Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan Desember bagi kita sekalian.Pada bulan Desember ini tentu kita akan disibukkan dengan Perayaan Natal, di mana kita akanmengingat-rayakan kelahiran Yesus Kristus, Juruselamat dunia. Tema Perayaan Natal yangdigulirkan PGI tahun 2018 ini adalah YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA (1 Korintus1:30a). Tentu kita akan merenungkan tema ini dalam berbagai perayaan Natal baik di gereja,kantor-kantor, komunitas-komunitas Kristen dan juga di tempat-tempat lainnya. Namun secarakhusus di GKPI tema bulanan GKPI pada Desember 2018 ini sebagaimana dalam AlmanakGKPI, adalah: “Immanuel: Allah Menyertai Kita yang didasarkan pada Matius 1:23:“Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak lagi-lagi, danmereka akan menamakan Dia Immanuel: Allah Menyertai Kita" Doa dan harapan kami semogasaudara-saudara pengunjung blog ini semakin diberkati oleh Tuhan dan senantiasa bersukacitadalam perayaan Natal ini. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Arsip Renungan Harian Terang Hidup GKPI





Sabtu, 1 Desember 2018

BERBALIK KEPADA TUHAN
“Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya pada hari-hari yang terakhir.” (Hosea 3:5).
Istilah orang Kristen “tomat” merupakan istilah yang lahir dari kejemuan orang dengan sikap inkonsistensi umat Tuhan akan integritas imannya. Dikatakan bahwa orang Kristen “tomat” ini bertobat pada hari Minggu, meratap, komat-kamit panjang lebar saat pengakuan dosa, dan berlaku suci di gereja. Namun, Senin sampai Sabtu, kembali kumat! Dalam kenyataannya fenomena tersebut telah menjamur pada saat ini, lalu perlu mempertanyakan hakikat pertobatan yang sesungguhnya. Apakah yang dimaksud dengan pertobatan itu? Dalam bahasa Ibrani, istilah yang digunakan untuk menunjukkan pertobatan adalah syub (Yer. 3:14, Mzm. 78:34, dan Yer. 18:8). Syub artinya berbalik atau bertobat. Sementara itu, dalam Perjanjian Baru, istilah yang digunakan untuk menunjukkan pertobatan adalah metanoia, yang artinya ‘berbalik arah.’
                Dalam nas ini pesan yang dimuat dalam Kitab Hosea adalah pentingnya pertobatan bagi bangsa Israel  pada masa pemerintahan Yerobeam II. Cecara umum Kitab Hosea menceritakan tentang bangsa Israel yang telah membelakangi Allah dengan menyembah kepada berhala.  Ironisnya, pada masa ini terjadi kebobrokan moral dan spiritual yang sangat parah dalam diri orang-orang Israel.  Kemakmuran yang seharusnya membawa mereka semakin bersyukur dan dekat dengan Allah, malah membawa mereka  mengkhianati Allah dengan cara menyembah kepada berhala-berhala.  Hosea menekankan pentingnya pertobatan umat jika mereka ingin dipulihkan Ia ingin mengingatkan bangsa Israel akan ketidaksetiaan mereka dan berbalik kembali kepada Allah. Itulah yang dinubuatkan oleh Nabi Hosea dalam nas ini. Karena itu jika mereka ingin dipulihkan, betapa pentingnya bangsa Isreal bertobat atau berbalik kepada TUHAN. Petobatan adalah jalan pemulihan hidup sebuah bangsa.
                Demikianlah dalam hidup kita sebagai pengikut-pengikut Kristus, hal bertobat adalah sebagai suatu keharusan jika kita ingin berkenan di hadapan Tuhan. Kita harus meninggalkan segala perbuatan-perbuatan yang tidak menyenangkan hati Tuhan. Dengan bertobat kita harus mengubah pikiran kita dan berbalik arah meninggalkan segala kejahatan dan selanjutnya arah hidup kita harus menghadap kepada Kristus. Sebagai bukti dari pertobatan itu adalah menghasilkan buah-buah yang indah yang bisa disaksikan oleh orang lain. Kasih kepada sesama dan menjauhkan segala yang jahat adalah sebagai buah dari pertobatan kita dalam hidup sehari-hari.                                                                          (HLT)

DOA:  Bapa Sorgawi, kuatkan dan bimbinglah aku ya Tuhan agar sungguh-sungguh bertobat dalam hidup ini. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin.

Kata-kata Bijak:
Pertobatan yang sungguh-sungguh sangat menyenangkan hati Tuhan.



Minggu, 2 Desember 2018

PENGHARAPAN AKAN DATANGNYA MESIAS
“Aku melihat dia, tetapi bukan sekarang; aku memandang dia, tetapi bukan dari dekat; bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab, dan menghancurkan semua anak Set.”  (Bilangan 24:17).

                Semua manusia yang hidup di dunia selalu mempunyai sesuatu untuk diharapkan. Orang tua berharap anak-anaknya menjadi orang yang sukses di masa depan. Karena itu pasti orang tua tersebut akan berdaya upaya memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Menyekolahkan mereka di sekolah yang terbaik, walaupun dari segi kemampuan keuangan sangat sulit untuk melakukannya. Sebagai masyarakat di tengah-tengah bangsa Indonesia, kita juga punya pengharapan. Pengharapan agar seluruh rakyatnya merasakan keadilan dan kemakmuran. Adil dan makmur dalam segala bidang kehidupan.
                Demikianlah juga dengan umat Israel, senantiasa memiliki pengharapan bahwa mereka akan berada dalam situasi yang penuh damai dan sejahtera. Apa yang menjadi pengharapan mereka sudah di nubuatkan oleh para pemimpin, nabi dsb. Sebagaimana juga dalam nubuatan yang disampaikan oleh Bileam. Sesudah dimarahi oleh Balak untuk kesekian kali, Bileam lalu tunduk pada kedaulatan Allah. Mengalirlah ujaran kelima sampai ketujuh (Bilangan 24:15-19, 20). Dalam nubuat keempat yang menjadi inti dan puncak dari rangkaian nubuat Bileam, Allah membentangkan tindak penyelamatan yang akan Dia lakukan. Nubuat tersebut kita kenal sebagai nubuat Mesianis, sebab membicarakan tentang binatang dan tongkat kerajaan yang akan keluar dari keturunan Yakub (Bil.24:17). Hal itu akan terjadi jauh di depan zaman Bileam (Bil.24:17a). Kini kita tahu bahwa Yesus Kristus, Sang Mesias, yang dibicarakan di sini. Sesudah mengucapkan nubuat Mesianis, Bileam kembali diberi Tuhan kata-kata yang membentangkan kejayaan Israel dalam zaman tersebut. Israel akan berhasil menaklukkan tanah perjanjian karena Tuhan.
                Sudah seberapa lama kita melihat dan mengalami berbagai sejarah perjalanan sebagai umat   Tuhan (manusia) di dunia ini. Sebagai orang beriman, kita patut memercayai bahwa Allah tengah mengenapi maksud-maksud kekal-Nya di dalam dan melalui gereja, umat-Nya. Mari kita menatap makin tertuju pada Tuhan Yesus, satu-satunya pengharapan bagi dunia. Berpengharapanlah kepada Allah yang setia mendampingi dan menemani kita dalam suka-duka perjalanan kehidupan ini. Allah yang tidak pernah ingkar janji. Dia akan setia dalam menggenapi setiap pengharapan yang diletakkan hanya pada-Nya. Harap akan Tuhan, hai jiwaku, Dia perlindungan dalam susahmu. Jangan resah, tabah berserah, kar’na habis malam pagi merekah. Dalam derita dan kemelut Tuhan yang setia, penolongmu. (KJ.445 “Harap Akan Tuhan”).                                                                                 (STP)

Doa: Bapa di dalam sorga, berikanlah kepadaku hati yang senantiasa berharap hanya kepada kasih dan pertolongan’Mu, Amin !

Kata-kata Bijak:
Jangan pernah melupakan Tuhan, maka Tuhan tidak akan pernah melupakan kita.



Senin, 3 Desember 2018

RAJAMU DATANG
“Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.” (Zakaria 9:9b).

                Jika kita bisa melihat dan menerima seorang yang istimewa hadir dalam rumah kita, pasti akan ada sukacita dan kegembiraan yang luar biasa. Apalagi yang akan hadir tersebut adalah seorang pemimpin atau penguasa. Seorang raja yang tidak sombong melainkan rendah hati dan lemah lembut. Mungkin kalau kita boleh katakan, seperti bapak Presiden Joko Widodo. Yang terbiasa menyapa semua masyarakat di manapun dia melakukan kunjungan kerja kenegaraan. Demikianlah suasana riuh dan ramai oleh berbagai panggilan dan sapaan akan keluar dari mulut bibir kita yang ada disekitar beliau. Pak Presiden…Pak Jokowi, dsb. Akan mengalir deras keluar dari setiap bibir dan mulut kita.
                Pasti akan lebih heboh dan gegap gempita suara yang akan terdengar dari hadirnya seorang raja segala raja. Sebagaimana Zakaria yang berseru: “Lihat, rajamu datang kepadamu…” adalah sebuah pemberitahuan yang pasti bahwa fokus kedatangan-Nya adalah untuk kita. Bahkan di sini dibicarakan tentang hal yang personal (pribadi) “kepadamu” bukan kepada yang lain. Bahkan dengan jelas dan pasti siapa yang datang tersebut adalah seorang pribadi yang memiliki karakter-sifat : “adil dan jaya, lemah lembut..” Dia datang dengan membawa kelemahlembutan, kerendahan hati, keadilan dan kejayaan. Di tidak datang dengan mengandalkan kekuasaan, kekerasan dan perseteruan.
                Orang sudah bosan dan muak dengan berbagai tindakan penguasa yang memakai pendekatan kekuasaan dan kekerasan. Sampai sekarang ada banyak peperangan, kekerasan terjadi dalam rangka mencapai tujuan dan kehendak sang penguasa. Bahkan ada peperangan, kerusuhan dan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok berbagai aliran keagaamaan. Karena itu kerinduan akan datangnya seorang raja yang membawa kelemahlembutan-kerendahan hati, kasih, damai sejahtera masih terus diharapkan. Sebagai umat Tuhan di dunia ini, kita juga memiliki peranan untuk mendatangkan damai sejahtera, kelemahlembutan, kerendahan hati. Pergunakanlah setiap kesempatan, karunia dan berkat dari-Nya untuk melayani sesama. Sehingga setiap orang dapat merasakan, bahwa Raja itu sudah hadir dan berada bersama kita di dunia ini. Agar penuhlah sukacita dan kegembiraan di dalam hati setiap orang, bahwa pengharapannya memang sudah diwujudkan. Ada damai dan sukacita di hati, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Selamat mempersiapkan diri terus menerus, menyambut kehadiran sang raja damai yang selalu bersedia datang kapan dan dimanapun.                          (STP)

DOA: Tuhan Yesus yang maha baik, Engkaulah Allah dan Rajaku, datanglah dan penuhilah seluruh hati dan hidupku, sekarang dan sampai selama-lamanya, Amin !

Kata-kata Bijak:
Orang yang pesimis melihat kesulitan di dalam setiap kesempatan. Orang yang optimis melihat kesempatan dalam setiap kesulitan. (Winston Churchill)


Selasa, 4 Desember 2018

TUHAN PENGHARAPANKU
“Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH.” (Mazmur 71:5)

                Sejak masa muda, sebuah pengakuan yang harus menjadi renungan kita bersama. Ada orang sejak masa mudanya telah terbiasa dengan hal-hal buruk dan jahat. Ada juga orang yang sejak masa muda sudah terbiasa dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Pilihan mana yang kita ambil itu juga adalah hak kita sepenuhnya. Tidak ada yang bisa melarang kita untuk mengambil pilihan yang mana. Mungkin orang lain hanya bisa memberi arahan dan pandangannya saja. Keputusan terakhir masih tetap ada pada diri kita sendiri. Dalam istilah Perjanjian Baru “Latihlah dirimu beribadah” (I Timotius  4:7b), melatih diri terus menerus sejak  masa muda untuk mendapatkan hasil yang baik pada masa yang akan datang. Latihan atau pelatihan biasa dilakukan oleh milliter, olahragawan, dsb. Pelatihan yang dilakukan adalah untuk mencapai suatu tujuan atau target tertentu.
                Pemazmur sudah sejak lama melatih dirinya untuk selalu berharap dan percaya hanya kepada Allah saja. Apapun masalah dan persoalan yang dihadapi, dia tetap menyerahkan harapan dan percayanya kepada Allah. Tidak  ada yang lain akan dapat menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya, kecuali hanya Allah. Hal tersebut tidak terjadi begitu saja, melainkan karena sudah dilatihnya berpuluh-puluh tahun. Bukan sekali dua kali saja, dia mempercayakan hidupnya kepada Allah.  Melainkan sudah berpuluh-puluh kali itu dilakukannya. Latihan yang terus menerus mendapatkan sebuah kesimpulan : Allah dapat diandalkan dan dipercayai. Dia tidak pernah lupa akan janji-janji-Nya. Allah Yang setia. Ada banyak pernyataan tentang Allah yang setia dalam pengalaman hidup pemazmur. Apakah kita juga terus percaya dan berharap kepada Allah sampai saat ini ?
                Apa yang menjadi alasan anda untuk tetap percaya dan berharap kepada Allah ? Apa karena Dia masih memberi berkat-Nya, bagaimana kalau tidak ? Apakah kita masih mau tetap percaya dan berharap juga ? Kasih dan kepercayaan yang tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi, itulah kasih yang sejati. Kasih yang seperti itulah yang dimiliki oleh Allah kepada kita manusia. Walaupun kita tidak setia, Dia akan tetap setia kepada kita. Karakter, jati diri Allah adalah kesetiaan-Nya. Walaupun Dia juga memiliki keadilan, adil untuk melaksanakan hukuman bagi setiap pribadi yang melakukan kesalahan dan kejahatan. Mari tetap serahkan hidup kita kepada Allah yang dapat dipercaya. Dia senantiasa mendampingi seluruh perjalanan hidup kita kini dan nanti. Berharap dan percayalah hanya kepada Dia.

DOA: Tuhan Yesus, aku tetap berharap dan percaya hanya kepada-Mu. Berikanlah kekuatan untuk aku dapat menjalani setiap kesulitan hidup maupun dalam senangnya hidup. Amin !
Kata-kata Bijak:
“Kesalahan adalah pengalaman hidup, belajarlah darinya. Jangan mencoba tuk menjadi sempurna. Cobalah menjadi teladan bagi sesama.” (Anonim)


Rabu, 5 Desember 2018

TUHAN SETIA BAGI KITA
“Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia
yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.” (Yesaya 55:3).

                Di tengah-tengaah pembuangan Babel bangsa Israel mengalami kesulitan dan penderitaan hidup, bahkan mereka dalam keadaan hancur tanpa harapan. Yesaya memberitakan bahwa tak lama lagi Allah membebaskan umat-Nya dan membawa mereka pulang ke Yerusalem, untuk memulai suatu hidup baru. Tema penting bagian ini ialah bahwa Allah itu TUHAN yang menguasai sejarah, dan bahwa Ia merencanakan untuk mengutus umat-Nya ke segala bangsa yang akan diberkati melalui Israel. Ayat-ayat tentang "Hamba TUHAN" merupakan salah satu bagian yang paling terkenal dari Perjanjian Lama. Periode ini menggambarkan begitu terpuruknya bangsa Israel, hal ini ditandai dengan Yerusalem menjadi puing-puing dan umat terbuang ke Babel.
                Pembuangan ini berlangsung sangat lama. Sampai-sampai, bangsa Israel menganggap Allah telah melupakan umat pilihan-Nya. Identitas dan kebesaran bangsa itu hancur lebur seiring dengan kehancuran kerajaan Israel. Karena itu Yesaya mengajak umat Tuhan di dalam pembuangan untuk bersegera menyadari dosa dan kesalahan yang telah mereka lakukan di hadapan Allah. “Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku…” itulah ajakan yang diserukan oleh nabi Yesaya kepada umat Tuhan. Janji bagi setiap orang yang mau mendapatkan hidup yang baik di dalam Tuhan. Dia tidak pernah melupakan akan janji-janji-Nya. Dia adalah Allah yang setia dari dahulu sampai selama-lamanya.
                Dalam kehidupan kita masing-masing, sering tanpa disadari sudah berada jauh dari apa yang menjadi kehendak-Nya. Akhirnya kita terbuang jauh dari hadapan Dia. Terbuang dalam rasa sepi, hidup merasa hilang tujuan. Untuk segala daya dan upaya, karya dan karsa, seolah-olah tidak berarti lagi. Rasa hampa hadir dalam hati, gundah gulana, semangat pun tidak ada lagi. Apa yang harus kita lakukan ? Mungkin kita harus kembali melakukan apa yang menjadi seruan dan ajakan dari Yesaya in yaitu untuk menyendengkan telinga kita secara pribadi dan kemudian datang lebih mendekat kepada-Nya. Kita mau untuk dikoreksi dan selanjutnya memperbaiki diri dalam kerendahan hati. Mau belajar dan diajar mana seharunya jalan yang akan ditempuh. Selalu berharap dan bergantung sepenuhnya akan petunjuk dan arahan yang diberikan oleh Firman Tuhan. Keyakinan kita tidak pernah bergeser dari Tuhan yang berjanji akan memberi kehidupan. Mari terus berharap akan Dia di sepanjang hidup kita, kini, dan sampai selama-lamanya.

DOA : Tuhan Yesus yang Mahabaik, mohon belas kasihan-Mu untuk’ku saat ini, ampunilah setiap dosa dan kesalahanku, bawalah aku dalam anugerah yang kekal. Amin !

Kata-kata Bijak:
“Mendengarlah sedemikian rupa sehingga orang lain senang berbicara denganmu” (Anonim).



Kamis, 6 Desember 2018

CARILAH TUHAN
“Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku
dari segala kegentaranku.” (Mazmur 34:5).

                Masih segar di ingatan kita lagu Sekolah Minggu: “Apa yang dicari orang..uang, apa yang dicari orang, pagi, siang, malam-petang, uang-uang-uang, bukan Tuhan Yesus! Tidak salah memang orang bekerja dan mencari kekayaan. Salah jika hidup kita akhirnya bergantung sepenuhnya hanya kepada harta dunia ini. Ingatlah nasehat kebenaran Firman Tuhan dalam Matius 6:19-21: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya…”
                Dalam nas ini pemazmur memberitahukan kesaksiannya sendiri tentang pengalaman yang telah dia lalui bagaimana Allah yang dipercayainya melakukan perkara-perkara yang ajaib. Secara keseluruhan Mazmur 34 ini adalah nyanyian syukur dan pujian atas berbagai tindakan dan perbuatan Allah dalam kehidupan pemazmur. Kebaikan Allah mampu dipahami walaupun melalui hidup yang penuh penderitaan. Kesulitan hidup seperti apa yang sedang dijalani oleh Daud pada waktu itu dapat kita membacanya dalam 1 Samuel 21-10-15. Pada waktu itu Daud menghadapi ancaman pembunuhan oleh Saul. Sehingga dia harus melarikan diri (bersembunyi), berpisah dari Yonatan sahabat karibnya, berjumpa dengan Akhis yang membenci Daud karena telah membunuh Goliat. Akhirnya Daud merasa gentar, tertindas dan sesak. Ia merasa terjepit dan tidak ada seorangpun yang dapat diandalkan, selain Tuhan. Perhatikanlah bagaimana Daud mengalami kebaikan Tuhan dalam penderitaannya : “Aku mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku dan melepaskan aku…” Daud mengalami kasih Tuhan lebih mendalam justru di tengah penderitaannya. Ia merasakan Tuhan dekat dengan orang yang patah hati dan yang menyelamatkan orang yang remuk jiwanya. Karena itu, bukannya mengecam Tuhan atas kesusahan hidupnya Daud justru memuji Tuhan dan mengajak umat membesarkan nama-Nya (Mzm. 34:4).
                Kita sudah memasuki hari ke-6 di bulan Desember ini, sebagai bulan terakhir di tahun 2018. Sebentar lagi akan segera kita tinggalkan dan memasuki tahun 2019. Cobalah melihat ke belakang, dalam perjalanan hidup kita dan keluarga. Sudah seberapa banyak penderitaan dan kesulitan yang kita lalu dalam ketaatan, dan kita memuji Tuhan di sana. Atau justru ada banyak hari dalam hidup kita yang berlalu dengan kekesalan hati dan ketidakpercayaan kepada Tuhan.                                                                                  (STP)   

DOA: Tuhan ajarkan kepada’ku agar terus setia dan taat dalam mencari kerajaan-Mu dan kebenaranya, sehingga kami semakin berbahagia didalam-Mu, Amin !

Kata-kata Bijak:
Kita tak akan pernah belajar untuk menjadi berani dan bersabar, jika saja hanya ada kesenagan di dunia ini.” (Helen Keller).



Jumat, 7 Desember 2018

ALLAH SETIA DALAM JANJINYA
“Maka kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu." (Yeremia 30:22)

                Kita semua pasti pernah berjanji dan membuat perjanjian. Baik perjanjian terhadap seseorang (pribadi) maupun juga dengan banyak orang (organisasi). Berjanji atau melakukan perjanjian antar keluarga maupun juga perjanjian antar bangsa. Perjanjian yang dibuat karena ada silang sengketa (persoalan), perjanjian dalam kondisi damai. Perjanjian yang bernilai ekonomi-perdagangan, politik, sosial, dsb. Semua bentuk perjanjian tersebut pada umumnya diarahkan dan bertujuan untuk kebaikan di antara yang melaksanakannya. Namun ada banyak perjanjian yang dengan komitmen  untuk dilakukan ternyata pada akhirnya tidak pernah dilaksanakan. Tidak demikian dengan Allah yang melakukan perjanjian kepada umat-Nya. Dia tidak pernah ingkar janji, Dia adalah Allah yang setia dalam melakukan setiap janji-janji-Nya.
                Dalam ayat renungan kita hari ini adalah sebuah rumusan perjanjian antara Allah dan umat-Nya (bnd. Ul. 26:17-18’ 27:9; 28:9). Secara khusus khusus dalam nas ini dikatakan: “Maka kamu akan menjadi umat-Ku, dan Aku akan menjadi Allahmu!.” Di dalam perjanjian ini terkandung berbagai unsur pengharapan dan berkat. Allah ingin membuktikan bahwa Dia berbeda dengan allah-allah yang ada di dunia ini. Dia adalah Allah yang tidak pernah ingkar janji kepada umat-Nya. Dia senantiasa setia menemani dan memberkati mereka. Dia adalah Allah yang dapat dipeercaya dan yang tidak pernah mengingkari janji-Nya bahkan sanggup menggenapinya.
                 Janji yang sama Ia berikan kepada kita. Ia telah berjanji mengampuni dosa kita, menyembuhkan luka batin kita, menyertai kehidupan kita di dunia ini, serta memberikan surga mulia kelak. Kita akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah kita. Semua janji ini sudah Allah buktikan dan genapi melalui pengurbanan Tuhan Yesus di kayu salib. Kita bisa menemukan semua janji Allah dan penggenapannya di dalam Alkitab. Sudahkah kita membaca Syair lagu PKJ 165:1-3 “Janji Yang Manis”? Lagu itu sangat tepat menggambarkan firman Tuhan dalam renungan kita ini: “Janji yang manis : “Kau tak Kulupakan”, tak terombang-ambing lagi jiwaku. Walau lembah hidupku penuh awan, nanti ‘kan cerahlah langit di atasku. Ref. “Kau tidak ‘kan Aku lupakan, Aku memimpinmu, Aku membimbingmu; Kau tidak ‘kan Aku lupakan, Aku penolongmu, yakinlah teguh”.Jika kita mau menjadi umat Tuhan dan kita mau menjadikan Dia “Allah” yang sesungguhya, maka di dalamnya kita akan mendapatkan ketenangan dan keteguhan hidup.                       (STP)

DOA: Allah Bapa di sorga, aku rindu untuk  menjadi umat pilihan-Mu dan menjadikan Engkau, Tuhan dan Juruselamat’ku, Amin !

Kata-kata Bijak:
“Nikmatilah hal-hal kecil, karena suatu hari anda mungkin akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa itu merupakan hal-hal besar.” (Robert Brault)



Sabtu, 8 Desember 2018

ALLAH MENYELAMATKAN
“Dengan perbuatan-perbuatan yang dahsyat dan dengan keadilan Engkau menjawab kami, ya Allah yang menyelamatkan kami, Engkau, yang menjadi kepercayaan segala ujung bumi dan pulau-pulau yang jauh-jauh.” (Mazmur 65:6).

                Ada banyak cara dipakai oleh Allah untuk melaksanakan setiap rancangan-Nya kepada manusia ataupun juga umat-Nya. Allah bisa mempergunakan berbagai peristiwai dalam semesta untuk menyatakan kekuasaan-Nya. Dalam nas ini digambarkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah adalah dahsyat dan adil serta membangkitkan kekaguman, bahkan bagi orang-orang di ujung bumi. Pemerintahan-Nya atas ciptaan dan kuasa-Nya untuk meredakan badai hanyalah dua ilustrasi tentang kedaulatan Allah atas bumi.
                Terlalu banyak hal dalam hidup kita yang dapat dijadikan alasan untuk memuji Allah. Mazmur ini secara keseluruhan adalah merupakan nyanyian biasa yang dinyanyikan pada akhir musim panen. Umat Allah mengingat akan kasih setia Tuhan. Di tengah pelanggaran umat-Nya, tetap ada belas kasihan-Nya. Ada pengampunan (Mzm 65:4) yang terlihat melalui hujan yang dicurahkan sehingga tanaman dapat bertumbuh dengan baik, bahkan menghasilkan panen yang melimpah. Tindakan Allah juga terlihat di alam semesta. Melalui kedahsyatan perbuatan-Nya dan keadilan-Nya, Allah menjawab dan menyelamatkan umat-Nya. Hal ini dapat disaksikan oleh seluruuh bumi. Umat yang dekat dan di ujung bumi (jauh) mampu menyaksikannya. Karena itu kita sekalian juga diajak untuk melihat dan memuji Tuhan atas segala peristiwa alam ini. Semuanya ingin menyatakan kemahakuasaan dan kebaikan Tuhan.
                Sangat mudah untuk melihat kelemahan, kesulitan yang kita hadapi dan mempersalahkan Tuhan. Kalau kita jujur memperhatikan kehidupan saat ini, bagaimana kita masih bisa bertahan dan memperoleh kehidupan seperti sekarang? Semua karena Tuhan bukan datang menolong pada peristiwa tertentu di masa lalu. Tuhan mengampuni dosa-dosa dan memulihkan hubungan-Nya dengan kita. Dia juga memulihkan dan memberkati kehidupan keseharian kita. Renungkanlah sebuah peristiwa kecil dalam hidupmu beberapa bulan belakangan ini ! Apakah anda bisa semakin terkagum-kagum atas kasih dan penyertaan-Nya? Lalu ambil saat teduh sejenak untuk: memuji dan bersyukur tentang pribadi yang masih mau melakukan itu kepadamu. Mari naikkan puji dan syukur kepada Allah untuk kemurahan dan kasih setia-Nya. Pemulihan dari Allah masih dimungkinkan kalau kita mau bertobat dan berserah kepada-Nya.                                                 (STP)

DOA : Bapa sorgawi, bimbinglah aku Tuhan untuk semakin mengerti akan kehadiran-Mu dan kemahakuasaan-Mu melalui perbuatan-perbuatan-Mu yang besar. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Persoalan hidup akan membuat kita melihat kasih, kehendak, dan kuasa-Nya,
apabila kita tetap setia.”




Minggu, 9 Desember 2018

HIDUP KUDUS MENYAMBUT SANG RAJA
Aku menasehati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa” (1 Petrus 2:11b).


Hampir setiap orang tua punya kekhwatiran tersendiri ketika anaknya hendak merantau baik mengenyam pendidikan ataupun bekerja ke kota besar. Adapun bentuk kekhawatirannya yaitu apakah anaknya bisa menjaga dirinya dengan baik, apakah makannya teratur, siapa yang merawat anaknya jika terbaring sakit dan masih banyak kekhawatiran lainnya. Satu bekal yang paling penting yang diberikan orang tua kepada anaknya yang akan merantau ke tempat yang jauh bukanlah uang, juga bukan perabotan tetapi sebuah nasihat. Dalam istilah orang Batak, tidak lengkap rasanya kalau seseorang mau pergi merantau tidak diberikan nasehat (poda). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata nasihat memiliki arti ajaran atau pelajaran baik; anjuran (petunjuk, peringatan, teguran) yang baik. Biasanya orang tua akan memberikan nasehat kepada anaknya yang akan pergi merantau agar anakna belajar dengan baik, pintar-pintar berteman, rajin ibadah, dan yang paling sering diberikan adalah agar si anak mengenal siapa dia (mananda dirina). Harapan orangtuanya tentu agar si anak akan menjadi orang yang berhasil.
Begitupun dalam nas kita saat ini kita melihat bagaimana Petrus memberikan nasihat kepada orang-orang pendatang dan perantau yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia (lih psl.1:1) agar mereka menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging serta hidup dalam kekudusan. Rasul Petrus menasihati jemaat yang dalam persebaran, agar dalam hubungan dengan masyarakat di sekitarnya, mereka hidup sesuai dengan panggilan Kristen atau pengikut Kristus. Sebelum menjadi Kristen, perilaku hidup keseharian mereka memang tidak berbeda dengan masyarakat sekitarnya. Tetapi setelah menjadi Kristen, rasul Petrus menginginkan mereka agar tampil beda. Tidak lagi seperti sebelumnya, tetapi sudah ada perubahan sesuai dengan identitas yang baru, yaitu sebagai orang Kristen. Satu hal yang Petrus tekankan ialah agar mereka menunjukkan sikap dan perilaku yang baik, cara hidup yang baik sebagai orang Kristen.
Ditengah besarnya perkembangan zaman dan tantangan hidup bagi kita saat ini, nasihat Petrus ini sangatlah berguna bagi kita. Ada banyak sekali godaan-godaan serta cobaan duniawi yang bisa saja menghanyutkan kita dan menjerumuskan kita kepada dosa. Tetapi meskipun ada banyak godaan serta cobaan, kita harus mampu mengendalikan diri kita dengan cara hidup yang baik serta hidup berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Melalui cara hidup yang baik dan kudus, kita mempersiapkan diri menyongsong kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini, kedatangannya yang kedua kalinya. Jika Yesus datag, agar kiranya kita ditemukan sedang hidup dalam perilaku yang baik.
                                                                                                                                          JWR
DOA: Ya Allah Bapa kami yang di surga, kuatkan kami agar kami hidup meneladani-Mu. Amin.
Kata-kata Bijak:
“Penantian terbaik kita adalah dengan selalu hidup kudus”



Senin, 10 Desember  2018

KABARKANLAH BERITA DAMAI
Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja.” (Yesaya 52:7)

Hari yang paling diinginkan serta ditunggu-tunggu dari seorang tahanan adalah hari kebebasannya. Pengharapan seorang petani adalah agar hasil panennya berhasil serta menghasilkan hasil panen yang melimpah. Setiap orang yang jatuh serta terpuruk tentulah mengharapkan datangnya pertolongan yang akan menolongnya untuk bangkit serta menyelesaikan setiap persoalan-persoalan yang dihadapinya. Tidak dapat dipungkiri, setiap orang tentulah mengharapkan dirinya menerima kabar baik. Kabar baik yang membuat seseorang itu menjadi semangat serta bersyukur kepada Allah.
             Berita damai serta berita baik inilah yang sedang diberitakan Yesaya kepada bangsa Israel yang ketika itu berada dalam pembuangan di Babel. Sebagai bangsa buangan, tentulah hidup mereka tidak sebebas ketika mereka berada di tanah mereka sendiri. Sebagai bangsa buangan, tentulah hidup mereka terkekang, tertidas serta diperlakukan dengan semena-mena. Penderitaan, keputusasaan sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Sempat terpikirkan mereka bahwa mereka tidak akan pernah kembali lagi ke tanah mereka. Ditengah keputusasaan serta hilangnya pengharapan itu, Yesaya dipakai Tuhan untuk menyampaikan berita damai dan berita baik. Masa pencobaan atau pembuangan akan berlalu. Tuhan akan melakukan sesuatu bagi mereka. Inilah menjadi hari yang baru, titik tolak yang baru. “Allahmu akan menjadi Raja” merupakan indikasi jelas mengenai penghayatan penulis akan tradisi dalam peribadahan Israel. Dimana dalam hal ini, mereka selalu menyembah Allah sebagai sosok yang memimpin Israel (sebagai raja), dan juga pemimpin dunia. Jika Allah telah menyatakan tahtah-Nya kembali, maka Israel pasti akan dipulihkan dari keadaannya.
Identitas pembawa kabar baik telah dikenal saat ini. Yesus Kristus adalah utusan perdamaian yang terbesar dari Allah. Sewaktu di bumi, Ia memberitakan kabar baik tentang akan adanya pembebasan dari segala pengaruh dosa yang diwariskan Adam, termasuk penyakit dan kematian (Mat.9:35). Yesus menjadi teladan yang bergairah dalam memberitakan kabar baik; Ia dengan sigap memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajar orang tentang Kerajaan Allah (lih. Mat.5:1-2; Mark. 6:34; Luk. 19:1-10; Yoh. 4:5-26) dan, murid-murid mengikuti teladan-Nya. Ketika kita telah mendengar indahnya berita injil, maka adalah tugas kita juga untuk menjadi pemberita-pemberita injil keselamatan. Menjadi saksi Tuhan yang mengabarkan bahwa Dia terus bekerja dalam kehidupan kita. Kiranya sebagai umat percaya kita harus sungguh-sungguh ambil bagian dalam PI.    
                                                                                                                           JWR
DOA: Tuntun kami ya Tuhan agar dapat menjadi saksi-saksi-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Berbahagialah para pembawa berita Injil”

Selasa, 11 November 2018
ALLAH YANG MENYELAMATKAN
Maka engkau, janganlah takut, hai hamba-Ku Yakub, janganlah gentar, hai Israel! Sebab sesungguhnya, Aku menyelamatkan engkau dari tempat jauh dan keturunanmu dari negeri pembuangan mereka. Yakub akan kembali dan hidup tenang dan aman,
dengan tidak ada yang mengejutkan.” (Yeremia 46:27)

Dalam hidup ini ada hal-hal tertentu yang penting yang tidak mungkin diselesaikan/diatasi oleh sembarang orang kecuali oleh ahlinya. Bila sebuah mobil yang mengalami kerusakan mesin yang amat serius dibawa kepada seorang tehnisi yang tidak punya pengalaman memperbaiki mesin rusak, bisa mengakibatkan kerusakan yang semakin parah. Uang habis, kepala pusing, namun mesin tak kunjung pulih. Begitulah kalau kita datang bukan pada ahlinya yang bisa menyelesaikan persoalan yang kita hadapi. Malaikat Tuhan bisa saja memberitakan kepada Maria bahwa ia akan mengandung dan melahirkan, tetapi seorang malaikat tidak dapat menyelamatkan manusia. Hanya Yesus yang dapat menebus serta menyelamatkan manusia.
Nas kita saat ini merupakan bagian nubuatan tentang bangsa-bangsa lain. Nubuatan ini dimulai dengan Mesir, tetangga terdekat yang menggoda Yehuda untuk dijadikan tempat mencari pertolongan dari belenggu penjajahan Babel. Yeremia mengingatkan Yehuda agar mempercayakan nasib mereka hanya pada Allah saja, karena Mesir adalah korban pasukan Babel berikutnya. Secara rinci, Yeremia menubuatkan kekalahan Mesir yang memalukan dan kehancurannya yang tak terpulihkan (lih.ay.3-12). Kemenangan Babel digambarkan sedemikian dasyat (ay.13-26). Kabar tentang takluknya Mesir oleh keperkasaan Babel ini melemahkan pengharapan Yehuda akan peluang mereka untuk pulang dari pembuangan di Babel. Oleh karena itu, Yeremia memastikan masa depan bangsa Israel sesuai dengan janji Allah (ay.27-28). Bangsa Israel yang berada dalam pembuangan pada waktu itu, akan diselamatkan oleh Tuhan apabila mereka berpengharapan serta mengandalkan Tuhan.
Betapa sering kita masuk kedalam masalah, kita terperangkap, kita merasa terpojok dalam hidup ini, maka mata kita yang pertama adalah mencari gunung mana yg bisa kita andalkan untuk kita minta tolong. Gunung orang kayakah, Gunung koneksikah (teman-teman kita), bahkan kita sering mengandalkan gunung kita sendiri (mengandalkan Kekuatan kita sendiri). Namun melalui nas kita saat ini, kita diingatkan agar kita senantiasa datang kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati, mengakui kelemahan, dan percaya apapun tantangan serta persoalan yang kita hadapi, Allah akan menolong dan menyelamatkan kita.
                                                                                                                                      JWR
DOA: YA Allah Bapa kami yang di surga, ajar kami agar senantiasa tunduk kepada-Mu, Tuhan yang menyelamatkan. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Pertolongan-Nya tidak pernah terlambat untuk menyelamatkan kita.”



Rabu, 12 Desember 2018

KEDATANGAN TUHAN YANG PENUH SUKACITA
Pada waktu itu orang akan mmeliha Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya.” (Lukas 21:27)
               
Akhir-akhir ini jikalau kita lihat di televisi, banyak sekai kejadian dan bencana yang ama memilukan, baru saja kita mendengar berita gempa tsunami di Palu dan Donggala, lalu  dilanjutkan lagi dengan peristiwa tragis kecelakaan pesawat Lion Air  yang jatuh ke sebuah laut yang menewaskan banyak orang, dan banyak sekali bencana lain. Tentu ini menimbulkan berbagai persepsi dan ketakutan masyarakat seolah-olah dunia sebentar lagi akan berakhir. Tidak sedikit orang-orang mengatakan bahwa semua bencana yang terjadi adalah tanda-tanda kiamat dan merasa masih berdosa di dunia ini. Akan tetapi ini tidak berlaku bagi orang Kristen.
Firman Tuhan hari ini ingin mengajarkan kita bahwa kita tidak perlu cemas dan takut akan apa yang terjadi pada masa yang akan datang. Karena sesuai nubuatan firman Tuhan, bahwa Yesus memang harus datang kembali, bukan lagi sebagai seorang bayi yang dibungkus dengan lampin, melainkan sebagai raja yang memiliki kekuasaan dan kemuliaan dan datang dalam awan. (Lukas 21: 27). Jangan lupa, bahwa sebelum Yesus naik ke surga meninggalkan dunia, Dia sudah terlebih dahulu menyelematkan manusia dan seluruh dunia dari belenggu dosa. Ketika di kayu salib, Dia sudah terlebih dahulu mendeklarasikan keselamatan dunia oleh bilur-bilur-Nya sambil mengatakan ”sudah selesai”. Selesailah sudah dosa-dosa kita dunia sudah dibayar dengan pengorbanan-Nya. Dan akhirnya, setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh.3:16).
Saudara yang dikasihi Sang Bapa, apakah saudara merasa hidupmu masih bergelimang dosa dan tidak pantas di hadapan Tuhan? Apakah ketika melihat tanda-tanda dunia yang semakin menua membuat saudara takut dan cemas? Saatnya lah bertobat dan segera berbalik ke jalan-Nya yang benar. Bukankah Dia mengatakan, ‘Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup, tidak seorang yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh.14.6). Karena orang yang diselamatkan adalah orang yang menerima dan mengakui Dia sebagai Juru selamat. Oleh karena itu, kedatangan Tuhan bukanlah sesuatu yang menakutkan akan tetapi menjadi sukacita yang besar bagi kita yang percaya kepada-Nya. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Marilah terus berjaga-jaga dan setia sampai akhir walaupun banyak tantangan dosa yang menggoda. Agar ketika tiba masanya, kita akan diberikan mahkota kehidupan.
                                                                                                                                                   PT
DOA: Bapa Surgawi, terima kasih sudah menyelamatkan kami dari belenggu dosa,
ingatkanlah kami selalu untuk tetap berjuang dan setia kepadaMu sampai dunia akan berakhir. Amin
Kata-kata Bijak:
Seperti pengantin wanita yang menantikan kedatangan Pengantin Pria, demikianlah orang percaya menantikan Tuhannya.




Kamis, 13 Desember 2018

TUHANKU, HARAPAN DAN KEBAHAGIAAN SEJATI
Dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorai-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh (Yesaya 35:10).

Suatu ketika ada seekor burung kecil yang dikurung dalam kurungan besi membuat seekor burung terpenjara dan tidak dapat bebas melakukan apa yang ia mau, sukai, dan sesuai dengan kehidupannya. Burung ini hanya dapat menatapi diri di dalam kurungan tersebut. Namun ketika burung itu dilepas oleh seseorang dari kurungan tersebut, maka si burung pun terbebas dan hidup bebas dengan burung burung yang lain. 
Firman Tuhan yang kita baca hari mengajarkan mengenai pengharapan dan keselamatan yang daripada Tuhan kepada umatNya. Bahwa seluruh bumi akan bersorak-sorak dalam keindahan dan kekaguman yang besar akan terjadi diantara manusia. Kegenapan keselamatan itu hanya dalam Kristus yang akan mengalahkan segala kuasa iblis. Hidup itu memang penuh dengan kesulitan, dan seringkali merebut kebahagiaan dari seseorang, bahkan jika kesulitan itu merupakan malapetaka, perbudakan dosa, dan keterpisahan manusia dari Allah. Allah yang memperhatikan umatNya yang mengalami penindasan dan dukacita, bangkit memberkati bangsa Israel dan menghukum lawannya bangsa Edom dengan kutuk. Kasih dan setia Allah itulah yang kembali menebar semarak pengharapan umat. Pengharapan yang sempat layu dan kering. Namun pengharapan keselamatan dari Allah berpihak pada mereka. Keselamatan kekal inilah kerinduan terdalam umat Allah, ada pemulihan, kesembuhan, kedamaian, pembaharuan kondisi hidup. Keselamatan itu hanya berlaku bagi orang yang berjalan, hidup, dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus.
Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, dalam kehidupan dan dunia ini selalu menawarkan kebahagiaan kebahagian semu yang membuat kita jauh dari Tuhan bahkan membuat kita memberontak akan perintah perintah Tuhan. Tuhan kita adalah harapan dan kebahagiaan sejati, mengajarkan kita hanya dalam Yesuslah ada kepastian, yang terbaik, sukacita, kesembuhan, kedamaian, pembaharuan sikap hidup, dan kehidupan yang kekal. Di dalam Yesus ada janji yang pasti. Sebaliknya ketika kita tidak mengandalkan kebenaran dalam dunia ini dan hidup selalu dalam dosa maka dampaknya ialah akan berakibat fatal. Bahkan sukacita dalam hidup akan hilang: kesedihan, kebencian, dendam, ketidaktentraman, ketakutan, kekuatiran, permusuhan, dan lain lain.
PT
DOA: Bapa surgawi, kami mau menyerahkan seluruh hidup kami dalam pimpinanMu, sebab dalam hanya dalam Engkaulah sukacita, harapan, kebahagiaan sejati dalam hidup ini. Amin.

Kata- kata Bijak :

Setiap pekerjaan yang kurang dimotivasi oleh kasih Yesus Kristus akan berakhir dengan hati yang hancur dan keputusasaan.




NB: Untuk bahan renungan di bulan-bulan yang sudah berlalu bisa diminta kepada Admin lewat email: gkpiapostolat@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar