Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan penuh sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan Maret bagi kita sekalian. Pada bulan Maret ini tentu kita tetap disibukkan dengan pekerjaan dan pelayanan sambil mempersiapkan diri untuk menyongsong PILEG dan PILPRES bulan April 2019. Namun secara khusus tema bulanan GKPI pada Maret 2019 ini sebagaimana dalam Almanak GKPI, adalah: “Menegakkan Keadilan” yang didasarkan pada Amos 5:24: Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." Dengan tema tersebut kita diajak untuk selalu menegakkan keadilan dalam segala aspek kehidupan di tengah-tengah hidup sehari-hari. Secara khusus kita berdoa agar kiranya para penegak hukum di negara kita dikuatkan oleh Tuhan untuk menegakkan hukum seadil-adilnya di tengah-tengah masyarakat tanpa pandang bulu, sehingga tidak ada lagi penegakan hukum seperti istilah “tajam ke bawah tumpul ke atas”. Jadi semua rakyat sama di mata hukum. Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini semakin diberkati oleh Tuhan dan senantiasa berhikmat untuk menegakkan keadilan di mana pun berada. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan. Tuhan Yesus memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Arsip Renungan Harian Terang Hidup GKPI





Jumat, 1 Maret 2019

DIUTUS UNTUK BERBUAH
“Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku,
diberikan-Nya kepadamu.”  (Yohanes 15:16b)

                Saur Marlina Manurung atau yang sering dipanggil Butet Manurung. Seorang wanita tangguh yang menjadi insprirasi bagi kita untuk memahami bagaimana hidup yang berbuah. Bagaimana tidak? Dia merintis pendidikan alternatif bagi komunitas adat, khususnya Orang Rimba atau Suku Anak Dalam di Jambi. Sekolah yang dirintisnya itu disebut Sokola Rimba. Butet, sapaan akrabnya, mengajar membaca dan menulis. Pengabdian dan pelayanannya ini pun banyak disorot oleh media nasional dan internasional. Atas pengabdian dan pelayanannya itu, dia terpilih menjadi Heroes of Asia Award tahun 2004 dari majalah Time. Tentu apa yang dilakukan oleh si Butet bukanlah perkara yang mudah. Tanpa pamrih dan jasa, dia menolong Suku Anak Dalam untuk membaca dan menulis. Dia juga harus berhadapan dengan Lembaga Konservasi dan masyarakat Rimba. Ya! Lembaga Konservasi sempat menentangnya atas apa yang dia lakukan. Masyarakat Rimba sendiri juga sempat menolak kehadirannya. Namun, niat yang tulus dan semangat yang bulat mampu melalui setiap tantangan tersebut.
                Kisah inspiratif di atas memperlihatkan kepada kita secara konkret bagaimana makna diutus untuk berbuah. Ya! Diutus untuk berbuah bagi sekitar. Kita sebagai orang beriman kepada Yesus Kristus diminta untuk berbuah. Dalam nas ini dikatakan:  “Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” Firman yang disampaikan oleh Yesus ini sungguh menjadi suatu mandat yang indah yang perlu diwujudkan oleh para murid. Berbuah lewat pikiran, tutur, dan tindakan kita terhadap sesama. Tetapi dalam persekutuan para murid buah yang terutama di minta oleh Yesus sendiri  adalah supaya para murid  saling mengasihi sebagai bukti telah berbuah. Dan itulah dasar mereka dipanggil sebagai murid.
                Panggilan untuk berbuah itu haruslah kita jawab lewat kehidupan kita. Firman Tuhan hari ini memperlihatkan bagi kita bahwa hanya orang yang tinggal di dalam Allah yang mampu berbuah. Buah itu tampak dari tindakan yang mewujudnyatakan cinta kasih Allah bagi sekitar. Sebagai umat percaya kita yakin bahwa Tuhan telah menganugerahkan kepada kita karunia-karunia khusus yang kita gunakan untuk saling melayani dan membangun tubuh Kristus. Mari hidup berbuah melalui pekerjaan, skill, dan talenta yang kita punyai. Menjadi berkat adalah contoh konkret dari mengasihi Allah dan sesama. Dengan hidup di dalam kasih berarti kita hidup di dalam Allah. (TPAS).

DOA:  Tuhan Yesus yang baik, terima kasih atas Firman-Mu hari ini. Ya Tuhan, ini kami, utuslah kami untuk menjadi berkat bagi sekitar kami di mana pun kami berada, Amin!

Kata-kata Bijak:
Iman yang berbuah adalah ketika kehadiran kita bermanfaat bagi sekitar.


Sabtu, 2 Maret 2019

JAUHKAN DIRI DARI PERBUATAN KEGELAPAN
“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa.” (Efesus 5:11a).

                Hidup membiara! Apakah saudara pernah mendengarnya? Ya! Banyak orang yang jarang mendengarnya. Tak semuanya juga paham maksud hidup membiara tersebut. Bagi kalangan biarawan dan biarawati, hidup membiara adalah ungkapan hidup di dalam hadirat Allah. Dengan hidup membiara, mereka dapat semakin akrab bersama dengan Kristus. Hidup di dalam biara mengajarkan dan mengarahkan hidup lewat pola hidup Yesus. Pola hidup ini mengutamakan hidup menjauhkan diri dari kenikmatan daging, yang merujuk kepada perbuatan-perbuatan dosa dan kegelapan. Hidup membiara seperti mengisolasi diri dari rayuan dan godaan dosa dan menghindari dosa dan cela. Dengan hidup membiara, para biarawan dan biarawati berada dalam hadirat Allah, di mana terdapat kesucian dan kekudusan di dalamnya. Hidup membiara adalah panggilan. Panggilan untuk memuliakan Allah lewat menyandarkan hidup dari cinta kasih Allah.
                Tentu tak semua orang sanggup hidup membiara. Namun menarik untuk kita pahami dan juga kita hidupi maknanya tadi. Dengan memahaminya kita sadar bahwa hidup kita ini diminta untuk tetap berada di dalam hadirat Allah, yang tanpaNya maka kita tak dapat hidup. Artinya hidup kita haruslah bersandar kepada hadirat Allah. Hidup membiara juga mengajarkan kita untuk menjauhkan diri kita dari perbuatan-perbuatan kegelapan dan dosa. Sebab kita berada di dalam hadirat Allah yang suci dan kudus. Tetapi satu hal yang menjadi kenyataan bahwa kita sekarang ini tidak berada dalam sebuah biara yang berbentuk bangunan di mana kita dibatasi oleh tembok-tembok. Namun seperti yang dikatakan oleh Martin Luther bahwa dunia ini adalah biara kita, di mana kita dipanggil oleh Tuhan untuk mengendalikan diri kita terhadap segala hawa nafsu dan godaan.
                Karena itu Firman Tuhan hari ini  mengingatkan bahwa kita ini adalah anak-anak terang, bukan anak-anak kegelapan. Anak-anak terang hidup di dalam kekudusan. Dalam nas hari ini dikatakan: “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa.” (Efesus 5:11a). Mengapa hal ini disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Efesus sebab menurut Paulus perbuatan-perbuatan yang demikian tidak pantas bagi orang-orang kudus. Kudus dalam hal ini  berarti terpisah, berbeda dan istimewa yang diperuntukkan bagi Tuhan. Anak-anak terang menerangi kegelapan lewat hidup yang menjadi teladan dan berkat bagi sekitar. Anak-anak terang manjauhi perbuatan-perbuatan kegelapan seperti kejahatan, ketidakadilan, dan kecemaran. Sebaliknya, hidup anak-anak terang mencerminkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Mari hidup di dalam kekudusan, sebab kedalamnyalah kita dipanggil! (TPAS)

DOA: Bapa Sorgawi terima kasih atas Firman-Mu yang mengajak kami untuk hidup dalam kekudusan. Ya Tuhan mampukanlah kami untuk menjauhkan diri dari pikiran, perbuatan, dan perkataan dosa, Amin!
Kata-kata Bijak:
Hidup yang terberkati adalah hidup yang berada di dalam hadirat Allah.


Minggu, 3 Maret 2019
­­­­­PENGHARAPAN DUNIA TELAH DATANG
“Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. (Matius 16 : 16 - 17).

                “TUHAN adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mzm. 23:1). Syair ini adalah ungkapan yang lahir dari pengalaman hidup raja Daud ketika ia berjumpa dengan TUHAN di dalam proses kehidupannya. Bagi Daud, Tuhan itu seperti seorang gembala yang menyediakan kebutuhan bagi domba-dombanya, memberi domba itu makan dan minum serta menjadi pelindung disaat domba itu diganggu oleh ancaman dan bahaya. Mazmur yang indah itu adalah pengalaman langsung yang sudah dialami Daud ketika ia berada dalam ancaman dan kekuatiran yang melanda hidupnya. Tuhan hadir bagi hidupnya untuk memberi ketenangan dan keselamatan baginya (Mzm. 62:2). Bersama Tuhan, Daud tak pernah kekurangan sesuatu apapun. Dalam Tuhan kebutuhannya dicukupkan. Siapakah Tuhan itu dalam kehidupanmu? Adakah kita mengenal Dia dengan baik dan benar?
                Petrus adalah salah satu dari 12 Murid Tuhan Yesus yang memiliki karakter yang unik. Ia adalah murid Yesus yang berani, mempunyai semangat, mau bekerja keras serta sangat mengasihi Tuhan Yesus. Tetapi, tatkala dalam suatu peristiwa tertentu, bisa saja Petrus kehilangan keberaniannya, semangatnya dan kasihnya akan Yesus oleh karena terdesak (bnd. Mat.26:69-75). Namun demikian, Tuhan memakai hidupnya sebagai saksi-Nya untuk memberitakan Injil Kristus ke seluruh penjuru dunia ini. Di dalam perikop Matius 16:16-17 ini, Petrus digambarkan menjadi orang yang pertama sekali melihat dan mengalami kehadiran Allah yang “Immanuel” serta mengaku bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Sesungguhnya, Petrus dapat mengaku seperti itu oleh karena Bapa di sorgalah yang menyatakannya baginya. Pengakuan Petrus tentang diri Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah lahir sebagai bentuk pergumulan dan proses hidup yang sudah ia jalani bersama dengan Yesus. Sejak awal Petrus sudah melihat kuasa yang agung dan mulia dalam diri Yesus dalam ajaran-Nya, dalam kuasa tangan-Nya (mujizat-mujizatNya), serta keteladanan hidup yang sempurna dari Yesus. Perjumpaan dengan Yesus dan pengalaman beserta dengan Dia akhirnya membentuk keyakinan dalam dirinya yang kemudian disempurnakan Allah melalui kehadiran Yesus saat itu. Tentu saja, Petrus amat kagum dan bersukacita karena ia telah melihat Juruselamat yang dinantikan oleh dunia ini.
                Sebagai umat Tuhan, kita perlu merenungkan kembali sejarah hidup kita sejak berjumpa dengan Tuhan. Adakah Tuhan Yesus menjadi Juruselamat dalam kehidupan kita? Ya, Dia adalah Tuhan dan Juruselamat bagi kita. Karena itu, datanglah kepada-Nya dan nikmatilah hidup yang penuh dengan damai dan sukacita bersama dengan Dia. Soli Deo Gloria. JHS
DOA: Bapa Sorgawi, tuntunlah hidupku untuk dapat mengenal kasih-Mu dan ajarlah aku untuk dapat mengaku kebaikan-Mu dalam hidupku hanya di dalam nama Tuhan Yesus.Amin.
Kata-kata Bijak:

“TUHAN, Engkau adalah pengharapan dan keselamatan-Ku”




Senin, 4 Maret 2019
­­­­­­­­­­­­­­BIARLAH TERANGMU ITU BERCAHAYA
“Karena Terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.
(Efesus 5 : 9).
               
Di dalam kitab Kejadian dikatakan bahwa “Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang, lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik…” (lih. Kej.1:3-4). Terang itu berguna untuk menerangi suatu tempat yang dilingkupi oleh kegelapan. Ia berguna untuk memberikan keberanian bagi orang yang takut akan kegelapan, ia berguna untuk memberikan petunjuk arah bagi orang yang tidak mau tersesat, ia berguna untuk mendorong terwujudnya suatu impian dan cita-cita. Allah menjadikan terang itu adalah untuk melengkapi karya ciptaan-Nya dan pekerjaan-Nya sehingga menjadi sempurna.  
                Perbedaan status sosial, rasa egois atau mementingkan diri sendiri, kehendak yang dipaksakan seringkali menjadi akar permasalahan yang banyak menimbulkan perselisihan, pengelompokan dan perpecahan dalam suatu hubungan, baik di dalam keluarga, organisasi atau persekutuan. Hal ini dialami oleh jemaat Efesus ketika mereka terjebak dalam akar permasalahan di atas. Sebagai solusi dan jalan keluar yang harus ditempuh untuk menyelesaikan hal itu, maka Paulus memberikan arahan dan bimbingannya kepada mereka. Rasul Paulus menyampaikan kepada umat Tuhan agar mereka sunguh-sungguh menunjukkan sikap yang benar sebagai orang yang percaya. Justru, selaku orang yang telah ditebus oleh Kristus Yesus, maka perilaku yang lama itu haruslah ditinggalkan, supaya jemaat hidup dalam perilaku yang baru yang meneladani cara hidup Kristus. Paulus menyampaikan bahwa barangsiapa yang telah ditebus oleh Yesus Kristus disebut sebagai anak-anak terang, sebab Yesus Kristus adalah Terang dunia (bnd. Yoh.8:12). Oleh sebab itulah, Paulus mengajak umat Tuhan agar hidup dalam terang-Nya. Terangnya itu berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Ketiga hal itu menjadi tolak ukur bagi setiap orang yang percaya untuk dapat menguji terang yang ada padanya. Terang yang ada pada kita dapat berguna apabila kita menempatkannya pada tempat yang semestinya.
                Kehadiran orang yang percaya tentulah menjadi solusi dari setiap permasalahan yang ada. Layaknya seperti terang yang sangat dibutuhkan untuk menerangi tempat yang gelap, maka demikianlah hidup kita yang harus membawa berita sukacita di dalam kesusahan dan keresahan yang melanda kehidupan ini. Kejahatan yang telah menjangkit banyak hal di dunia ini haruslah dihentikan dengan hadirnya kebaikan, keadilan dan kebenaran. Dalam hal ini umat percaya terpanggil untuk bercahaya yaitu memancarkan sinar Tuhan. Hal ini akan dinampakkan melalui aksi-aksi nyata. Karena itu umat Kristen saat ini sangat perlu mengubah paradigma bergerejannya sehingga menjadi berkat di tengah-tengah dunia ini. Tentu saja, dengan mengandalkan iman, pengetahuan, dan kuasa yang telah diberikan oleh Allah bagi kita, marilah kita menggunakannya sesuai dengan maksud dan kehendak Allah. Soli Deo Gloria. JHS
DOA: Bapa Sorgawi, pakailah hidupku ini sebagai alat-Mu untuk menebarkan kebaikan, menyatakan keadilan dan kebenaran hanya di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Kata-kata Bijak:
“Ketahuilah bahwa pertobatan itu banyak sekali menutupi dosa (Yak.5:20)”


Selasa, 5 Maret 2019
­­­­­POLA HIDUP YANG BENAR
“Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik
 dari negeri itu. (Yesaya 1 : 19).

                Sudah pasti dengan kebiasaan pola hidup yang baik akan menghasilkan kehidupan yang sehat, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Banyak orang yang sukses menyampaikan bahwa keberhasilan yang mereka peroleh tak semata-mata didapatkan tanpa ada upaya dan kerja keras yang besar. Justru dengan upaya dan kerja keras, maka mereka memcapai tujuan hidup mereka. Kebiasaan pola hidup yang baik adalah faktor yang penting sekali bagi kesuksesan yang akan kita capai. Menentukan waktu untuk bekerja, untuk beristirahat, untuk berolahraga, untuk mengatur menu makanan yang sehat, dan untuk mengatur waktu bersantai bersama anak-anak, untuk berlibur dan sebagainya. Hal tersebut diatas adalah indikator untuk mencapai keberhasilan. 
                Hidup ini pun tanpa ada aturan tentu akan runyam dan mendatangkan ketidakaturan. Perlu sekali untuk kita benahi bagaimana metode dan cara yang benar untuk menjadikan kehidupan kita itu tidak membosankan, melainkan penuh dengan warna-warni yang pada akhirnya membawa kita kepada tujuan hidup yang kita impikan. Nabi Yesaya memberikan suatu petunjuk bagi kita khususnya umat Allah agar mau memperhatikan firman Allah yang menjanjikan. Tak hanya membacanya, melainkan turut mendengar dan melakukannya agar kita menikmati hidup yang penuh dengan kesukaan dimanapun kita berada. Allah menyampaikan melalui Yesaya, “Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu” (Yes.1:19). Indikator bagi keberhasilan umat Allah dalam menunaikan tanggungjawabnya adalah dengan mengatur hidupnya dalam pola hidup yang berdasar kepada firman Allah dan pelaksanaannya. Yesaya menegur umat Israel ketika mereka tidak memperhatikan firman Allah dan perintah-Nya. Yesaya ingin agar pola hidup yang tidak sehat itu mereka tinggalkan, seperti cara hidup yang egois (mementingkan diri sendiri), perilaku yang munafik terhadap Allah, serta merampas hak-hak orang yang lemah (bnd. Yes.1:13-16). Sebaliknya, agar umat Israel memperhatikan orang-orang yang lemah (janda, anak-anak yatim, orang miskin), dan menegakkan keadilan dan kebenaran. Itu semua adalah keinginan Tuhan bagi umat-Nya agar umat-Nya dan seluruh bangsa menerima berkat-Nya.
                Siapa yang tidak menginginkan agar kehidupannya dipenuhi keberhasilan dan kebahagiaan? Semua orang menjawab bahwa mereka menginginkannya. Hal itu dapat kita peroleh jikalau kita mau hidup dalam pola hidup yang benar. Firman Allah adalah pedoman dalam kehidupan umat-Nya, untuk berpikir dan bertindak semuanya didasarkan kepada kehendak Allah.Dengan demikian, maka keluaran dari hidup setiap orang yang percaya adalah hal-hal yang menakjubkan karena mereka hadir untuk membawa damai sejahtera dan sukacita. Soli Deo Gloria. JHS
DOA: Bapa Sorgawi, ajarlah diriku untuk menata hidupku sesuai dengan rencana-Mu hanya di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Kata-kata Bijak:
“Kebahagiaan tidak hadir melalui kepurapuraan tetapi kebiasaan”

Rabu, 6 Maret 2019
­­­­­ALLAH YANG MENYEDIAKAN
“Tanah itu akan memberi hasilnya, dan kamu akan makan sampai kenyang dan diam di sana dengan aman tentram. (Imamat 25 : 19).

                Memikirkan apa yang akan terjadi pada hari esok, tentu setiap orang mempunyai respon dan pangdangan yang berbeda tentang itu. Hari esok selalu menjadi teka-teki yang penuh dengan rahasia, entah apa yang akan terjadi, hal yang baik atau yang buruk. Sikap kita menanti hari esok adalah dengan suatu persiapan dan kerja keras agar hari esok dapat kita jalani seperti hari ini dan sebelumnya. Terkadang, kurangnya sikap percaya diri menyebabkan kita jatuh ke dalam rasa kuatir, keresahan, dan kebimbangan. Akibatnya, hal itu dapat mempengaruhi kinerja kita hari ini. Yang pasti, sikap optimis menjadi awal yang baik untuk menyongsong hari esok yang penuh dengan harapan.
                Rasa optimis dalam diri kita sesungguhnya terbangun dalam proses kehidupan yang sudah kita jalani dan lalui. Hal ini menjadi karakter yang dibangun atas dasar pengalaman hidup melalui perjuangan yang dibarengi dengan iman terhadap Allah yang memelihara kehidupan kita. Di dalam kitab Imamat pasal 25 ditetapkan tentang perayaan Yobel ( tahun ke-50). Tahun Yobel adalah suatu bentuk penghormatan/ kepatuhan umat Israel dalam mengikuti kehendak Allah untuk memberikan waktu kebebasan bagi dirinya sendiri dan orang lain, berhenti dari segala kesibukan mencari kebutuhan hidup serta mengambil waktu untuk membangun rasa Optimis dalam kehidupan mereka. Allah menginginkan agar umat-Nya memberikan tempat dalam diri mereka suatu kepasrahan kepada-Nya. Di tahun yang ke-50 umat Allah tidak boleh mengerjakan apapun di tanah mereka, sebaliknya mereka dan budak yang ada pada mereka haruslah pulang ke rumah mereka masing-masing. Haruslah tahun itu menjadi hari peristirahatan bagi tanah yang mereka kerjakan itu. Lalu bagaimana dengan kelanjutan hidup mereka, jika mereka tidak bekerja di tahun itu? Di dalam perikop Imamat 25:19, Allah menyampaikan “Tanah itu akan memberi hasilnya, dan kamu akan makan sampai kenyang dan diam di sana dengan aman tenteram”. Allah berjanji bahwa Ia akan selalu memperlengkapi segala kebutuhan umat-Nya sesuai dengan rencana-Nya.
                Ingat dan kuduskanlah hari Sabbat adalah sebuah perintah dari Allah bagi kita supaya kita memberikan waktu bagi diri kita sendiri untuk lepas dari segala kesibukan duniawi dan mengambil waktu kepada hal-hal yang bersifat surgawi. Allah menghendaki kita untuk membangun kesadaran akan kehadiran-Nya yang selalu menyertai kehidupan kita. Dengan kesadaran inilah, maka kita tidak perlu kuatir ataupun takut akan apa yang terjadi dihari esok. Justru dengan kesadaran inilah, maka hari esok bagi kita adalah hari yang penuh dengan pengharapan dan penggenapan janji-janji Allah bagi kita. Iman yang kita bangun dalam sikap optimis akan menjadi dasar yang baik bagi kita untuk mengarungi lautan kehidupan ini. Soli Deo Gloria. JHS.
DOA: Bapa Sorgawi, ajarlah hidupku untuk selalu berpasrah diri kepada-Mu. Peliharalah hidupku sesuai dengan rencana-Mu, inilah doaku hanya di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Kata-kata Bijak:
“Allah tak pernah ingkar janji”

Kamis, 7 Maret 2019
­­­­­PELAJARAN YANG BERHARGA
Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya. (Amsal 3 : 12a).

                Tahun 2018 yang telah berlalu menjadi sejarah masa lalu yang telah kita lalui. Banyak peristiwa yang telah terjadi yang meninggalkan kesan dan pesan bagi kita untuk menapaki tahun baru 2019 di tahun ini. Misalnya, tahun 2018 yang lalu banyak kita dengarkan berita terjadinya bencana alam di beberapa daerah di Indonesia yang mengambil jumlah korban yang sedikit sampai yang banyak. Terjadinya banjir bandang, longsor tanah, gempa bumi yang menyebabkan tsunami, tenggelamnya kapal di perairan, jatuhnya pesawat terbang dari udara serta meletusnya gunung berapi mengakibatkan duka yang masih tersimpan di dalam hati kita sampai saat ini. Apakah itu pertanda bahwa bumi sudah mulai tidak bersahabat lagi dengan kita, atau semua bencana itu adalah bentuk sebuah peringatan yang diberitahukan Sang Pencipta kepada kita? Marilah kita merenungkan sejenak dan mencari jawabannya di dalam langkah iman.
                Kehidupan memang memiliki rahasia yang tidak dapat kita duga. Di dalam keterbatasan pemahaman dan pengalaman, kita tidak bisa mengetahui kehendak Allah bagi kita di dalam kehidupan ini. Raja Salomo di dalam sejarah bangsa Israel adalah salah seorang raja yang satu-satunya mendapatkan berkat Allah yaitu hikmat dan pengertian. Sebelum dan sesudah dia tidak ada seorang pun manusia di dunia ini yang dapat menandingi pengertiannya (bnd. 1 Raj.3:13). Sebagai seorang hamba Tuhan, ia menggunakan pengertiannya itu untuk menolong umat Allah agar hidup sesuai dengan perintah-Nya. Di dalam pengalamannya yang begitu banyak, segala kelimpahan yang telah ia miliki, serta kekuasaan yang sudah ia peroleh, ia mengatakan bahwa disana ia hanya menemukan kesia-siaan jikalau semua itu tidak di dasarkan oleh “takut akan Tuhan”. Karena itulah, Salomo menyampaikan agar umat Allah takut kepada-Nya serta memegang segala perintah-Nya. Dalam perikop Amsal 3:12a, Salomo menyampaikan bahwa Allah begitu mengasihi umat-Nya sehingga Ia mengajarkan kehendak-Nya kepada mereka. Allah mengajarkan kepada umat-Nya layaknya seperti seorang bapa mengajarkan kepada anak-anaknya. Ia mendidik kita agar hidup sesuai kehendak-Nya. Terkadang Allah memberi teguran bagi kita yang pada gilirannya hanya untuk kebaikan kita.
                Kita tidak perlu marah apabila Tuhan menegur kehidupan kita. Apa yang dilakukan-Nya adalah untuk kebaikan kita semuanya. Allah begitu mengasihi umat-Nya, dengan memakai kekuatan alam, memakai pribadi manusia, melalui duka dan penderitaan, ataupun melalui sukacita, dan banyak hal yang lainnya, Ia menyampaikan maksud-Nya bagi kita agar pesan Allah dapat kita terima untuk kebaikan hidup kita. Oleh karena itulah, di dalam Amsal 3:11 dikatakan demikian “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya”. Soli Deo Gloria.JHS
DOA: Bapa Sorgawi, ajarkanlah kepadaku segala Taurat-Mu agar hidupku semakin dekat kepada-Mu, inilah permohonanku hanya di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Kata-kata Bijak:
“Didikan yang keras membentuk kepribadian yang handal”


Jumat, 8 Maret 2019
­­­­LATIHAN YANG MENYENANGKAN
Latihlah dirimu beribadah. (1 Timotius 4 : 7b).

                Lionel Messi adalah seorang pemain sepak bola yang telah mencatat sejarah yang gemilang dalam kariernya di dunia persepakbolaan. Ia adalah figur yang banyak diidolakan oleh para pemain sepak bola diseluruh belahan dunia ini. Pencapainnya dalam kariernya saat ini adalah berkat usaha dan kerja kerasnya untuk melatih dirinya dengan sempurna sehingga mampu menggiring bola ke gawang lawan dan mencetak gol untuk timnya. Ia telah memiliki bakat itu sejak ia masih kecil dan ia telah mengembangkan talenta yang ia miliki dengan sempurna sehingga menjadi seperti saat ini. Setiap orang berbakat yang ada di dunia ini yang berhasil menggapai karier yang cemerlang, semuanya diawali oleh tekad yang besar disertai latihan dan kerja keras.
                Demikianlah dengan Timotius, seorang yang muda, anak rohani dari rasul paulus, seorang yang berasal dari keluarga yang setia dan takut akan Tuhan. Ia dipilih oleh Paulus sebagai penerima tongkat estapet pemberitaan Injil di daerah Efesus. Paulus melihat potensi yang ada dalam dirinya untuk dapat memimpin jemaat yang ada disana yang sedang mengalami tentangan oleh karena munculnya ajaran sesat serta kebiasaan hidup yang bertolak belakang dengan firman Tuhan. Paulus menasihatkan Timoteus agar ia sungguh-sungguh untuk membekali dirinya dan menjaga kekudusan hidupnya. Hendaklah Timoteus menjadi teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataan, dalam tingkah lakunya, dalam kasihnya, dalam kesetiaannya, dan dalam kesuciannya. Tujuannya agar Timotius dapat memimpin jemaat itu hidup sesuai dengan kehendak Allah. Diusianya yang begitu muda, Timotius dituntut untuk selalu melatih dirinya dalam beribadah, tak jemu-jemu untuk melakukan kebaikan serta tekun dalam menghadapi penderitaan dan cobaan. Paulus merindukan agar orang muda ini dipercayakan untuk mengemban tugas yang mulia dalam melanjutkan pemberitaan Injil Kristus di tengah semarak hadirnya ajaran yang menyimpang dari kehendak Allah. Hanya dengan ketekunan untuk melatih diri dalam beribadah yang benar, maka Timoteus mampu untuk menunaikan tugasnya sebagaimana yang diharapkan.
                Kita adalah penerus dari tongkat estapet pemberitaan Injil Kristus pada masa kini. Tantangan yang kita hadapi saat ini sangat beranekaragam dan begitu sulit untuk dicegah dan diperbaiki. Tantangan terbesar bagi Kekristenan itu sendiri terdapat di dalam dirinya sendiri, yaitu kurangnya keteladanan hidup dari orang yang percaya sehingga mengalami krisis identitas sebagai pengikut Kristus yang setia. Kekristenan hanya dimaknai sebagai hal-hal yang menyangkut instrumen-instrumennya dan belum sampai kepada substansinya. Hal ini menyebabkan krisis kepercayaan terhadap Kekristenan itu sendiri. Oleh karena itulah, kita perlu untuk melatih diri dalam menunaikan ibadah yang benar. Latihlah dirimu untuk menjadi teladan yang baik dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian yang meneladani Kristus Yesus. Soli Deo Gloria. JHS
DOA: Bapa Sorgawi, ajarilah aku untuk melatih diri dengan ibadah yang benar, mampukanlah aku hanya di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Kata-kata Bijak:
“Latihan yang baik adalah untuk hasil yang terbaik”

Sabtu, 9 Maret 2019
­­­­­KEBAHAGIAAN YANG SEJATI
“Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku, biarlah matamu senang dengan jalan-jalanku.”
(Amsal 23 : 26).

                Apakah tempat yang paling disenangi oleh orang-orang pada saat ini? Banyak jawaban yang mengatakan, tempat itu adalah mall, diskotik, cafe, pusat perbelanjaan, tempat bermain dan hiburan, tempat nongkrong, dan lain sebagainya. Hal tersebut mungkin terjadi karena sebagian besar menyatakan bahwa disana mereka mendapatkan kebahagiaan dan apa yang mereka inginkan. Memang benar bisa saja mereka memperoleh sukacita tetapi hanya sesaat. Hal ini tentulah tidak memberikan kesenangan yang bertahan lama, tetapi hanya untuk sementara. Lalu, apakah hal yang dapat memberikan kebahagiaan yang kekal bagi kehidupan kita saat ini?
                Raja Salomo memberikan nasehat kepada kita agar kita menemukan kebahagiaan itu di dalam Tuhan. Ia mengajak kita untuk memberikan hati kita kepada Tuhan yang ditunjukkan dengan cara hidup kita yang sesuai dan seturut dengan jalan-Nya. Kebahagiaan kita hanya ditemukan di dalam cara hidup kita yang sesuai dengan jalan Tuhan. Kita harus menyadari kalau kebahagiaan yang kita pusatkan kepada diri sendiri, tentu tidak akan memberikan kepuasan yang bertahan lama dalam hidup kita. Pada saat kita hidup dalam kelimpahan kita merasa bahwa kita bahagia, tetapi saat kelimpahan itu sirna maka tentulah kesedihan yang menimpa kita. Ketika kita bahagia memiliki jabatan yang tinggi, tetapi pada suatu saat hal itu diambil dari kita, tentulah kita menjadi sedih dan akhirnya hidup dalam penyesalan atau dendam pribadi. Inilah akibat yang kita alami apabila kebahagiaan itu berpusat kepada diri kita sendiri. Oleh karena itulah, di dalam kitab Amsal 23:26, firman Tuhan berkata “Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku, biarlah matamu senang dengan jalan-jalanku”. Ini adalah panggilan Tuhan atas kehidupan kita saat ini. Dengan memberikan seluruh ruang hati kita untuk kehadiran Allah, maka kita akan dipimpin sesuai dengan jalan yang sudah Ia tetapkan bagi kita. Kebahagiaan yang sejati itu kita temukan di dalam tuntunan Tuhan. Kebahagiaan orang yang percaya adalah ketika kita dapat hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Hidup kita saat ini adalah hidup yang harus memiliki makna dan arti dalam maksud dan rencana Tuhan.
                Hidup kita akan terarah apabila kita membiasakan diri dalam bergaul dengan Tuhan. Ketika kebosanan, kegelisahan, dan keresahan datang menganggu hidup kita, maka biasakanlah untuk bergaul dengan Tuhan. Raja Daud menyampaikan bahwa hanya dekat Allah saja kita memperoleh ketenangan dan keselamatan (bnd. Mzm. 62:2). Allah adalah tempat bagi jiwa-jiwa yang letih lesu dan berbeban berat, siapapun yang sedang mengalami pergumulan hendaknya datang kepada-Nya, sebab kuk yang ia pasang dalam hidup kita sungguh amat ringan. Soli Deo Gloria.JHS
DOA: Bapa Sorgawi, tuntunlah aku supaya hidup dalam jalan-jalanMu yang penuh dengan kebahagiaan itu, dengarlah doaku hanya di dalam nama Tuhan Yesus. Amin.
Kata-kata Bijak:
“Melangkahlah dengan jalan yang pasti untuk menemukan kebahagiaan sejati”



Minggu, 10 Maret 2019

JAGALAH HATIMU
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23).

                Sering kita mendengar dalam percakapan atau khotbah bahwa dari pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. Dengan kata lain pohon yang baik dikenal dari buahnya. Ungkapan tersebut mengandung kebenaran dan sangat perlu kita renungkan dalam kaitannya dengan kehidupan. Hal yang sama juga berkaitan dengan bagaimana kita menjaga  “hati“ sebagaimana dalam nas renungan kita hari ini. Tentu kita mengetahui bahwa dalam Kitab Amsal banyak juga disinggung hal-hal yang berkaitan dengan aspek hati yang merupakan sebuah elemen penting dalam hidup.
                Mengapa hati menjadi sebuah elemen yang penting dalam hidup manusia, apalagi umat percaya? Hati adalah sumber keinginan dan keputusan. Dari hati terpancar kehidupan, yaitu hasil atau buah yang kita hasilkan dalam kehidupan kita. Oleh karena itu hati, dan apa yang ada di dalamnya menentukan buah seperti apa yang dihasilkan. Jagalah hatimu, yakni akal budi yang seharusnya berusaha menampilkan tingkah laku yang benar (bnd. Ams 23:26). Ungkapan “dari situlah” dari segi tata bahasa ini bisa berarti ‘dari dalam hati’; tetapi yang lebih mungkin adalah ‘dari tindakan menjaga hati dengan bijaksana” muncul kehidupan. Lalai menjaga hati kita akan mengakibatkan kita menyimpang dari jalan yang aman dan terjebak dalam jerat pembinasaan (Ams.7:24-27). Menjaga hati kita melebihi segala sesuatu menghasilkan hidup yang mantap pada jalan yang rata karena perkenan dan kasih karunia-Nya (Ams 4:25-27).
                Melalui nas ini ada satu hikmat yang penting untuk kita terapkan dalam kehidupan, yaitu menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Dalam hal ini kita sebagai umat percaya harus menjaga hati kita agar berkenan di hadapan Tuhan. Seperti apakah hati yang terjaga itu? Di sinilah kita merindukan hati yang suci dan menyediakan hati yang seturut dengan Firman Tuhan. Bisa juga dengan hati yang tersedia bagi kepenuhan Roh Tuhan sehingga hidup kita menampilkan perilaku-perilaku yang baik atau menghadirkan buah Roh dalam kehidupan. Dengan kata lain, jika hati kita baik, maka kebaikanlah yang kita tampilkan dalam kehidupan. Sebaliknya jika hati kita jahat maka kejahatanlah yang muncul dalam hidup kita. Lalu bagaimanakah kita menjaga hati agar berkenan di hadapan Tuhan? Yaitu dengan memelihara dan menyimpan Firman Tuhan dalam hati kita sehingga Firman itulah yang memenuhi hati kita. Ketika hati dipenuhi Firman Tuhan tentu akan memancarkan kebaikan dan kebajikan melalui tingkah laku kita. Dengan demikian hidup kita berkenan di hadapan Tuhan. (HLT).

DOA: Bapa Sorgawi, Engkaulah sumber hikmat bagi kami. Kuatkan dan teguhkanlah kami agar kami mampu untuk menjaga hati dalam segala aspek kehidupan ini. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Kata-kata Bijak:
Dari hati yang baik akan memancar perilaku yang baik.


Senin, 11 Maret 2019

BERPAUTLAH KEPADA TUHAN
“Dan hendaklah kamu berpaut kepada Tuhan, Allah kita.” (1 Raja-raja 8:61a).

Alkisah seorang wanita yang menderita Lou Gehrig (penyakit yang menyerang saraf otak dan jaringan saraf tulang belakang, mengakibatkan kelumpuhan), lalu seorang temannya menanyakan pelajaran apa yang Allah ajarkan kepadanya selama masa sulit tersebut. Secara spontan wanita itu menjawab, "Kehilangan kendali." Dulu ia adalah orang yang sangat teratur dan mandiri. Pekerjaan menuntutnya untuk sering pergi jauh dan menempuh perjalanan panjang. Namun, kini ia harus bergantung kepada orang lain dalam segala hal, mulai dari berpakaian sampai menggosok gigi. Ia tak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Yang dapat ia kendalikan hanyalah apa yang ia pikirkan dan ucapkan. Ia sadar sebentar lagi ia pun tidak akan bisa bicara. "Saya dulu selalu mengutamakan pekerjaan," katanya, "dan tidak pernah benar-benar memasrahkannya kepada Tuhan. Namun, kini saatnya  saya tak dapat mengendalikan semuanya, saya bisa terus terpaku pada keterbatasan fisik saya, namun inilah saatnya saya harus berpaut kepada TUHAN.”
Ajakan berpautlah kepada TUHAN juga disampaikan oleh Raja Salomo kepada umat Israel setelah ia selesai berdoa. Nampaknya doa Salomo sangat serius untuk  umat Israel, hal itu dinampakkan melalui sikapnya berdoa dengan berlutut dengan menadahkan tangannya ke langit. Juga isi doanya yang cukup panjang dan sangat penting agar kiranya TUHAN tetap berpegang pada janji-Nya terhadap ayahnya Daud (ay.22-26). Setelah itu Raja Salomo menyampaikan berkat pujian kepada TUHAN karena segala yang baik, yang telah dijanjikan-Nya dengan perantaraan Musa, hamba-Nya, tidak ada satupun yang tidak dipenuhi (ay.56). Setelah itu Salomo menyampaikan berkat kepada umat Israel (ay.57-60). Kemudian ia menyampaikan ajakan kepada umat sebagaimana dalam nas ini: “Dan hendaklah kamu berpaut kepada Tuhan, Allah kita!” Ajakan ini meminta kepada umat Israel agar mereka setia kepada Tuhan dalam segala aspek kehidupan mereka. Jika TUHAN diharapkan mereka agar berpegang kepada janji-janji-Nya sebagaimana dalam doa Salomo, maka umat juga dirindukan agar setia kepada TUHAN dan jangan menyembah ilah-ilah lain. Sikap untuk berpaut atau berserah kepada TUHAN bukanlah dengan sikap setengah hati. Dalam ayat 61b dikatakan, “dengan sepenuh hatimu” dan dengan hidup menurut segala ketetapan-Nya dan tetap mengikuti segala perintah-Nya.
                Saudara, ada kalanya kita merasakan hidup gersang dan hampa di tengah-tengah kehidupan. Salah satu faktornya adalah karena kita menjauhkan diri dari Tuhan sebagai sumber hidup kita. Ketika kita jauh dari Tuhan, kita tidak memperoleh ketenangan yang sebenarnya. Karena itu Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk berpaut kepada Tuhan saja. Sebab hanya di dalam Dialah kita merasakan dan menikmati ketenangan yang sejati.

DOA: Bapa Sorgawi, Engkaulah senatiasa setia akan janji-janji-Mu dalam kehidupan kami. Karena itu Tuhan kuatkan kami untuk setia berserah kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Kata-kata Bijak:
Ketenangan yang sejati hanya dalam Tuhan saja.

Selasa, 12 Maret 2019

DOMBA YANG BAIK MENDENGAR SUARA TUHAN
“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.” (Yohanes 10:27).

Adakah dari antara kita yang pernah menggembalakan kambing-domba atau sejenisnya? Tugas dan tanggung jawab seorang gembala sangatlah penting demi kelangsungan hidup domba-peliharaannya. Seorang gembala harus tahu waktu dan tempat yang baik bagi domba-peliharaannya. Ia harus tahu waktu pagi untuk menghantarkannya ke padang rumput dan waktu petang untuk membawanya pulang, bahkan wajib mengetahui keadaan cuaca dan iklim yang baik untuk peliharaannya. Tak mungkin dalam cuaca hujan, ia membawanya keluar kandang, cuaca dingin akan menyebabkan domba sakit. Oleh sebab itu, gembala harus mempersiapkan ketersediaan rumput – untuk makanan domba – peliharaannya. Dalam cuaca terik matahari, gembala perlu bijak untuk membawa peliharaannya ke padang rumput dan air yang akan melegakan dahaga domba – peliharaannya. Gembala yang baik akan memberi kehidupan – sebaliknya gembala yang buruk akan menyebabkan kerugian, kesengsaraan bahkan kematian.
Dalam nas hari ini kita disegarkan kembali dengan tema “Gembala Yang Baik,” (Yoh. 10). Yesus sendirilah Gembala yang baik itu. Bagaimanakah sifat atau karakter seorang gembala yang baik? Dalam perikop ini penulis Injil Yohanes menyampaikan ada beberapa pokok yang menjadi ciri khas gembala yang baik sebagaimana ditunjukkan oleh Yesus: 1) Gembala yang baik itu menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya (ay.11). 2) Gembala yang baik itu mengenal domba-domba-Nya (ay.14). 3) Gembala yang baik bukan hanya memperhatikan domba-domba yang ada di dalam kandang, tetapi ia juga memperhatikan domba-domba lain, yang ada di luar kandang (ay.16). Dalam nas kita (ay.27) ciri khas Gembala yang baik itu juga dikemukakan yaitu mengenal mereka (domba-dombaNya). Lalu yang menarik sebagai respons terhadap sikap Gembala yang mengenal domba-Nya itu adalah kesediaan domba-Nya untuk mendengarkan sebagaimana dikatakan: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan tidak hanya itu bahkan mengikuti-Nya.” Hal ini menjadi penekanan dalam konteks nas ini disampaikan oleh Yesus sebab orang-orang Yahudi tidak percaya kepada perkataan-perkataan Yesus. Sebaliknya kepada mereka yang percaya kepada-Nya akan memperoleh hidup yang kekal dan mereka pasti tidak binasa sampai selama-lamanya (ay.28).
Saudara, melalui nas ini kembali kita diingatkan akan Yesus gembala yang baik. Dialah yang senantiasa memelihara kehidupan kita. Dia senantiasa menyertai kita sampai akhir zaman. Yang penting bagi kita sebagai umat percaya adalah setia mengikuti-Nya dan selalu setia mendengarkan suara-Nya. Ketika kita setia mendengarkan suara-Nya di situlah kita memperoleh tuntunan sekalipun kita menghadapi tantangan yang berat dalam hidup.

DOA : Ya Yesus, Gembala yang baik, bimbinglah kami Tuhan agar menjadi domba-domba yang selalu sedia mendengarkan suara  dan pengajaran-Mu dalam  Amin.

Kata-kata Bijak :
“Jika Yesus adalah Gembala yang baik, apakah kita sudah menjadi domba yang baik?”

Rabu, 13  Maret 2019

MANUSIA BARU
Dan mengenakan manusia baru” (Efesus 4:24a).

                Penampilan kita sebagai manusia sering bersandiwara. Dari luar penampilan kita sangat menawan, muka kita segar, kita senyum sepertinya tidak ada yang kurang. Dengan kata lain penampilan luar kita bisa dipoles. Tetapi kalau dilihat dari dalam (aspek hati) ternyata kotor dan jorok, penuh dengan kedengkian, kemaranan, iri hati, dsb. Lalu bagaimanakah kita memperbaharui aspek dalam itu? Bisakah dengan kekuatan dan kepintaran kita? Ternyata tidak. Secara iman kita hanya mengharapkan topangan dan uluran tangan Tuhan yang memperbaharui hidup kita.
                Melalui nas ini Paulus menyapa jemaat Efesus sebagai jemaat yang sudah mengenal Kristus, yang telah mendengar tentang Dia dan yang telah menerima pengajaran di dalam Dia. Pada intinnya Paulus mengingatkan jemaat itu akan status mereka sebagai manusia baru. Dalam nas ini dikatakan: “dan mengenakan manusia baru, yang diciptakan melalui kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (ay.24). Pembaruan tersebut merupakan karya Allah melalui kehendak-Nya di dalam kebenaran dan kekudusan yang dikerjakan melalui Yesus Kristus.  Karena itu jemaat Efesus diajak untuk menanggalkan manusia lama, dan kini telah mengenakan manusia baru. Namun sebagai manusia baru mereka belum sempurna. Dalam Kolose 3:10 dikatakan: “dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”  Bagaimana caranya jemaat yang mengenakan manusia baru itu berperilaku dalam kehidupan sehari-hari sebagai manusia baru? Secara negatif dalam ayat 26-30 disebutkan lima kali kata “janganlah”. Maksudnya janganlah melakukan perbuatan-perbuatan daging, jangan melalukan dosa lagi dan jangan mendukakan Roh Kudus. Secara positif hendaklah jemaat diajak untuk membuang segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah. Juga mereka diajak untuk ramah seorang akan yang lain, penuh kasih mesrah dan saling mengampuni (ay.31-32).
                Saudara, sebagai umat percaya pada masa kini kita juga telah mengenakan manusia baru sebagai karya Allah dalam hidup kita masing-masing. Pembaruan yang kita nikmati sekarang adalah semata-mata karena anugerah Tuhan bagi kita. Sebab kita sadar bahwa pembaharuan hidup kita yang penuh dengan dosa tidak mungkin dapat kita lakukan dari kekuatan dan budi baik kita. Tetapi hanya dengan uluran tangan Tuhanlah kita memperoleh status manusia baru. Seturut dengan itu peran kita sebagai umat percaya adalah senantiasa menjaga dan merawat kehidupan baru itu dengan tidak melakukan dosa lagi. Hendaklah kita tidak melakukan perbuatan-perbuatan daging (Gal.5:19-21), tetapi sebaliknya membuahkan buah Roh dalam kehidupan kita sehari-hari (Gal.5:22). HLT

DOA: Baga Sorgari terima kasih atas karya-Mu dalam hidup kami yang menjadikan kami sebagai manusia baru.Tolong kami Tuhan agar kami mampu untuk memelihara hidup kami dari tindakan-tindakan perbuatan daging. Amin.

Kata-kata Bijak:
Status kita sebagai manusia baru semata-mata karena anugerah Allah.

Kamis, 14  Maret 2019

KESUKAAN YANG INDAH
“Kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau.”
(Yesaya 26:8b).

                Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melakukan sesuatu aktivitas yang menjadi kesukaan kita, yang kita sebut dengan hobi (Ing. hobby). Hobi adalah sesuatu yang disenangi dan hampir selalu atau ingin selalu dilakukan. Bisa saja seseorang suka main catur, menyanyi, melukis, membaca dsb. Ada juga yang suka atau hobi olah-raga, memancing, mendaki gunung, berenang dsb. Hal-hal tersebut adalah hobi yang positif dan bagus. Yang penting kita boleh mengendalikan diri, jangan sampai gara-gara melakukan hobi maka pekerjaan-pekerjaan yang lain jadi terabaikan. Kita sangat perlu untuk menguasai diri, jangan sampai hobi menjadi tuan atas kita.
                Dalam hubungan dengan Tuhan, pernah Yesaya menyampaikan sebuah nubuat melalui nyanyian yang berhubungan dengan sebuah kesukaaan. Itulah yang disebutkan dalam nas kita ini. “Kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau.”  Ini adalah sebuah ungkapan dari orang benar dan yang lurus jalannya. Namun ketika dia menghadapi penderitaan dan tantangan ia selalu berpaut kepada TUHAN. Sikap berpaut kepada Tuhan sungguh-sungguh dilakukan. Dalam ayat 9 disebutkan: “Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi.” Apa yang dilakukan oleh orang benar di tengah-tengah pergumulan yang berat itu adalah selalu menyebut dan mengingat TUHAN. Kesukaannya ialah menyebut dan mengingat TUHAN. Jadi menyebut dan mengingat TUHAN adalah sebuah kesukaan atau kegemaran bagi orang benar. Sebab dalam pengalaman hidupnya ia selalu dekat kepada TUHAN dan hanya Dialah jawaban hidupnya ketika mengahadapi tantangan yang berat terkhusus ketika bangsa itu berada dalam pembuangan.
                Saudara, dalam perjalanan kehidupan kita sebagai orang percaya dan dalam hubungan kita dengan Tuhan, apakah yang menjadi kesukaan dan kegemaran kita? Firman Tuhan hari ini memberikan sebuah inspirasi bagi kita di tengah-tengah adanya sebuah hobi atau kegemaran kita. Memiliki kegemaran dan hobi yang positif itu baik. Namun memiliki hobi atau kegemaran untuk menyebut dan mengingat TUHAN adalah sebuah hal yang luar biasa. Dengan kata lain memiliki hobi yang selalu membangun persekutuan yang indah dengan TUHAN adalah sebuah gaya hidup yang berkenan kepada TUHAN. Oleh karena itu mari membangun kegemaran yang selalu menyenangkan hati Tuhan sebab itu jugalah yang mendorong kita untuk selalu dekat dengan-Nya. HLT.

DOA: Bapa Sorgawi, kami melihat sebuah kegemaran orang-orang benar yang begitu indah melalui Firman-Mu hari ini. Untuk itu Tuhan kuatkan dan bimbinglah kami, agar kiranya kami memiliki kegemaran untuk selalu dekat kepada-Mu. Amin.

Kata-kata Bijak:
Jadikan mengingat dan menyebut nama TUHAN
sebagai kegemaran kita dalam kehidupan.


Jumat, 15 Maret 2019

HARAPAN ORANG BENAR
“Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik sia-sia.”
(Amsal 10:28).

                Semua kita pasti memiliki harapan-harapan di masa yang akan datang. Kita merindukan harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan. Tetapi sering kita sadar bahwa kita tidak berkuasa untuk menggapai sesuatu yang diharapkan itu akan terwujud dengan mengandalkan kekuatan dan kepintaran kita kecuali jika adanya campur tangan TUHAN. Hal seperti itulah yang mau kita renungkan melalui nas ini melalui hikmat Raja Salomo.
                Salomo memakai sastra hikmat untuk menyampaikan pengajaran-pengajarannya. Salah satu hikmat yang disampaikan melalui nas ini berbicara tentang harapan. Memang sedikit agak sulit untuk memahami nas ini sebab banyak ayat-ayat dalam Kitab Amsal ini tidak merupakan satu kesatuan dalam struktur tetapi sering ayat-ayatnya lepas satu dari yang lain. Namun demikian untuk memahami harapan orang benar harus kita lihat ayat-ayat yang lain dalam perikop ini. Misalnya dalam ayat 7 dikatakan: “Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat…”. Dalam ayat 11 dikatakan: “Mulut orang benar adalah sumber kehidupan…” Ayat 16:“Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan…”  Ayat 32: “Mulut orang benar mengeluarkan hikmat…” Dari ayat-ayat tersebut nampak bahwa orang benar menurut pengamsal mencerminkan kehidupan yang positif dan menyenangkan. Hal yang sama juga dalam nas kita hari ini menyebutkan: “Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik sia-sia.” Kita dapat memahami bahwa orang benar di sini adalah orang yang bekenan kepada TUHAN sehingga harapan-harapannya akan menjadi sukacita. Disebut di sini “sukacita” sebab dia memperoleh berkat-berkat dari Tuhan. Bahkan dalam ayat 30 dikatakan: “Orang benar tidak terombang-ambing untuk selama-lamanya”. Tetapi sebaliknya orang fasik akan memperoleh harapan yang sia-sia bahkan tidak akan mendiami negeri.
                Saudara, alangkah indahnya hidup menjadi orang benar di hadapan TUHAN sebab Dia menganugerahkan berkat-berkat-Nya kepada kita. Orang yang benar itu adalah orang yang dibenarkan oleh Tuhan melalui iman kepada Yesus Kristus. Dalam Roma 1:17b dikatakan: “Orang benar akan hidup oleh iman.” Kita sebagai orang-orang percaya adalah orang-orang yang dibenarkan melalui kasih-karunia-Nya. Itu bukanlah karena kekuatan dan kebaikan kita tetapi semata-mata oleh kasih-karunia-Nya. Maka dalam konteks pengharapan kita adalah orang-orang yang optimis sebab di dalam Tuhan harapan kita akan menjadi sukacita. Sebagai orang benar kiranya kita tetap setia mengikuti Tuhan  dan selalu berpengharapan yang hidup kepada-Nya. Amin. HLT

DOA: Bapa Sorgawi, terima kasih atas kebenaran Firman-Mu. Tolong kami Tuhan agar kiranya memiliki kesabaran untuk menantikan harapan-harapan yang akan Engkau nyatakan bagi kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Kata-kata Bijak:
Harapan orang benar mendatangkan sukacita.


Sabtu, 16 Maret 2019

DIMENSI KERAJAAN SORGA
“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Roma 14:17).

                Berbicara tentang Kerajaan Allah barangkali pikiran kita diarahkan untuk memahami sebuah kerajaan duniawi, yang ada rajanya dan rakyatnya serta segala kemegahannya. Tetapi melalui nas ini Paulus mengajarkan kepada kita sebuah realitas atau dimensi Kerajaan Allah dalam hidup sehari-hari. Bagaimana hal itu kita pahami?
                Dalam konteks jemaat Roma yang terdiri dari orang-orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi ada kalanya terjadi salah pengertian dan salah pemahaman tentang sesuatu ajaran tentang makanan. Di satu pihak mengatakan tidak boleh makan jenis itu sebab itu adalah najis, tetapi di pihak lain itu tidak masalah, tidak najis. Nampaknya persoalan makanan, tentang mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dimakan sudah membuat mereka saling menghakimi dan bahkan sudah membuat saudaranya yang lain tersandung (Rm.14:13). Untuk merespons persoalan yang demikian Paulus menasihatkan agar mereka jangan saling menyakiti dan jangan saling membinasakan sebab Kristus telah mati untuk kita. Bagi Paulus yang terpenting di tengah-tengah jemaat bukanlah persoalan makanan dan minuman tetapi bagaimana jemaat memiliki hubungan yang baik satu sama lain. Itulah sebabnya dalam nas ini Paulus katakan: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (ay.17). Dalam hal ini Paulus menekankan di tengah jemaat yang penting adalah hidup dalam kebenaran, hidup dalam damai dan sukacita antara yang satu dengan yang lain.
                Demikian jugalah dalam kehidupan berjemaat dewasa ini, kita perlu menghindari hal-hal yang bisa menyebabkan jemaat kita tersandung dan saling sikut-menyikut. Beberapa hal yang sering membuat jemaat tidak akur adalah adanya pemahaman yang sempit dalam kehidupan bergereja. Misalnya ia berpendapat bahwa gereja itu adalah miliknya dan milik keluargannya, akibatnya anggota jemaat yang lain dianggapnya kelas dua dan tidak memiliki andil di dalamnya. Ada juga anggota jemaat yang selalu ingin cari nama dalam Gereja. Dia rajin memberikan ucapan syukur atau sumbangan lainnya supaya mendapat pujian. Tetapi ketika tidak ada lagi pujian, maka dia mundur, tidak lagi memberikan ucapan syukurnya. Nampaknya banyak lagi hal-hal yang bersifat kasuistik yang dapat mengganggu hubungan antar jemaat. Dalam kondisi seperti itu nasihat Paulus melalui nas ini sangat penting bagi kita yaitu bagiamana jemaat berupaya untuk membangun hubungan yang baik antara yang satu dengan yang lain. Kerajaan Allah dapat diwujudkan di tengah-tengah jemaat melalui hidup damai sejahtera, hidup dalam kebenaran dan sukacita. (HLT).

DOA: Bapa Sorgawi, terima kasih atas Firman-Mu yang memberikan pemahaman yang baru tentang Kerajaan Sorga bagi kami. Tolong kami Tuhan agar kami mampu untuk membangun hubungan di antara sesama kami. Amin.

Kata-kata Bijak:
Menegakkan kebenaran, keadilan dan damai sejahtera di tengah-tengah kehidupan
merupakan misi Kerajaan Allah.


Minggu, 17 Maret 2019

MELINTASI SEMUA LANGIT
“Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita”. (Ibrani 4:14).

                Dunia teknologi, dengan segala kecanggihannya sekalipun, tidak dapat mengukur dan memastikan berapa ketinggian langit dari bumi. Hal ini menunjukkan keagungan Tuhan, sebagai Pencipta alam semesta, yang tidak dapat dijangkau kemahakuasaanNya oleh manusia yang sangat terbatas dalam segala sesuatunya. Dia adalah Tuhan yang mengatasi segalanya yang ada dalam dunia dan alam semesta ini, karena Dia-lah Sang Pencipta langit, bumi dan seluruh jagad raya. Dalam keberadaan manusia yang begitu terbatas dan lemah, ada satu Pribadi yang dapat mengatasi segala sesuatu dalam diri manusia itu, yaitu Yesus Kristus, Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia.
                Imam dalam kehidupan beragama umat Yahudi dipahami sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan Allah. Manusia yang berdosa tidak dapat bertemu secara langsung dengan Tuhan Allah Yang Mahakudus. Dosa manusia telah memisahkannya dari Tuhan Allah Sang Pencipta. Segala usaha dilakukan manusia supaya manusia tetap dapat berhubungan dengan Tuhan Allah. Untuk itulah, diperlukan Imam yang menjadi perantara bagi manusia untuk dapat berhubungan dengan Tuhan Allah. Namun, sebelum Imam itu menghadap Allah, maka Imam haruslah menyucikan dirinya terlebih dahulu dan membawa korban dihadapan Tuhan, supaya Imam itu layak dihadapan Tuhan dan tidak dimusnahkan oleh Tuhan Allah.
                Namun, sekarang, kita tidak lagi membutuhkan imam untuk menjadi perantara antara kita dengan Allah. Karena Allah sendiri dalam rupa manusia di dalam Pribadi Yesus Kristus telah mengorbankan diri-Nya dengan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Dialah Imam Besar dan Agung bagi kita yang telah menjadi Perantara kita dengan Allah. Oleh-Nya, hubungan kita dengan Allah diperdamaikan kembali. Darah-Nya yang kudus yang telah tercurah di kayu salib, telah melayakkan kita kembali untuk memiliki hubungan yang begitu dekat dengan Allah. Itu bukan karena usaha kita sendiri, tetapi hanya oleh kasih karunia-Nya yang dilimpahkan-Nya kepada kita. Dia adalah Juruselamat kita yang keagungan-Nya mengatasi semua langit .Dia sendiri adalah Allah yang menjadi manusia. Kita telah dimateraikan dengan darah-Nya yang kudus, itulah yang menjadi kekuatan iman kita untuk berpegang teguh kepada iman yang sejati di dalam Pribadi Yesus Kristus. Apapun yang menjadi pergumulan hidup kita, tidak dapat melemahkan iman kita di dalam Dia karena Dialah yang menjadi pegangan iman kita, sehingga kita dapat tetap kuat dan mampu menghadapi segala persoalan dalam hidup kita. Karena itu apapun pergumulan kita dan apapun tantangan yang kita hadapi, kita memiliki Yesus Kristus Tuhan kita, yang telah menjadi Imam Agung bagi kita.  (LCS)

DOA : Terimakasih Tuhan Yesus karena Engkaulah  menjadi pegangan yang teguh dalam menghadapi segala persoalan dalam hidup ini. Amin

Kata-kata Bijak :
Kristus Imam Besar Agung yang mengaruniakan Hidup kekal.

Senin, 18 Maret 2019
                               
BERSUKARIA
“Aku bersukaria di dalam Tuhan”.  (Yesaya 61:10a)

                Suatu kali Joni mendapat hadiah undian berupa uang tunai sebesar Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah). Iapun segera pergi ke bank untuk mencairkannya dan mengecek apakah uang itu sudah masuk ke rekeningnya. Benar saja, uang itu memang telah masuk ke rekening. Dalam perjalanan menuju kembali ke rumah, Joni yang membawa sepeda motor terus tersenyum sumringah.Di tengah perjalanan, tiba-tiba ban motornya bocor terkena pecahan beling. Biasanya jikalau mengalami hal ini, dia pasti akan bersungut-sungut, namun kali ini ia tetap bersukacita. Ia pun membawa motornya ke bengkel untuk diperbaiki. Kemudian setelah melanjutkan perjalanan, dia terpaksa harus terjebak macet parah di sebuah persimpangan jalan. Dia baru bisa melaluinya setelah 30 menit menunggu. Biasanya dia akan menggerutu, namun dia tetap saja bersukacita.Di sepanjang perjalanan, dia hanya memikirkan uangnya sehingga apapun yang dialami itu tidak mempengaruhi sukacitanya.Untuk uang Rp 200.000.000,- Joni tetap bersukacita, walau banyak kesulitan yang dialaminya tidak mempengaruhi sukacitanya.
                Cerita di atas menggambarkan bagaimana sesungguhnya sukacita orang percaya dalam menjalani kehidupannya di dunia yang penuh dengan pergumulan kehidupan. Banyak orang menjadi kehilangan sukacita ataupun kebahagiaan dalam hidupnya, karena melihat pergumulan hidupnya yang terlalu besar, sehingga mengalahkan sukacita yang ada dalam hidupnya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena sesungguhnya orang percaya tidak memahami dengan baik apa yang menjadi alasannya untuk bersukacita. Orang percaya masih mendasarkan alasannya untuk bersukacita karena hal-hal yang sifatnya masih dapat diukur oleh sesuatu yang ada disekitarnya yang dapat dilihat dan dirasakan secara jasmani.
Tuhan, Dia-lah satu-satunya alasan yang paling mendasar bagi kita untuk bersukacita. Tuhan Allah yang telah mengaruniakan keselamatan kepada kita, Dia-lah yang membuat kita bersukacita.
                Seperti Joni yang selalu mengingat bahwa dia telah mendapatkan uang dua ratus juta rupiah, sehingga walaupun ada kesulitan dia tetap bersukaria di sepanjang perjalanannya. Kebahagiaan kita jauh lebih besar dari nilai uang dua ratus juta rupiah, yaitu keselamatan kekal yang dikaruniakan-Nya di dalam Yesus Kristus bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Itulah kebahagiaan kita, hendaklah kita senantiasa mengingat karya dan pengorbanan Yesus di Kayu Salib yang telah menebus dosa dan menyelamatkan kita, sehingga walaupun dalam perjalanan hidup ini, kita menghadapi berbagai kesulitan dan pergumulan tidak menghilangkan sukacita yang telah kita terima. Kita dapat tersenyum sumringah melihat berbagai persoalan hidup yang datang silih berganti menerpa hidup kita. (LCS).

DOA: Terimakasih Tuhan untuk keselamatan kekal yang telah Engkau karuniakan kepadaku, itulah yang menjadikanku tetap dapat bersukacita menghadapi berbagai persoalan dalam hidupku. Amin !
Kata-kata Bijak :

Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan karena Dia telah menyelamatkan hidupmu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar