lihat dari tokoh-tokoh Alkitab dan dari pengajaran Yesus. Sebagai umat Kristiani kita harus meneladani dan memiliki integritas yang khas tersebut dalam konteks dunia di mana kita hadir.

INTEGRITAS DALAM KONTEKS
                Integritas Kristiani sebenarnya sedang diuji dalam konteks bermasyarakat di negara kita ini. Apa yang kita lihat dan rasakan sekarang ini di Indonesia adalah dekadensi moral yaitu penurunan dan kemerosotan moral yang ditandai dengan korupsi, pencurian, perzinahan, pelecehan seksual, perdagangan manusia, pembelokan hukum, pengrusakan lingkungan dan lain sebagainya.  Dalam konteks tersebut sebagai warga gereja kita harus mempertontonkan apa sebenarnya yang menjadi integritas Kristiani. Dari pengajaran Alkitab  integritas umat Kristiani adalah kasih, kesetiaan, kekudusan, kedamaian, kejujuran, bertanggung-jawab, dapat dipercaya, bermurah hati, pengampunan. Dalam dimensi yang sejajar Paulus menyebutkan dalam Galatia 5:22-23:  “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”  Semuanya integritas tersebut harus menjadi perhatian umat Kristiani dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah, di ladang, di pasar, di kantor, di perusahaan, di lingkungan pemerintahan dan di mana pun ia bekerja.
                Dengan penghayatan integritas yang mendalam sebagaimana diajarkan oleh Alkitab sudah seharusnya umat Kristiani membangun dan mempromosikan integritas yang handal di tengah-tengah masyarakat. Umat Kristiani harus memancarkan sinar integritas Kristus di tengah-tengah kemajemukan dan di tengah-tengah masyarakat yang semakin kompetitif. Biarlah umat Kristiani membangun integritasnya di tengah-tengah integritas yang semakin redup.

Baca artikel lainnya di sini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar