Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan September bagi kita sekalian. Dalam kesempatan ini kami sampaikan bahwa gereja kita GKPI sedang mempersiapkan diri untuk pelaksanaan Sinode Am Kerja (SAK) GKPI XXI, yang akan diselenggarakan pada tanggal 2-6 Oktober 2018 di GKPI Center, Pematangsiantar. Kiranya Sinode ini berjalan dengan baik dan seluruh peserta berada dalam keadaan sehat untuk mengikuti momen yang sangat penting ini. Kami memohon kiranya seluruh warga jemaat GKPI dapat mendukung dan mendoakannya agar kiranya Sinode ini berjalan dengan baik dan sukses. Selanjutnya tema bulanan GKPI pada September 2018 ini sebagaimana diaturkan dalam Almanak GKPI adalah: “Diberkati Untuk Menjadi Berkat” yang didasarkan pada terang nas Kejadian 12::1-2: “Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar; dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat." Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini memperoleh semangat baru untuk melaksanakan Firman Tuhan ini, yaitu menjadi berkat bagi semua orang. Kita terpanggil untuk menjadi berkat di tengah-tengah kehidupan kita sebab kita telah lebih dahulu diberkati oleh Tuhan melalui Yesus Kristus. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini.

Tuhan memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Arsip Renungan Harian Terang Hidup GKPI





Sabtu, 1 September 2018
ANAK-ANAK ALLAH
“Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.”
(Galatia 3:26).

                Penegasan tentang jati diri itu penting. Hal ini akan menjadi penyemangat dan kebanggaan bagi seseorang. Saat ini di negara kita ini pun terjadi perang hastag atau tagar yang ditambahkan dengan jargon-jargon. Hal itu menjadi identitas baru bagi seseorang khususnya di dalam sosial media. Ada yang bangga dengan hastag tersebut yang memperlihatkan posisi politiknya. Kita pun melihat pengagum hastag tersebut akan berupaya membuktikan diri dalam arus hastag tersebut baik melalui komentar-komentar atau me-like  yang membahas hastag tersebut. Sebagian orang pun mendandani diri secara nyata. Mereka membuktikan diri sebagai  bagian dari hastag atau tagar tersebut.
                Lalu bagaimana kita menegaskan diri sebagai anak-anak Allah dalam kehidupan kita ini? Lalu apa yang mendasari diri sebagai anak-anak Allah? Sebutan atau penegasan diri sebagai anak-anak Allah bukanlah karena diri kita tetapi karena iman.  Dengan demikian menyatakan diri sebagai anak-anak Allah mempunyai konsekuensi bahwa arah/kompas atau penggerak hidup kita adalah Kristus itu sendiri. Kristus sebagai patron dari hidup kita.
Kini klaim sebagai anak-anak Allah telah dipengaruhi oleh klaim kebaikan menurut dunia ini misalnya pamakaian jargon-jargon dunia ini, cara beribadah, cara berdoa. Akhirnya orang percaya saat ini hanya bercokol kepada intelektual dan pendandanan diri dengan model ibadah yang dianggap paling benar.
                Sebutan anak-anak Allah dalam nas ini lebih berkaitan dengan iman yang mengubah atau membaharui perilaku semua orang. Iman menjadi dasar berperilaku bukan Hukum Taurat. Hukum Taurat menuntun kita (ay 24) bukan menyelamatkan. Hukum taurat tersebut menyatakan larangan dan perintah. Dengan adanya Hukum Taurat kita mengenal dosa. Perjanjian Lama telah membuktikan kepada kita bagaimana umat Tuhan (Israel) yang selalu gagal memberlakukan hukum taurat. Demikian pula dalam Perjanjian Baru bagaimana orang Farisi, Saduki dan Ahli Taurat menyalahgunakan Hukum Taurat untuk mencari kemuliaan mereka. Mereka menjadikan diri sebagai pembela Hukum Taurat. Dengan mudah mereka menuduh yang satu dan yang lain sebagai orang berdosa. Mereka mempertontonkan diri seolah-olah orang yang saleh dan tak berdosa. Ternyata dihadapan Kristus mereka adalah orang-orang yang munafik. Hukum Taurat tidak mereka lakukan dengan sepenuh hati. Mereka mencari pujian dari umat manusia. Itulah yang dibaharui oleh Yesus Kristus. Hukum Taurat bagi Yesus Kristus adalah menuntun manusia untuk mengenal dosa. Yang menyelamatkan itu adalah Tuhan dengan anugerah-Nya  melalui iman kita. Arti iman bagi kita sebagaimana dalam Ibrani 11:1 adalah kita adalah orang yang percaya dan memiliki pengharapan akan hidup kekal. Itulah sebabnya hidup anak-anak Tuhan mestilah berjalan dalam iman. (HUM).

DOA: Tuhan ajar kami menjadi anak-anak Mu yang takut akan Engkau dan memberlakukan apa yang telah Engkau berlakukan Amin.

Kata-kata Bijak:
Anak-anak Allah itu bukanlah jabatan tetapi amanah untuk melakukan kehenda-Nya.

Minggu, 2 September 2018

BISA ULAR PUN TIDAK MEMPAN
“Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api, dan ia sama sekali tidak menderita sesuatu.” (Kisah Para Rasul 28:5).

                Ketika Dr.I.L. Nommensen melakukan pekabaran Injil di Silindung tahun 1863, banyak tantangan yang dia hadapi terutama dari penduduk sekitar yang masih primitif (pelbegu). Suatu ketika diceritakan bahwa ada penduduk setempat memberi makanan dalam sebuah piring kepada Nommensen yang di dalamnya telah berisi racun. Tetapi sebelum Nommensen memakannya, sudah lebih dahulu anjingna yang bernama Tuan Sipangkur mencicipinya, lalu anjing itu tiba-tiba mati. Dengan kejadian itu, Nommensen tidak mau lagi memakannya karena sudah mengandung racun. Dia terbebas dari maut itu. Itulah salah satu bentuk pemeliharaan Tuhan bagi Nommensen sebagai hamba-Nya.
                Hal yang sama juga kita lihat dalam kisah penginjilan yang dilakukan oleh Paulus di Malta. Alkisah ular yang menggigit tangan Paulus terjadi di sebuah pulau yang bernama Malta. Ketika itu Paulus dan beberapa orang rekannya baru mendarat di Malta dan disambut dengan begitu ramah oleh penduduk setempat. Karena cuaca begitu dingin dan mulai hujan, mereka menyalakan api besar untuk menghangatkan badan. Ketika Paulus memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkannya ke atas api, keluarlah seekor ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya. Dengan kejadian itu, penduduk Malta mengganggap Paulus itu seorang pembunuh, itulah sebabnya dia digigit ular beludak itu. Peristiwa itu dianggap sebagai kutukan Dewi Keadilan. Eh, ternyata sangkaan mereka tidak benar. Paulus ternyata tidak apa-apa, dia aman-aman saja. Ketika ular itu menggigit dia, segera ia mengibaskan ular itu, dan ia sama sekali tidak menderita sesuatu. Dalam konteks ini kita melihat bahwa Tuhan selalu memelihara hamba-Nya yang melayani dan mengabarkan Injil buat Dia. Dalam Markus 16:18, Yesus berkata: “mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka.” Nyatalah kebenaran  janji Tuhan Yesus: “Dan Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai ahir zaman.” (Mat.28:20b).
                Nas renungan hari ini memberikan pelajaran yang sangat penting bagi orang-orang percaya supaya tetap tegar dan kuat dalam pelayanan yang diembankan Tuhan kepada kita. Barangkali kita sedang melakukan pelayanan di tengah-tengah Gereja-Nya, apakah kita sebagai pelayan tahbisan atau anggota Majelis atau kita sebagai warga jemaat biasa, namun kita turut ambil bagian dalam pelayanan Tuhan sekarang ini. Marilah kita lakukan seluruh pelayanan itu dengan tulus. Jika kita sedang menghadapi tantangan dan pergumulan, tidak perlu takut sebab Tuhan menyertai kita. Tuhan Yesus telah menjamin bahwa Dia akan menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman. (HLT).

DOA: Bapa Sorgawi, kuatkan dan teguhkanlah kami untuk melakukan misi Tuhan di tengah-tengah kehdiupan ini. Biarlah kami tidak gentar menghadapi tantangan apapun sebab Engkau beserta dengan kami. Amin.

Kata-kata Bijak:
Bersama Tuhan tidak ada ketakutan dalam pelayanan.

Senin, 3 September 2018

MEMILIKI ETIKA YANG BAIK
“Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.” (Titus 3:2).

                Dalam sejarah India, seorang tokoh yang sangat berperan dalam pergerakan kemerdekaan India adalah Mathama Gandhi. Salah satu yang menarik dari Mathama Gandhi adalah kesukaannya membaca Injil. Suatu ketika di depan orang-orang Kristen ia berkata: “Aku kagum dengan Kristus kalian itu, tetapi aku tidak suka dengan orang-orang Kristen.” Mengapa Gandhi mengatakan demikian, karena orang-orang Kristen pada waktu itu tidak memiliki sikap atau perilaku yang baik di tengah-tengah masyarakat, malahan orang-orang Kristen dicap sebagai pembuat onar, pencuri dan pemabuk. Dalam kondisi yang demikian orang-orang Kristen di India pada waktu itu gagal menyaksikan Kristus.
                Untuk menghindari sikap-sikap negatif yang demikian, dalam nas ini Paulus merindukan jemaat yang digembalakan oleh Titus agar kiranya bisa berperilaku yang baik di tengah-tengah masyarakat. Melalui Titus Paulus mengajak supaya mereka memiliki etika yang baik di tengah-tengah pemerintahan dan juga memiliki perilaku yang baik sebagai orang-orang percaya di tengah-tengah masyarakat. Dalam ayat 1 dikatakan: “Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk kepada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Di sini kita melihat ajakan Paulus agar segenap orang Kristen pada masa itu tunduk kepada pemerintah dan melakukan perbuatan baik. Selanjutnya dalam ayat 2 Paulus menasihatkan agar mereka tidak memfitnah, tidak bertengkar dan hendaknya mereka selalu ramah dan bersikap lemah-lembut terhadap semua orang. Sikap yang demikian adalah cerminan hidup orang Kristen yang memiliki etika yang baik, karena mereka telah dibenarkan oleh kasih karunia.
                Dalam konteks Indonesia yang merupakan masyarakat majemuk (pluralis), orang-orang Kristen terpanggil untuk berperilaku yang baik. Rasanya umat Kristen di Indonesia terpanggil untuk menunjukkan etika yang baik di tengah-tengah lingkungannya, yang terdiri dari masyarakat yang berbeda suku, ras dan agama. Nasihat Rasul Paulus dalam nas ini sangat relevan untuk diperlihatkan oleh orang-orang Kristen. Tidak memfitnah, tidak bertengkar dan sikap yang selalu menunjukkan keramahan dan kelemah-lembutan adalah sikap yang terpuji dan seharusnya ditunjukkan oleh orang Kristen dalam masyarakat. Kita sebagai umat percaya harus mampu membuktikan sikap dan perilaku yang baik sebab kita terpanggil menjadi garam dan terang (Mat.5:13-14). Hanya dengan sikap yang demikian, kita akan mampu menjadi saksi-saksi Kristus di tengah-tengah masyarakat yang majemuk ini. Jika kita berperilaku yang baik, maka hal itu akan menjadi kesaksian bagi orang lain, sehingga mereka akan memuliakan Bapa yang di sorga. (HLT).

DOA: Bapa Sorgawi, bimbing dan tuntunlah kami ya Tuhan, agar kiranya kami mampu melakukan perbuatan yang baik di tengah-tengah masyarakat. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Kata-kata Bijak:
Hidup dengan perilaku yang baik di tengah-tengah masyarakat adalah bukti bahwa kita adalah orang-orang yang sudah diselamatkan oleh Tuhan.

Selasa, 4 September 2018

TUNJUKKANLAH KASIHMU
“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2).

Alkisah sepasang suami istri yang baru menikah, ketepatan mereka tinggal di desa. Karena belum memiliki pekerjaan, untuk mendapat uang suami istri tersebut mencari kayu di hutan untuk di jual di pasar. Di perjalanan sang suami berkata pada istrinya, “adinda, aku sangat mengasihi dan sayang padamu, aku rela mati untuk menjagamu, nyamuk seekorpun tak akan kubiarkan menggigitmu”. Mendengar perkataan sang suami, si istri bangga dan yakin akan kata-kata sang suami. Lalu mererka terus berjalan menuju hutan. Di tengah perjalanan ada seekor beruang menghadang perjalanan mereka, si suami lari dan meninggalkan si istri. Karena tidak berdaya, akhirnya si istri pingsan. Dari kejauhan hati si suami hancur melihat beruang hendak memakan istrinya. Padahal beruang tidak suka memangsa yang tidak bergerak, si istri tidak bergerak karena pingsan. Si beruang membisikkan pada telinga sang istri: “Hanya di mulutnya suamimu mengatakan dia mengasihimu, dalam perbuatan tidak demikian.
Hal mengasihi adalah suatu perintah yang sangat penting yang diajarkan oleh Firman Tuhan kepada umat percaya. Paulus dalam nas ini menyampaikan nasihat agar jemaat di Efesus menunjukkan kasih mereka di tengah-tengah jemaat. Dalam nas ini dikatakan: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Untuk membangun persekutuan di tengah-tengah jemaat ada sikap yang mesti dikembangkan, yaitu sikap selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar. Tetapi yang terutama adalah bagaimana mereka berupaya untuk menunjukkan kasih antara yang satu dengan yang lain. Nasihat ini disampaikan oleh Paulus mengingat jemaat adalah persekutuan yang dibentuk oleh Roh Tuhan, karena itu mereka harus berusaha memelihara persekutuan dalam jemaat dengan baik. Kiranya hubungan anggota jemaat antara yang satu dengan yang lain berada dalam ikatan damai sejahtera (ay.3).
Dalam hidup ini, kita pasti sudah sering mendengarkan kata kasih dan bahkan kita sering mengucapkan kepada orang lain, “Aku mengasihimu”. Namun apakah kata-kata itu sungguh-sungguh kita ucapkan dengan sepenuh hati?. Kata-kata tidak akan berarti jika kata-kata itu hanya di bibir saja. Sebaliknya kata-kata akan memiliki makna kalau kata-kata itu dapat diwujud-nyatakan. Murid Kristus tidak dilihat dari perkataan, tetapi dari perbuatan nyata. Mengasihi berarti memberi diri merasakan apa yang dialami-Nya. Mengasihi bukan karena akan menerima balasan, tetapi mengasihi karena mengenal sumber kasih itu, yaitu Kristus. Mari saudara untuk semakin mengasihi dalam hidup kita, karena kita telah mengenal Allah yang telah memberikan kasih-Nya yang besar dalam hidup kita. (HLT).

DOA: Kami bersyukur kepada Tuhan, atas segala kasih setia-Mu yang begitu besar kepada kami. Tuhan, tolonglah kami untuk bisa mengasihi orang lain, karena sesungguhnya Engkau telah mengasihi kami lebih dahulu. Amin.

Kata-kata Bijak:

“Kasih adalah dasar untuk membangun persekutuan.”


Rabu, 5 September 2018

PERKATAAN YANG RAMAH
“Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi perkataan yang ramah
itu suci.” (Amsal 15:26).

                Sering kita berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki perkataan yang ramah. Sebagai contoh ketika kita memasuki sebuah restoran, kita disambut dengan baik dan ramah oleh pelayan restoran itu. Kata-kata yang sering kita dengar: “Silahkan masuk pak, silahkan masuk bu! Setelah itu dengan perkataan yang ramah pelayan itu menawarkan: “Bapak, ibu, mau memesan apa? Silahkan pak. bu, ini daftar menunya!” Sambil memegang catatan daftar menu yang dipesan, si pelayan menulisnya satu persatu, lalu mengatakan: “Ada lagi, cukup ini semua?” Karena tidak ada lagi, kemudian dia berkata: “Silahkan ditunggu ya pak/bu, sebentar kami akan siapkan dan antar!” Semuanya ungkapan-ungkapan itu disampaikan dengan senyum dan perkataan-perkataan yang ramah dan manis. Kita pun begitu senang dan merasa seperti raja.
                Dalam membangun hubungan dengan sesama, kita membutuhkan kata-kata yang membangun dan menguatkan. Salah satunya adalah perkataan yang ramah. Dalam nas ini dikatakan: “Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi perkataan yang ramah itu suci.” Dalam bagian ini kita tidak membahas lebih mendalam tentang rancangan orang jahat tetapi khusus tentang perkataan yang ramah. Sebagaimana dalam nas ini perkataan yang ramah dianggap suci karena motivasinya tulus dan jujur. Hal ini sudah dialami dan disaksikan dengan sungguh-sungguh oleh pengamsal, yaitu Salomo. Perkataan yang ramah itu sungguh suci sebab perkataan itu keluar dari hati yang murni.
                 Perkataan yang ramah tentu akan menyenangkan dan menyejukkan dalam percakapan. Sebab perkataan yang ramah akan membuat orang lain senang dan terbuka untuk berkomunikasi dengan kita. Coba kalau seseorang berkomunikasi dengan kita dengan kata-kata sombong, kotor dan arogan, pasti kita tidak akan suka mendengarnya. Karena itu benar apa yang dikatakan oleh Paulus: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Ef.4:29). Di sini adalah beberapa prinsip Alkitab yang bisa mengatasi banyak masalah komunikasi kita. Jika kita menggunakannya untuk mengatur kata-kata kita dengan baik dan rama,  kita akan melihat hubungan kita akan meningkat. Tanyakan pada diri anda, “Apakah kata-kata saya ramah—apakah kata-kata itu membangun orang dalam hidup saya atau sebaliknya?” “Apakah perkataan ini yang mereka perlukan disaat ini?” “Apakah perkataan ini mendatangkan kasih karunia pada mereka—apakah itu akan menguntungkan mereka?” Semoga dengan perkataan yang ramah hubungan kita dengan sesama yang lain makin akrab dan menyenangkan. (HLT).

DOA: Bapa Sorgawi, tuntun dan bimbinglah kami ya Tuhan, agar kami mampu membangun komunikasi dengan sesama melalui perkataan yang ramah. Amin.

Kata-kata Bijak:
Perkataan-perktaan yang ramah adalah sarana untuk membangun hubungan.

Kamis, 6 September 2018

LOYALITAS KEPADA MAJIKAN
“Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.” (1 Petrus 2:18).

                Ketika masa-masa SMA, kami sering melakukan gotong royong, secara khusus pada hari Sabtu. Guru menginstruksikan agar kami membersihkan ruangan kelas, pekarangan dan kamar mandi. Yang menarik adalah selama guru ada bersama-sama dengan kami sekalipun dia hanya berdiri saja, kami semua begitu serius dan  tekun membersikan bagian-bagian yang ditugaskan kepada kami. Tetapi sebaliknya ketika Sang Guru pergi sebentar ke ruangan kepala sekolah, kami hanya main-main dan ngobrol. Bagian tugas yang dikerjakan ternyata tidak siap-siap karena kami tidak serius, lagi pula tidak ada guru yang memantau. Singkat cerita, ketika guru ada kami serius dan tekun dan berlelah-lelah, tetapi tatkala guru pergi, kami santai dan main-main saja. Itulah salah satu kenangan di masa SMA, selipun memang sikap seperti itu tidak baik.
                Dalam hubungan antara hamba dengan tuan, sikap yang disebut di atas tidak benar dalam etos kerja Kristiani. Seorang hamba harus loyal secara mutlak kepada tuannya. Sebagaimana kita lihat dalam nas ini, Rasul Petrus memberikan nasihat kepada hamba-hamba agar tunduk dan loyal kepada majikan atau tuannya. “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang begis.” Hamba-hamba yang disebutkan di sini adalah golongan rendah dalam masyarakat ketika itu. Nasib hamba sebenarnya tidak sedemikian susah bila berada di bawah tuan yang baik, tetapi mereka sering diperlakukan tidak adil. Kesabaran ketika menderita hukuman yang patut diterima, bukanlah merupakan jasa. Tetapi sebagai seorang Kristen dipanggil agar rela menerima perlakuan yang kejam dari tuan yang tidak mengenal masih sayang. Sebab itu ia berkenan kepada Allah. Ketekunan dalam berbuat baik seperti itu dan kesabaran dalam penderitaan semacam itu, sebenarnya adalah panggilan untuk orang Kristen, karena hal itu adalah bagian dari persekutuan dalam penderitan Kristus (Flp. 3:10).
                Dalam dunia perkerjaan pada masa kini, apakah itu dalam perusahaan atau perkantoran hubungan antara pekerja (karyawan) dan pemilik perusahaan atau pimpinan sangat penting diperhatikan. Sebab hubungan antara keduanya sangat menentukan dalam keberhasilan perusahaan itu untuk mewujudkan tujuannya. Sebagai pekerja atau karyawan Kristen, kita terpanggil untuk tunduk, loyal atau taat kepada pimpinan kita. Ini adalah sebuah etos kerja kristiani. Tidak persoalan apakah pimpinan kita ramah atau mungkin kasar atau begis. Jika pimpinan kita begis atau kasar dan bertindak semena-mena kepada kita dan menyebabkan kita menderita, pada hal kita sudah bekerja dengan baik, itu adalah sebuah panggilan kepada kita untuk turut serta dalam penderitaan sebagaimana teladan Kristus.

DOA: Bapa Sorgawi, kuatkahlah kami untuk tetap setia dan loyal kepada majikan atau tuan kami dalam pekerjaan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Kata-kata Bijak:
Jika kita menderita karena bekerja dengan baik, itu adalah sebuah panggilan.

Jumat, 7 September 2018

MELAKUKAN KEBAIKAN
“Perhatikanlah, supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang.”  (1 Tesalonika 5:15).

                 Ada dongeng dari Timur tentang seorang pria yang memiliki cincin bertahtakan permata indah. Siapa saja yang mengenakan cincin itu begitu menyenangkan sikapnya sehingga setiap orang mencintainya. Pria ini memiliki tiga orang putera, yang sama-sama ia cintai. Maka, ia membuat cincin lain yang mirip dengan cincin ajaib itu. Ketika ia hampir menghadap ajalnya, ia mengumpulkan ketiga puteranya dan memberikan kepada mereka masing-masing sebuah cincin. Kemudian timbul perselisihan tentang siapa yang memiliki cincin ajaib yang mendatangkan banyak kebaikan kepada  pemiliknya. Maka, ketiga putera itu mendatangi seorang hakim bijaksana untuk memecahkan persoalan mereka. Ia menguji dengan teliti cincin itu dan berkata, “Saya tidak dapat mengatakan yang mana cincin ajaib itu, tetapi anda sendiri dapat membuktikan itu.” “Kami?” mereka terperanjat kebingungan. “Bagaimana caranya?” “Seperti ini”, kata hakim itu. “Cincin ajaib itu diharapkan dapat memberikan kebaikan kepada sikap orang yang mengenakannya. Maka, jalan satu-satunya untuk membuktikan bahwa engkaulah pemilik cincin ajaib itu ialah dengan menunjukkan kepada kami kehalusan budimu. Bersikaplah ramah, baik, serta jujur  dan engkau akan membuktikan dirimu bahwa sesungguhnya engkaulah pemilik cincin ajaib yang sejati”.
                Dari cerita di atas, kita dapat mengatakan bahwa kebaikan kita kepada sesama adalah bukti siapakah kita sebenarnya. Tidak persoalan seberapa besar harta dan jabatan yang kita miliki, tetapi nilai hidup kita adalah seberapa banyak kita melakukan kebaikan kepada sesama. Itulah yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat Tesalonika dalam nas ini, agar mereka jangan membalas yang jahat dengan yang jahat tetapi supaya mereka senantiasa mengusahakan yang baik di tengah-tengah jemaat maupun kepada orang lain. Dengan cara demikian mereka yang melakukan kejahatan itu sadar akan perbuatannya dan juga akan melihat kasih orang Kristen itu yang sangat berbeda dengan kasih dunia ini. Bagi jemaat Tesalonika, melakukan kebaikan kepada orang lain adalah bukti bahwa jemaat adalah orang-orang yang sudah mendapat kasih karunia.
                Demikian jugalah hidup orang percaya pada masa kini, khususnya di tengah-tengah Negara kita ini, di mana kita terpanggil untuk melakukan kebaikan bagi semua orang. Jika ada orang-orang atau kelompok yang memfitnah dan mendiskreditkan orang-orang Kristen, bahkan kelompok-kelompok intoleran, maka kita tidak perlu membalas sikap-sikap mereka yang merugikan kita tetapi sebaliknya marilah kita mengembangkan perbuatan baik bagi mereka. Perbuatan baik adalah jalan untuk mengalahkan kejahatan. (HLT).

DOA: Bapa Sorgawi, bimbing dan kuatkan kami Tuhan, agar kami senantiasa mempu melakukan perbuatan baik untuk semua orang. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Kata-kata Bijak:
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan,
tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.
Sabtu, 8 September 2018

MANUSIA BARU YANG DIPERBAHARUI
“Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu.” (Efesus 4:23).

                Hakikat manusia baru itu adalah pembaharuan yang dikerjakan di dalam Kristus. Karena itu jemaat Efesus adalah orang-orang yang hidupnya sudah diperbaharui di dalam Kristus. Hal itu bisa terjadi karena karya Tuhan yang dibaharui di dalam Roh. Paulus mengingatkan jemaat Efesus bahwa mereka telah belajar mengenal Kristus dan telah menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Kristus. Dengan pembaharuan di dalam Roh, maka mereka memiliki status manusia baru. Oleh karena itu tugas dan tanggung-jawab mereka adalah menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsu yang menyesatkan, supaya jemaat diperbaharui dalam roh dan pikirannya. Sebaliknya usaha anggota jemaat dalam hidup adalah mengenakan manusia baru, yang diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef.4:22-24).
                Suatu hal yang disyukuri oleh umat percaya sebagaimana juga jemaat Efesus adalah karya Tuhan yang menjadikan umat percaya menjadi manusia baru. Yang dimaksud dengan manusia baru di sini bukanlah manusia memiliki perubahan secara fisik tetapi perubahan hati yang sudah diperbaharui oleh Tuhan melalui Roh-Nya sehingga kita  dibenarkan dan berkenan di hadapan Tuhan. Dalam hal ini menjadi manusia baru bukanlah karena pekerjaan manusia tetapi pekerjaan Tuhan yang adalah anugerah-Nya. Namun demikian umat percaya yang telah memperoleh status manusia baru itu tidaklah menjadi pasif tetapi ada usaha dan tanggung-jawab dalam hidup sehari-hari, yaitu menanggalkan manusia lama, dalam hal ini perbuatan-perbuatan daging (bnd. Gal.5:19-21), tetapi sebaliknya mengenakan manusia baru yang menghasilkan buah Roh (bnd.Gal.5:22-23). Dalam hal ini Paulus juga menyatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor.5:17).
                Dalam kehidupan orang Kristen masa kini, kita harus sungguh-sungguh mengimani karya Kristus yang telah menjadikan kita sebagai manusia baru. Menjadi manusia baru bagi umat percaya adalah anugerah. Oleh karena itu sikap kita sebagai umat percaya adalah mensyukuri perbuatan Tuhan dalam hidup kita yang menjadikan kita sebagai manusia baru. Di samping itu, kita terpanggil untuk terus berjuang merawat status kita yang baru itu. Hal ini sangat penting mengingat kehidupan kita masa kini justru diperhadapkan dengan godaan-godaan untuk melakukan  perbuatan daging atau hawa nafsu. Hal itu diperlihatkan dengan banyak hiburan-hiburan melalui media massa dan medsos yang menawarkan tayangan-tayangan yang negatif. Hal-hal itu bisa merusak keberadaan manusia baru yang ada dalam diri kita. (HLT)

DOA: Bapa Sorgawi, biarlah kami sungguh-sungguh mengimani karya-Mu dalam Kristus yang menjadikan kami sebagai manusia baru. Kuatkan kami Tuhan agar kami mampu melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan hakikat manusia baru itu. Amin.

Kata-kata Bijak:
Menghasilkan buah Roh adalah sebagai pertanda manusia baru.
Minggu, 9 September 2018

PERTOBATAN
“Oleh sebab itu, perbaikilah tingkah langkahmu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu, sehingga TUHAN menyesal akan malapetaka yang diancamkan-Nya atas kamu”. (Yeremia 26:13).

                Di suatu kota, ada sepasang suami dan istri yang baru menikah. Keluarga muda ini telah terlebih dahulu berjanji untuk hidup setia dan tidak akan saling menyakiti satu sama lain. Di bulan kelima pernikahan mereka, sang suami sudah menunjukkan perubahan-perubahan tingkah laku yang semakin lama membuat sang istri semakin tidak nyaman. Suaminya itu semakin sering terlambat pulang ke rumah. Jika si istri menanyakan soal seringnya ia terlambat pulang, pasti ia menjawab dengan marah karena ia tidak terima jika istrinya menaruh curiga padanya. Pertengkaran pun semakin sering terjadi di keluarga tersebut. Mulai dari perdebatan kecil sampai kemarahan yang sudah pada level tinggi, sampai pemukulan-pemukulan dilakukan suami itu kepada istrinya. Tak tahan lagi akan perlakuan suaminya yang banyak berubah, akhirnya si istri memutuskan untuk berpisah dengan suaminya itu. Mendengar keputusan itu, suaminya langsung bermohon-mohon kepada istrinya dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi segala perbuatannya. Si istri pun mendengarkan permohonan suaminya. Kesempatan yang diberikan istrinya itu, digunakan suaminya untuk benar-benar merubah segala perilakunya yang buruk.
                Pertobatan adalah sangat penting untuk mewujudkan harmoni di tengah-tengah persekutuan. Itu jugalah yang diharapkan oleh nabi Yeremia di tengah-tengah bangsa Israel. Bangsa Israel yang sangat sering melanggar ketetapan Tuhan. Bangsa yang telah melupakan kasih Tuhan, yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Para Imam, para nabi dan seluruh rakyat yang mendengar apa yang disampaikan Yeremia, justru menangkap Yeremia dan mereka hendak membunuhnya. Mereka menganggap bahwa apa yang disampaikan Yeremia adalah berita palsu. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka perbuat telah membuat Allah berinisiatif untuk menghukum mereka. Kota mereka akan hancur, bahkan tidak ada lagi penduduknya. Yeremia juga menyampaikan agar bangsa itu bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Dengan pertobatan itu akan membuat TUHAN menyesal dan mengurungkan niat-Nya untuk menghancurkan bangsa yang tegar tengkuk itu.
                Pertobatan yang sesungguhnya adalah pertobatan yang harus diawali dari rasa penyesalan yang dalam. Jika seorang mengatakan bahwa ia bertobat tetapi tidak benar-benar menyesali segala perbuatannya, maka sesungguhnya ia belum bertobat. Tanpa penyadaran dan rasa penyesalan, sangat sulit untuk seseorang memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya yang jahat. Melalui renungan hari ini, kita diingatkan agar sungguh-sungguh memperbaharui segala perbuatan kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Agar kita benar-benar melakukan apa yang dikehendaki Allah dalam hidup kita. (JLS).

DOA: Bapa Sorgawi, ampunilah kami yang sering berbuat dosa kepada-Mu. Hanya dengan kemurahan-Mu itulah ya Tuhan, kami beroleh pengampunan dan kasih-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak:

Pertobatan menghasilkan suatu perubahan yang nampak dari perkataan dan perbuatan.”

Senin, 10 September 2018

MELAKUKAN PERINTAH ALLAH
“Tetapi TUHAN berfirman kepadaku: “Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan”. (Yeremia 1:7)

                Seorang anak terlihat bingung dan terus memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ia mengalami kejadian itu. Itu bermula dari satu peristiwa di sekolahnya. Siang itu, seorang murid di kelasnya telah melaporkan bahwa ia kehilangan uang dari dalam tasnya, yang seharusnya ia gunakan uang itu untuk membayar uang sekolah. Sehingga ibu guru mengumpulkan semua anak-anak dalam kelas itu dan memberitahu bahwa ada murid yang telah kehilangan uangnya. Ibu guru itu menyarankan bahwa siapa yang mengambil uang itu agar mengembalikannya. Akan tetapi, sampai keesokan harinya tidak ada satu anak pun yang mengaku dan uang itu pun tidak kembali. Sehingga guru itu memberi ultimatum kepada semua murid, bahwa jika ketahuan siapa yang mengambil uang itu, maka ibu guru akan melaporkannya ke pihak sekolah dan akan memanggil orang tuanya. Dari antara murid itu, ada seorang yang sadar akan kesalahannya. Ia mengingat pesan orangtuanya, agar selalu bersikap jujur dalam hidupnya sesuai dengan perintah Tuhan. Maka ia memutuskan untuk  mengatakan kejadian yang sebenarnya, sehingga persoalan itu pun selesai.
                Sikap anak tersebut adalah sebuah kesadaran akan perintah Tuhan yang harus dilaksanakan. Dalam Alkitab melihat sebuah refleksi dari hidup Nabi Yeremia. Baginya tidaklah mudah melakukan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Sehingga ia menjawab perintah Tuhan dengan mengatakan : “Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku masih muda.” Namun, Firman Tuhan menguatkan hatinya. Bahwa sebelum Yeremia dibentuk dalam rahim ibunya, dan sebelum Yeremia keluar dari kandungan, Allah telah menguduskan dan menetapkan Yeremia sebagai nabinya. Sehingga, Yeremia juga melakukan apa yang menjadi perintah Allah dalam hidupnya. Yeremia menjadi nabi yang diutus Allah untuk memberitahukan Firman Allah di tengah-tengah kehidupan bangsa Israel. 
                Melakukan perintah atau kehendak Allah, itulah panggilan dan tugas kita sebagai umat Tuhan. Meskipun, banyak tantangan yang bisa membuat kita bingung dan takut untuk melakukan perintah Tuhan dalam hidup kita. Seperti seorang anak yang bingung dan takut untuk mengatakan kebenaran dari kejadian yang dilihatnya sendiri. Ataupun seperti Yeremia yang juga merasakan kekhawatiran atas pilihan Tuhan kepadanya, sehingga ia harus menjawab Tuhan dengan mengatakan bahwa ia masih mudah untuk menjadi nabi yang diutus Tuhan. Melakukan apa yang sesuai dengan perintah Allah, inilah pilihan yang harus kita ambil di saat situasi ataupun kondisi yang kita alami memberikan banyak kebingungan, ketakutan dan kekhawatiran. Karena hanya perintah Allah-lah yang benar. (JLS).

DOA: Ya Allah, sumber kebenaran. Mampukanlah kami untuk tetap setia melakukan perintah dan segala ketetapan-Mu dalam hidup kami. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Perintah Tuhan adalah dasar kehidupan orang percaya yang harus terus dilakukan”
Selasa, 11 September 2018

BERBAHAGIA DI DALAM TUHAN
“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnah segala yang jahat.” (Matius 5:11).

                Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Kemajemukan Indonesia baik dari segi agama, maupun etnis dan suku telah membentuk Indonesia. Kemajemukan bangsa adalah dasar negara untuk merumuskan ideologinya. Kemajemukan bangsa Indonesia inilah yang menjadi 4 pilar kebangsaan yaitu: Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhineka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD 1945. Kemajemukan bangsa Indonesia adalah kekayaan bangsa yang harus terus dipelihara. Akan tetapi, ada pihak-pihak yang tidak dapat menerima kemajemukan ini. Mereka berusaha agar negara Indonesia menjadi negara agama. Pihak atau kelompok inilah yang cenderung menjalankan aksi radikal untuk memecah-belah kesatuan Indonesia. Mereka menggunakan agama sebagai jalan masuk. Mereka mengajarkan, bahwa di luar agama mereka adalah kafir yang harus ditumpas dan dibinasakan. Hal ini terbukti dari banyak tempat-tempat ibadah yang dibom, dirusak dan dihancurkan oleh mereka. Banyaknya orang-orang yang tidak berdosa harus merenggang nyawa karena paham radikal yang ekstrem ini. Tekanan dan penderitaan terus menjadi ancaman bagi pemeluk agama minoritas di negara ini.
                Di dalam situasi dan kondisi bangsa yang semakin mencekam ini, seluruh orang percaya yang mengaku Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat-Nya harus terus berpegang kepada Firman Tuhan yang menjadi renungan hari ini. Dikatakan bahwa : “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnah segala yang jahat.” Kata “Berbahagialah” dalam ayat itu, tidak menyuruh kita untuk tertawa-tawa dalam semua penderitaan yang kita alami karena penganiayaan itu. Melainkan, firman Tuhan terus mengingatkan kita bahwa kita menjadi orang-orang yang berbahagia, karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam semua penderitaan dan penganiayaan yang kita alami. Kita berbahagia, karena Allah juga turut menderita di dalam semua derita yang kita alami. Allah tetap memampukan kita untuk tetap setia di dalam iman kita kepada-Nya.     Berbahagia di dalam Tuhan tentu tidak sama dengan berbahagia sesuai dengan tawaran dunia ini. Karena dunia ini banyak menawarkan kebahagiaan, namun pada akhirnya menimbulkan duka yang tidak teratasi lagi. Berbahagia menurut ukuran dunia ini dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Sehingga pada akhirnya, kebahagiaan yang dicari itu menjadi kehancuran dan kebinasaan bagi hidupnya sendiri. Namun, orang-orang percaya dibimbing untuk berbahagia di dalam Tuhan. Berbahagia di dalam Tuhan, sekalipun banyak duka dan derita yang terjadi karena Tuhan memampukan kita dalam menghadapinya. Berbahagia di dalam Tuhan, karena kita tetap menjadi orang-orang yang setia di dalam iman. (JLS).

DOA: Yesus yang baik, ajarilah kami ya Tuhan untuk terus bertahan dan tetap memancarkan kasih-Mu, sekalipun banyak duka-derita yang akan kami alami karena mengikut Engkau. Amin.
Kata-kata Bijak:
“Semakin dibabat, semakin merambat.”

Rabu, 12 September 2018

KEDEGILAN HATI
“Tuhan berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka”. (1 Samuel 8:7).

                Seorang ibu tampak sedih dan matanya mulai berkaca-kaca. Di sampingnya, duduk seorang ibu muda, yang menaruh rasa iba melihat ibu yang bersedih itu. Sehingga ibu muda itu memberanikan diri untuk bertanya kepadanya : “Mengapa engkau bersedih dan sampai menangis?” Ibu itu pun menjawab, bahwa ia hanya mempunyai seorang anak. Dengan sepenuh hati, ia terus mengajari anaknya ini dan terus mendoakan anaknya itu menjadi anak yang baik, sopan, dan melakukan nasehat orang tuanya. Namun, anaknya itu sangat sering membuat ia menangis. Anaknya itu sering melawan dan berlaku kasar terhadapnya. Berulangkali ia mengingatkan anak itu, tetapi si anak tidak pernah mendengarkan perkataan ibunya. Ia tetap menjadi anak pembangkang dan terus menyakiti ibunya dengan segala perbuatannya. Mendengar cerita ibu yang sedang bersedih dan sambil menangis itu, si ibu muda berusaha menenangkannya untuk tetap melakukan yang terbaik dan mengasihi anaknya.
                Dari Firman yang disampaikan Allah kepada Samuel, dapat terlihat bahwa Allah juga bersedih karena Israel sangat sering mendukakan hati-Nya. Sampai dikatakan-Nya kepada Samuel bahwa : “Bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak.” Tuhan Allahlah yang telah menuntun hidup bangsa itu mulai dari mereka keluar dari perbudakan di tanah Mesir. Tuhan juga tetap setia menuntun perjalanan mereka dengan tiang awan pada siang hari, dan dengan tiang api pada waktu malam hari. Namun, bangsa itu melupakan kebaikan dan kemurahan Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka berbuat dosa dan segala yang jahat di mata Tuhan. Mereka juga menjadi bangsa yang tegar tengkuk, bangsa yang berhati degil, yang terus mengulangi kesalahan dan dosanya di hadapan Tuhan. Kedegilan bangsa Israel juga jelas terlihat, ketika mereka tidak mau mendengarkan perintah Tuhan yang disampaikan melalui para nabi-Nya, seperti Samuel. Mereka menolak perkataan Samuel, dan itu berarti mereka juga menolak Allah.
                Kedegilan hati, juga masih banyak dimiliki oleh orang percaya sekarang ini. Banyak orang percaya yang terlibat dalam tindakan jahat dan dosa. Hati mereka semakin degil, meskipun mereka tahu bahwa apa yang telah diperbuat adalah dosa. Melalui renungan hari ini, kita diajak untuk benar-benar merenungkan : “Apakah kita telah menjadi anak-anak Tuhan yang berhati taat?” atau “Apakah kita termasuk orang-orang Kristen yang berhati degil?” Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita melihat sejauh manakah Firman Tuhan kita pakai menjadi dasar kehidupan kita. Karena dengan membuat Firman Tuhan sebagai pegangan, penuntun, dan terang dalam hidup kita, maka kita akan dimampukan untuk memiliki hati yang taat dan setia, bukan hati yang degil. (JLS).

DOA: Bapa Sorgawi, kami sangat sering memiliki kedegilan hati dengan apa yang Engkau kehendaki. Ajar dan kuatkanlah kami ya Tuhan agar mampu untuk setia kepada-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Hati seorang murid, adalah hati yang taat dan setia kepada gurunya.”
Kamis, 13 September 2018

PEMBERITA INJIL
“Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.”
(Matius 10:14).

                Nommensen disebut sebagai “Rasul di Tanah Batak”. Sebutan sebagai seorang Rasul atau Misionaris ini sangatlah pantas, karena ia adalah seorang Pemberita Injil yang benar-benar berjuang menyebarkan injil di tanah Batak. Perjuangan yang dihadapi Nommensen sangatlah berat. Bahkan, nyawanya pun hampir menjadi taruhan, karena kondisi masyarakat Batak yang masih sangat terbelakang dan menganggapnya sebagai musuh mereka. Namun, peyertaan Tuhan senantiasa nyata dalam kehidupan Nommensen. Sekalipun ia banyak menghadapi kesulitan, namun Nommensen tidak pernah menyerah dan meninggalkan tugasnya sebagai pemberita injil. Nommensen justru berjanji dan meminta kepada Tuhan, agar hidup dan matinya untuk tanah Batak. Sungguh berat tantangan yang dihadapi Nommensen ketika itu. Ia harus berjuang untuk mengubah anggapan masyarakat batak, yang memandangnya sebagai teman penjajah ketika itu. Selain setia memberitakan dan mengajarkan injil, Ia juga terus berupaya dengan pendekatan bahasa, sosial budaya, pendidikan, dan memberi pencerahan dalam bidang kesehatan agar kehadirannya tidak ditolak oleh orang Batak waktu itu. Dengan pendekatan-pendekatan ini, maka Nommensen dapat diterima untuk memberitakan Injil, dan berhasil.
                Memang begitu banyak tantangan dalam memberitakan Injil. Hal itu sudah dikatakan oleh Yesus jauh-jauh sebelumnya. Dalam nas ini Yesus mengutus para murid untuk menjadi pemberita injil. Namun para murid akan menghadapi penderitaan, penolakan, dan penganiayaan. Akan tetapi, Allah tidak pernah meninggalkan para rasul-Nya dalam menjalankan tugas yang mulia itu. Bahkan, Yesus memberitahu bahwa setiap orang / kota yang menolak pemberita Injil, maka tanggungannya akan lebih berat daripada tanggungan yang diterima Sodom dan Gomora (ayat 15). Injil harus terus diberitakan. Inilah prinsip yang harus dipegang oleh para pemberita Injil. Sekalipun tantangan dan penderitaan datang menerpa, seorang pemberita Injil harus terus berjuang.
                Menjadi pemberita injil, inilah tugas dan panggilan Gereja. Gereja yang adalah persekutuan para murid Yesus, harus meneladani dan melakukan apa yang telah dilakukan Gurunya. Orang-orang gereja harus terus berjuang menjalankan tugas dan panggilannya sebagai pemberita injil. Menjadi pemberita injil tidaklah harus menjadi Pendeta atau Evangelis. Tugas dan panggilan kita sebagai pemberita injil dapat kita lakukan, apapun yang menjadi profesi kita saat ini. Semua umat percaya terpanggil untuk memberitakan Injil sesuai dengan karunia-karunia yang telah diberikan oleh Tuhan. Namun kita harus sadar begitu banyak tantangan-tantangan yang kita hadapi. Tetapi tidak perlu takut sebab Tuhan menyertai kita. (JLS).

DOA: Ya Tuhan Allah, Engkau-lah Tuhan yang telah memilih kami untuk mewartakan kabar baik itu. Mampukanlah kami ya Tuhan untuk menjalankannya seturut dengan kehendak-Mu. Amin.
Kata-kata Bijak:
Tetaplah bersemangat dalam pemberitaan Injil, sebab Tuhan menyertai kita.
Jumat, 14 September 2018

SUMBER PENGHIDUPAN PELAYAN
“Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?”. (1 Korintus 9:13).

                Dalam bukunya berjudul The Edge of Adventure (Penghujung Petualangan), Bruce Larson mengisahkan cerita tentang sepucuk surat yang ditemukan dalam kaleng ragi yang dicantelkan ke tangkai pompa. Surat itu menawarkan harapan satu-satunya untuk minum air pada jalan lintas padang yang jarang dilalui orang. Surat dalam kaleng itu tertulis sebagai berikut: “Pompa ini sudah baik sejak Juni 1932. Saya memasukkan cairan pembersih ke dalamnya, dan mungkin dapat bertahan hingga beberapa tahun. Tetapi cairan pembersih ini mengering dan pompa harus dipancing. Di bawah karang putih, saya menguburkan sebuah botol air putih. Ada cukup air di dalamnya untuk memancing pompa ini. Tetapi air itu akan tidak cukup jika engkau meminum sebagiannya sebelum memancing pompa. Tuanglah kurang lebih seperempatnya, dan biarkanlah air itu melumatkan cairan di dalam pompa. Kemudian tuangkanlah yang sisanya dan pompakanlah sekencang-kencangnya. Sumur ini tidak pernah kering. Percayalah! “Jika engkau sudah berhasil memompa air ke permukaan, isilah kembali botol ini dan tempatkan kembali di tempatnya semula untuk  pelancong berikutnya.”
                Cerita dalam buku itu mengajarkan tentang aturan main untuk mendapatkan air dan juga untuk cukup bagi orang-orang yang datang berikutnya. Hal yang sama juga terjadi di tengah-tengah pelayanan, bahwa orang yang melayani di tempat pelayanan itu, mendapat penghidupan dari situ. Dalam nas ini, menurut Paulus bahwa orang-orang yang melayani di tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu. Hal ini disampaikan oleh Paulus untuk menunjukkan haknya sebagai pelayan di jemaat Korintus. Namun demikian ia mengatakan, kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus (ay.12b).
                Melalui nas ini kita diajak untuk memperhatikan kehidupan hamba-hamba Tuhan, yang melayani dengan baik di tengah-tengah jemaat-Nya. Sebagai warga jemaat kita harus memahami bahwa para pelayan penuh waktu (full-timer) hidup dari pelayanannya di tengah-tengah gereja kita. Mereka tidak ada sumber kebutuhannya sehari-hari selain dari kebutuhan (balanjo) yang diberikan oleh warga jemaat. Justru pemberian jemaat itulah yang digunakan untuk kebutuhan seluruh keluarganya. Hal ini didasarkan bahwa mereka sebagai pelayan (hamba) Tuhan telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan. (JLS).

DOA: Bapa Sorgawi, kami bersyukur sampai pada hari ini kami tetap hidup di dalam kemurahan hati-Mu. Mampukan-lah kami ya Tuhan, untuk mendukung kebutuhan hidup hamba-hamba-Mu di tengah Gereja-Mu.Amin.

Kata-kata Bijak:
“Ketika kita mendukung kebuutuhan hidup hamba-hamba Tuhan,
Itu berarti kita ambil bagian dalam misi Kerajaan Allah.”
Sabtu, 15 September 2018

TAKUTLAH KEPADA TUHAN
 “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Matius 10:28).

Rasa takut tidak semuanya jelek. Takut kadang baik dan berguna. Rasa takut mencegah kita langsung meloncat di air yang dalam, menyeberang di jalan ramai sebelum melihat ke kiri dan ke kanan, mengganggu sarang lebah, memegang ular berbisa, atau meninggalkan rumah sebelum memastikan semua kompor dan alat listrik sudah dipadamkan. Rasa takut (dihukum atau dipenjara) juga dapat mencegah kita berbuat jahat atau semena-mena. Dengan kata lain rasa takut bisa menjadi rem bagi kita untuk mengendalikan diri kita untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan dan membahayakan.
Dalam kehidupan rohani ada rasa takut yang lebih dalam adalah takut kepada TUHAN. Dalam Alkitab banyak ayat-ayat yang mengajak umat percaya agar takut kepada TUHAN sebab  TUHAN itu adalah Pencipta dan Pemelihara kita. Dialah sumber hidup kita. Sebab segala sesuatu berasal dari Dia oleh Dia dan untuk Dia.  Secara khusus dalam nas ini Yesus memberikan nasihat kepada murid-murid-Nya agar kiranya siap menghadapi tantangan dan penganiayaan yang akan mereka hadapi sebagai konsekuensi dari memberitakan Injil. Untuk itu mereka tidak perlu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Sebaliknya mereka harus takut terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Dengan nasihat ini Yesus mengharapkan para murid agar berani dan tidak takut dalam memberitakan Injil sekalipun mereka harus mati atau menjadi martir. Apabila mereka mati karena terbunuh karena memberitakan Injil, mereka tentunya sudah berada dalam Tuhan, dan sekalipun tubuhnya mati tetapi mereka hidup dalam Tuhan.
Melalui nas ini kita dipanggil untuk tidak takut dalam memberitakan Injil sekalipun kita akan menghadapi tantangan dan banyak bahaya. Misalnya di Indonesia sekarang ini banyak saudara-saudara kita dari agama mayoritas sangat benci dengan orang Kristen yang memberitakan Injil. Bahkan sering mereka berupaya untuk mempolisikan orang-orang Kristen yang sengaja mengabarkan Injil. Untuk mendirikan gereja pun di suatu tempat kita sering menghadapi tantangan. Izin mendirikan gereja tidak diberikan oleh pemerintah setempat. Pada hal kita sama-sama punya hak untuk menjalankan iman dan taqwa kita di tengah-tengah NKRI ini. Sekalipun kondisi di Negara kita seperti itu, kita sebagai umat percaya dan saksi-saksi Kristus, kita tidak boleh takut. Mengabarkan Injil kepada seluruh bangsa adalah tugas dan tanggung-jawab seluruh orang percaya sebagaiamana Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat.28:19-20).Yang penting kita harus memiliki hikmat dan kebijaksanaan dalam menjalankan Pekabaran Injil itu. (JLS).

DOA: Bapa Sorgawi, kuatkan kami Tuhan untuk mengabarkan Injil-Mu di dunia ini. Kiranya kami tetap berani dan tidak takut sebab Engkau beserta kami. Amin.

Kata-Kata Bijak:
Takut akan Tuhan berarti taat dan tunduk kepada hukumNya.”

Minggu, 16 September 2018

MEMBERI HIDUP UNTUK ORANG LAIN
“Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama  dari pada dirinya sendiri”.  (Filipi 2:3).

                Dikehidupan zaman “now” ini tingkat “individualisme” semakin tinggi. Individualisme adalah paham yang menganggap diri sendiri (kepribadian) lebih penting daripada orang lain. Sehingga orang kurang memperhatikan orang lain di sekitarnya yang membutuhkan pertolongan. Apalagi semakin sekarang ini telah marak penggunaan android yang bukan hanya melanda kalangan pemuda, tetapi juga kalangan anak-anak sampai lanjut usia. Salah satunya dampak negatif penggunaan games online adalah cenderung menyeret para ‘pecandunya untuk terikat dengan ‘dunia games’nya sendiri. Pecandu games online terus ditantang bagaimana dapat memenangkan permainan yang sedang diikutinya. Lambat laun, para ‘pecandu’ atau pecinta games online hanya peduli dengan diri nya sendiri, lalu mengabaikan orang-orang yang disekitarnya, bahkan keluarganya sendiri.
                Hal yang berbeda disampaikan Paulus kepada jemaat di kota Filipi. Walaupun Paulus saat itu sedang berada dalam penjara di sebuah kota yang tidak disebutkan namanya, namun dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri dan kesusahan yang sedang dialaminya. Paulus lebih mementingkan keadaan jemaat yang pernah dilayaninya dan permasalah yang sedang jemaat itu alami. Paulus menulis surat Filipi ini untuk mengingatkan jemaat di Filipi supaya mereka tetap setia kepada Injil Kristus yang telah diberitakannya, walaupun mereka sedang menghadapi tantangan iman menjadi pengikut Yesus. Keadaan yang sulit tidak membuat Paulus menjadi egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri, justru Paulus menunjukkan kasihnya kepada jemaat yang dilayaninya.
                Apapun persoalan hidup kita, seberat apapun persoalan itu, hendaklah kita tidak menjadi manusia yang egois. Walaupun dunia ini mengajarkan untuk menjadi manusia yang egois, hanya peduli tentang dirinya sendiri, tidak peduli dengan keadaan orang lain di sekitar kita. Paulus mengingatkan kita kepada Tuhan Yesus, apa yang telah Dia lakukan bagi kita. Dia melakukan apa yang tidak dapat dunia ini lakukan untuk kita. Dia tinggalkan takhta-Nya yang mulia, dan mengambil rupa sebagai manusia yang hina, supaya kita yang hina ini menjadi makhluk yang mulia dalam pandangan Allah. Dia begitu mengasihi kita, Dia korbankan hidup-Nya untuk menebus dosa kita. Dia datang untuk melayani kita, karena kita begitu berharga dihadapan-Nya. Hendaklah pengorbanan-Nya mengubahkan kita untuk menjadikan kita sebagai orang-orang yang juga mau memberikan hidup kita bagi orang lain dan kita mau saling melayani satu dengan yang lainnya, karena Kristus telah terlebih dahulu melayani kita. Kita rela mengutamakan kebutuhan ataupun kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi kita. Sehingga Kristus dapat kita muliakan dengan perilaku hidup kita yang rendah hati tersebut.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk mau memberikan hidup kami bagi orang lain supaya Engkau dipermuliakan melalui hidup kami. Amin.

Kata-kata Bijak:
Utamakanlah kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi

Senin, 17 September 2018

KEBAHAGIAAN ORANG YANG SUKA MENOLONG
“Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah! Tuhan akan meluputkan dia pada waktu celaka. Tuhan akan melindungi dia dan akan memelihara jiwanya. (Mazmur 41:2-3a).

                Semua orang ingin hidupnya bahagia. Tidak ada manusia yang tidak ingin bahagia menjalani hidupnya di dunia ini. Berbagai cara dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Ada orang yang terus bekerja untuk mencari harta sebab baginya memiliki banyak harta adalah kebahagiaan. Ada orang yang membahagiakan dirinya dengan jabatan yang tinggi, sehingga jabatan menjadi segala-galanya. Ada orang yang membahagiakan dirinya dengan benda-benda ataupun perhiasan yang mahal, sehingga segala cara ditempuh untuk mendapatkan hal tersebut. Dan masih banyak lagi hal yang menurut ukuran dunia ini dapat membuat kehidupan kita bahagia. Dan demi mendapatkan kebahagiaan itu, kita terkadang rela mengorbankan hidup kita untuk meraihnya.
                Hal yang berbeda yang disampaikan Pemazmur kepada kita, tentang kebahagiaan. Ukuran kebahagiaan yang tidak sama dengan ukuran kebahagiaan menurut dunia ini. Letak kebahagiaan bukan pada memiliki ataupun mendapatkan sesuatu hal atau benda untuk kita nikmati dalam hidup ini. Justru hal yang sebaliknya disampaikan Pemazmur bagi kita, karena kebahagiaan itu ketika kita “memberi” sesuatu yang kita miliki untuk orang lain, terutama mereka orang yang lemah. Orang yang lemah itu berarti orang yang membutuhkan pertolongan kita, mungkin materi, waktu ataupun nasehat yang dapat kita berikan pada mereka orang yang lemah. Orang yang lemah selalu ada disekitar kita, mungkin saja mereka teman satu gereja kita, tetangga kita ataupun orang yang tinggal di sekitar kita. Kebahagiaan kita sebagai orang percaya adalah ketika kita mau menunjukkan kepedulian kita kepada sesama kita dan kita dapat melakukan sesuatu untuk menolong hidupnya.
                Tuhan memberikan janji yaitu perlindungan, pertolongan dan pemeliharaan kepada orang yang mau menunjukkan kasihnya kepada sesamanya. Apabila kita menolong orang lain, maka Tuhan yang akan menolong kita dari hal-hal yang dapat mengancam nyawa dan kehidupan kita. Apabila kita mau melindungi orang lain dari hal-hal yang membahayakan kehidupannya, maka Tuhan sendiri yang akan melindungi kita dari hal-hal yang dapat membahayakan hidup kita. Ketika kita dapat membagikan kehidupan kita bagi orang lain sehingga kehidupannya menjadi terpelihara dengan baik, maka Tuhan sendiri yang akan memelihara jiwa dan kehidupan kita. Apa yang kita perbuat bagi orang lain, maka Tuhan akan membalaskan perbuatan kita itu, bahkan lebih baik dari apa yang telah kita berikan bagi orang yang lemah tersebut. Percayalah kepada janji-Nya, bahwa setiap kebaikan yang kita berikan kepada orang lain, kita akan semakin berbahagia dengan apa yang kita lakukan.(LNS).

DOA: Bapa yang baik, tolonglah aku untuk lebih peka terhadap orang-orang yang ada disekitarku, yang membutuhkan uluran tangan dan perhatianku. Amin.

Kata-kata Bijak :
Kebahagiaan hidup bukanlah terletak pada apa yang kita miliki, tapi ketika kita mau memberi hidup bagi sesama kita.

Selasa, 18 September 2018

BUKAN SEKEDAR KATA-KATA BELAKA
“Alangkah baiknya bantuanmu kepada orang yang tidak kuat, dan pertolonganmu kepada lengan yang tidak berdaya!”  (Ayub 26:2).

                Cerita tentang Ayub dalam Alkitab merupakan cerita yang sangat menarik untuk kita renungkan. Kehidupan yang sulit karena penuh dengan penderitaan menjadi pusat perhatian dalam cerita Ayub. Ayub dicatat sebagai orang yang saleh dan jujur, takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (Ayb.1:1). Ia seorang yang percaya kepada Tuhan dan diberkati dengan anak yang banyak, kesehatan, dan kekayaan. Namun, ketika Ayub kehilangan semuanya dan sangat menderita, timbul pertanyaan, Mengapa seorang yang saleh dan setia seperti Ayub harus menderita? Apakah semua penderitaan disebabkan oleh dosa manusia? Hal itulah menimbulkan perdebatan antara Ayub dan sahabatnya yang bernama Bildad, bahwa menurut Bildad sahabat Ayub, tidak seorangpun benar di hadapan Allah, betapa besarnya Allah dibandingkan dengan manusia. Sehingga manusia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kemahabesaran Allah.
                Ayub menjawab: “Alangkah baiknya bantuanmu kepada orang yang tidak kuat, dan pertolonganmu kepada yang tidak berdaya”. Dari jawaban Ayub, Ayub tidak merasakan penghiburan dengan kata-kata yang disampaikan oleh sahabatnya Bildad. Semua yang disampaikan sahabatnya tentang Allah, Ayub sudah mengetahuinya. Namun Ayub yang sedang terpuruk karena dukacita yang dialaminya, tidak dapat menerima dengan baik perkataan yang disampaikan sahabatnya tersebut. Memang dukacita yang mendalam ataupun penderitaan hidup yang berat dapat melemahkan iman dan pengharapan kita kepada Dia. Tetapi satu hal yang kita percayai bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita di tengah-tengah penderitaan. Dia ada bersama dengan kita. Dan apabila kita menjadi sahabat dari orang yang berduka, bagaimana kita dapat memilih kata-kata yang menguatkan imannya dengan tidak muluk-muluk serta memberikan bantuan yang nyata yang diperlukannya.
                Hendaklah perkataan kita yang kita sampaikan untuk menguatkan ataupun menghibur saudara/sahabat kita adalah perkataan yang meneguhkan iman dan pengharapannya kepada Tuhan. Bahkan terkadang yang dibutuhkan oleh orang yang berduka bukanlah sekedar kata-kata penghiburan belaka, tetapi bantuan yang nyata untuk menolongnya, karena orang yang berduka ataupun mengalami penderitaan yang berat, membuat mereka menjadi orang-orang yang lemah baik secara jasmani dan rohani. Orang yang berduka membutuhkan bantuan yang nyata, supaya yang berduka dapat kembali berdiri dengan tegak dan tangannya dapat kembali bekerja. Kasih yang nyata lebih baik daripada nasehat yang muluk-muluk. Sehingga dengan kebaikan dan pertolongan yang nyata yang dapat kita berikan, orang yang berduka dapat bangkit kembali. (LNS).

DOA: Tuhan, ajarlah kami untuk tetap dapat melihat Tuhan di dalam setiap persoalan hidup yang kami hadapi, bahwasannya Engkau selalu ada bersama kami dan tidak pernah meninggalkan kami. Amin.
Kata-kata Bijak :
“Kasih dapat kita nyatakan melalui perkataan yang diwujudkan melalui tindakan
untuk menolong yang lemah.”
Rabu, 19 September 2018

MENGIKUT TUHAN DENGAN HATI
“Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah.”
(Matius 12:7).

                Hukum Taurat melarang pengikutnya untuk bekerja pada hari Sabat. Menuai gandum pada hari Sabat juga tidak diperbolehkan. Dalam Matius 12:1 disebutkan bahwa “…murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya. Menurut orang Farisi memetik bulir gandum walaupun hanya sedikit sama artinya dengan menuai, itu berarti murid-murid Yesus telah melanggar Hukum Taurat tentang hari Sabat. Jawaban yang disampaikan Yesus dalam pasal 12:3-8 menjelaskan makna hari Sabat yang sebenarnya yang selama ini telah disalahgunakan oleh orang Farisi hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Orang Farisi memaknai hari Sabat untuk memberatkan umat Tuhan, tetapi mereka mendapatkan keuntungan sebagai orang-orang Farisi. Hidup peribadatan orang Farisi hanya menekankan sisi lahiriah, dan mengesampingkan sisi rohaniah yang sesungguhnya yang Tuhan kehendaki.
                Penjelasan Yesus memberi pengertian bahwa orang Farisi ternyata salah memahami firman Tuhan yang tertulis dalam Hosea 6:6, bahwa sebenarnya yang dikendaki Allah bukanlah ritual keagamaan belaka, namun kehilangan makna yang sesungguhnya yang dikehendaki Allah. Allah menghendaki hati yang benar, jauh melebihi hal-hal lahiriah yang sekedar menjadi formalitas belaka. Kegiatan peribadatan dikerjakan tapi tidak mengubah hati dan cara hidup orang yang menyebut diri sebagai umat Tuhan. Orang Farisi mengerjakan ritual keagamaan, namun ketika mereka melihat murid-murid Yesus memetik bulir gandum, mereka langsung menghakimi murid-murid Yesus dan menyatakan bahwa murid Yesus melakukan pelanggaran terhadap hukum Taurat. Begitulah sikap orang yang memeluk agamanya hanya sekedar untuk tampilah luar, namun tidak membaharui hati dan hidupnya. Padahal murid-murid Yesus sedang mengikuti Tuhan Yesus yang sebenarnya adalah kegenapan Hukum Taurat itu.
                Bagaimana dengan kehidupan beragama kita selama ini yang menyebut diri sebagai orang Kristen, pengikut Yesus. Masihkah kita menjalani kehidupan beragama kita hanya sekedar formalitas belaka? Masihkah hati kita dipenuhi kemunafikan, sehingga tidak dapat melihat Yesus sebagai Tuhan atas hidup kita yang kepadaNyalah kita seharusnya tunduk? Jika selama ini, ibadah kita hanya sekedar tampilan lahiriah yang tidak mengubahkan hati dan hidup kita, marilah kita datang memohon pengampunan dosa.Tuhan tidak menghendaki ritual keagamaan, tanpa hati yang penuh dengan kasih. Hendaklah ritual keagamaan kita, hidup peribadatan kita, persembahan kita dan semua kegiatan gerejawi yang kita lakukan, sungguh-sungguh lahir dari hati kita yang mengasihiNya. (LNS).

DOA: Tuhan, baharuilah hatiku untuk mengikutiMu dengan hati yang sungguh mengasihiMu, dan biarlah keberagamaan kami  tidak hanya formalitas, tetapi sungguh-sungguh hidup berbelas kasih. Amin.
Kata-kata Bijak :
Ikutlah Yesus dengan hati yang senantiasa terarah pada-Nya.

Kamis, 20 September 2018

TUHAN BERHUTANG?
“Siapa yang menaruh belas kasihan kepada orang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu”. (Amsal 19:17).

                Kecenderungan orang ketika melakukan perbuatan baik adalah mengharapkan balasan dari orang yang ditolongnya. Sehingga kecenderungan demikian, dapat mengakibatkan putusnya hubungan baik yang selama ini sudah terjalin karena ternyata orang yang sudah ditolong tersebut tidak mengingat kebaikan kita apalagi jika sebaliknya membalaskan kebaikan itu dengan hal-hal yang buruk. Tentu hal ini dapat melukai perasaan kita karena tidak mendapatkan balasan dari kebaikan yang pernah berikan.Tidak sedikit pengalaman seperti ini berakhir dengan permusuhan.
                Begitulah kalau kita masih mengharapkan balasan dari manusia, atas setiap kebaikan yang telah kita berikan kepada seseorang. Kita menjadi  menyesal karena pernah berbuat baik, dan kita merasa pertolongan kita menjadi sia-sia. Kita pun menjadi marah dan kecewa bahkan menyimpan dendam kepada orang yang pernah kita tolong tersebut. Bahkan pengalaman buruk ini dapat mengakibatkan efek “jera” bagi kita, sehingga kita tidak mau lagi menolong orang yang sebenarnya sangat membutuhkan pertolongan kita. Namun, firman Tuhan hari ini menerangi hati kita, untuk dapat menilai dengan baik bagaimana sebenarnya sikap kita ketika kita memberikan kebaikan kita bagi sesama kita.
                Setiap kebaikan yang kita berikan kepada orang yang membutuhkan pertolongan kita, sesungguhnya dilihat bahkan dihitung oleh Tuhan. Bahkan kitab Amsal 19:17 ini menyebutkan “memiutangi Tuhan”. Itu artinya, ketika kita berbuat baik, menolong orang yang lemah yang membutuhkan uluran tangan kita, Tuhanlah yang “berhutang” kepada kita. Karena kebaikan hati yang kita nyatakan kepada orang yang lemah, kita lakukan dengan tulus, tanpa mengharapkan pamrih dari orang yang kita tolong. Bahkan ketika yang kita tolong tersebut tidak mengingat kebaikan hati yang telah kita tunjukkan kepadanya, kita tidak menjadi marah dan kecewa, karena ketika kita melakukan perbuatan baik itu, kita tidak mengharapkan orang tersebut membalas kebaikan kita. Kita melakukan kebaikan karena kita terlebih dahulu sudah menerima kebaikan dari Tuhan dalam hidup kita. Bahkan segala yang kita miliki saat ini untuk dapat kita nikmati juga adalah bukti dari kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Kita dapat menolong orang lain pun karena kita sudah terlebih dahulu menerima kebaikan Tuhan. Jika demikian dasar kita melakukan perbuatan baik, maka kita tidak akan menjadi kecewa dan marah ketika orang yang kita tolong tidak mengingat kita bahkan membalas kebaikan kita dengan kejahatan. Pada saat kita berbuat kebaikan, maka Tuhanlah “berhutang” kepada kita dan Dia pasti akan “membayar hutangNya” itu kepada kita. Balasan kebaikan itu kita terima dari Tuhan, bukan dari manusia yang dapat mengecewakan hati kita. Tetaplah berbuat baik disepanjang hidup kita.(LNS).

DOA: Terimakasih Tuhan atas kebaikan-Mu yang telah Engkau nyatakan dalam hidupku, sehingga aku dapat melakukan perbuatan baik terhadap sesamaku. Amin.

Kata-kata Bijak :
“Jangan pernah mengharapkan balasan atas setiap kebaikan kita perbuat dari manusia, Tuhanlah yang memperhitungkan semuanya itu.”
Jumat, 21 September 2018
BERITA SUKACITA
“Maka tersiarlah kabar tentang hal itu keseluruh daerah itu”. (Matius 9:26).

                Di zaman ‘now’ untuk menyebarkan sebuah berita tidaklah sulit. Berita apapun, mulai dari berita hoax sampai berita benar, asalkan di ‘upload’ di dunia maya, maka akan segera tersebar. Masyarakat pun akhirnya menjadi kesulitan untuk membedakan apakah berita tersebut sebuah kebenaran atau hanyalah berita hoax. Dan kadang kala akibat dari berita yang begitu cepat beredar, dapat menimbulkan kekuatiran ataupun ketakutan, apalagi berita tersebut bersifat menakut-nakuti dan membuat orang menjadi kuatir. Dan biasanya berita tersebut, lambat laun akan hilang ditelan zaman.
                Berbeda dengan berita yang tersiar pada perikop Matius 9:26 ini. Walaupun tidak ada orang yang men ‘up-load’ peristiwa itu ke dunia maya (karena belum ada android pada zaman itu), tetapi berita itu cepat sekali beredar. Berita itu bukanlah berita ‘hoax’ tetapi berita yang benar-benar terjadi. Dan berita itu bukan hanya ‘viral’ pada zaman itu saja, tetapi terus tersiar dari zaman ke zaman, tidak hilang ditelan zaman dan peristiwa itu di catat dalam Alkitab. Bahkan, pengaruh dari berita atau kabar itu bukan hanya untuk mereka yang hidup sezaman pada saat peristiwa itu terjadi, tapi juga sampai kepada kita saat ini.
                Itulah kabar yang dibawa Tuhan Yesus ke tengah-tengah dunia yang penuh dengan dosa ini. Kabar yang membawa sukacita dan kedamaian. Kabar yang menghidupkan setiap manusia yang telah mati karena dosa-dosanya. KehadiranNya membawa keselamatan bagi kita orang berdosa. Kabar pengampunan dosa dan hidup kekal. Peristiwa Yesus menghidupkan seorang anak perempuan kepala rumah ibadat dan menyembuhkan perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun yang dicatat dalam Matius 9:18-25 membuktikan kehadiranNya untuk membawa keselamatan bagi manusia berdosa. Pada saat semua orang berdukacita, menangis dan meratap, Yesus hadir di tengah-tengah dukacita tersebut, dan Dia membangkitkan anak itu. Walaupun sebelumnya orang-orang yang hadir dan berdukacita itu menertawakan Yesus karena Yesus mengatakan bahwa anak itu tidak mati, tetapi tidur. Tetapi Yesus menyatakan kepada orang banyak itu bahwa Dia adalah Mesias, bahkan mautpun tunduk padaNya, sehingga anak itu hidup kembali. Begitu juga dengan mujizat yang dialami oleh seorang perempuan yang telah mengalami sakit pendarahan selama 12 tahun, juga sembuh di tengah jalan pada waktu Yesus menuju rumah kepala rumah ibadat itu. Tersiarlah kabar itu, dan orang semakin banyak mengikut Dia. Dan berita itu juga sampai pada kita saat ini, bagaimana respon kita? Apakah iman kita semakin diteguhkan kepada Yesus adalah sungguh-sungguh Mesias, Anak Allah yang berkuasa atas segalanya dan Dia juga berkuasa atas segala sakit penyakit dapat disembuhkanNya dan bahkan mautpun tunduk padaNya? Dialah Allah kita yang mengampuni dosa kita dan mengaruniakan hidup kekal bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. (LNS).

DOA: Tuhan, terimakasih karena Engkau membawa kabar sukacita bagi kami orang berdosa ini, sehingga kami beroleh anugrah-Mu dan mengalami kuasa-Mu yang selalu nyata dalam hidup kami. Amin.
Kata-kata Bijak :

Yesuslah kabar sukacita yang membawa keselamatan dan hidup kekal.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar