Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan penuh sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan September bagi kita sekalian. Salam sehat selalu, teruslah menjaga imunitas tubuh, dan mengikuti protokol kesehatan, karena Pandemi Covid-19 belumlah berakhir. Sayangi diri anda, sayangi keluarga dan sayangi orang lain. Namun menjaga imunitas rohani juga sangat penting untuk menjaga spritualitas kita tetap terjaga dari segala rupa-rupa ajaran sesat. Dalam Almanak GKPI tema bulan September ini adalah: “MENJADI SESAMA BAGI SAUDARA YANG MENDERITA” yang didasarkan pada Lukas 10:36-37 “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?. Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!." Dengan tema tersebut diharapkan agar kiranya seluruh warga jemaat GKPI berbuah lebat sebagai bentuk kesaksian dalam kehidupan sehari-hari, kemudian meningkatkan persekutuan dan pelayanan antar kategorial, serta keperdulian terhadap korban-korban bencana alam dan juga korban-korban Narkoba. Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini semakin diberkati oleh Tuhan. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan. Tuhan Yesus Memberkati. Shalom

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)



Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Arsip Renungan Harian Terang Hidup GKPI




Rabu, 01 Januari 2020

JANGAN MENILAI BUKU DARI SAMPULNYA
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
(2 Korintus 5:17).

                Kata-kata sebagaimana judul di atas pernah kita baca yang tujuannya adalah jangan menilai seseorang dari penampilannya. Seseorang itu dilihat dari “isinya”. “Isi” itu bisa artinya: kebaikan, kesetiaannya, kemampuannya, karakternya dan sebangainya. Hal tersebut memang tidak tampak secara kasat mata. Walau seseorang itu berkata lembut, bisa jadi kata-kata yang diucapkannya sangat menusuk. Kalau akhir-akhir ini sudah mudah membedakan agama seseorang dari pakaiannya. Walau begitu kita masih kesulitan membedakan mana yang benar-benar berjalan seturut dengan keyakinannya atau tidak. Sesungguhnya ini adalah kesempatan baik bagi umat Tuhan untuk mengabarkan kabar baik kepada semua orang, bahwa ternyata orang Kristen itu “beda” dengan orang lain.
                Apa yang membedakan orang percaya dari yang lain? Nas ini menyatakan yang membedakannya adalah “isi” nya bukan covernya.  “Isi” dari orang percaya adalah Kristus. Kita sebagai orang percaya berada di dalam Kristus. Ini memaknai bahwa “isi” dari orang percaya telah diubahkan oleh Kristus menjadi ciptaan baru. Ciri-ciri dari orang yang berada di dalam Kristus adalah berupaya agar bekenan kepadaNya, takut akan Tuhan, tidak mencari pujian bagi diri sendiri, penguasaan diri, tidak menilai orang dengan ukuran manusia.
                Tujuan ini kiranya ada pada kita yang menyatakan diri sebagai pengikut Kristus. Pengikut Kristus sejatinya telah menjadi ciptaan baru. Ciptaan baru mengartikan bahwa sesungguhnya manusia yang tidak mengenal Tuhan berbeda dari orang yang berada di dalam Tuhan.  Perbedaan tersebut tidak terletak di dalam penampilan tetapi dari dalam isi hati kita dan ketekunan kita di dalam melakukan yang terbaik sebagaimana Tuhan kehendaki dari kita. Manusia ciptaan baru akan menampakkan keharuan dalam hidupnya.        Lagu: KJ 293:1, KJ 320:1,2

DOA: Ya Tuhan mampukan kami untuk berkarya sebagai ciptaan Baru Amin.
Kata-kata Bijak:
Engkau ciptaan Baru maka jadilah baru dalam pembaharuan Tuhan.

Kamis, 02 Januari 2020

MENDENGARKAN ATAU MENDENGAR?
“Perhatikanlah suara-Ku, hai bangsa-bangsa, dan pasanglah telinga kepada-Ku, hai suku-suku bangsa! Sebab pengajaran akan keluar dari pada-Ku dan hukum-Ku sebagai terang untuk bangsa-bangsa.”
(Yesaya 51:4)

                Kata listening diterjemahkan dengan mendengarkan dan hearing dengan kata mendengar. Mendengarkan berbeda dengan mendengar. Mendengarkan mengandung arti memperhatikan apa yang didengar, sedangkan mendengar belum tentu diperhatikan, karena mendengar itu bukan karena kita mau mendengarkan tetapi karena mau tidak mau kita harus mendengar. Misalnya di Bandara atau di Mall atau pasar. Di sana ada banyak suara yang memanggil seseorang. Oleh karena kita merasa bukan orang yang akan dipanggil maka kita tidak akan memperhatikan suara tersebut. Namun jika kita hendak bepergian maka kita pun akan mempertajam pendengaran kita agar tidak terlewatkan.
                Ketika berada dalam pembuangan karena doa, umat Israel sangat merindukan Tuhan yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Namun itu semua tinggal kenangan. Lalu dengan cara bagaimanakah mereka kembali ke jalan Tuhan. Yesaya 51 ini menyerukan kepada umat untuk memperhatikan suara Tuhan. Sebagaimana di Bandara atau di Mall ada berseliweran suara-suara yang kita dengar, namun hanya satu yang mau kita dengarkan (perhatikan) yaitu hal yang penting dan utama bagi kita.  Apa hal yang penting bagi kita  adalah mendengarkan suara Tuhan.
                Memperhatikan (atau mendengarkan) Firman Tuhan adalah dengan mendengar khotbah, membaca firman, dan melakukan kehendak Tuhan di dalam hidup ini.  Tuhan mengajak kita untuk memperhatikan Tuhan, karena Tuhan akan memberikan pengajaran. Karena itu marilah di tengah-tengah hidup kita senantiasa dengar-dengarkan akan suara Tuhan, sebab itulah yang menjadi penuntun bagi kita ketika menghadapi pergumulan apapun.  (HUM).
                                                                                    Lagu KJ. 385:1-3, KJ 395: 1
DOA: Ya Tuhan ajarlah kami untuk sedia mendengar Engkau agar hidup kami terpelihara di dalam kasih-Mu Amin.

Kata-kata Bijak
Dengarkanlah firman Tuhan, niscaya hidupmu penuh Damai.
Jumat, 03 Januari 2020

TUHAN MENGASIHI KITA
“Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan.” (Hosea 11:4).

                Melihat perbuatan orang tua kepada anak-anak, atau kita yang orang tua kepada anak-anak membawa bayangan kita pada masa anak-anak. Walau mungkin tidak persis seperti yang diterima anak-anak saat ini, mungkin kita akan membayangkan betapa kita ini dimanja, disayang. Walau kita membandel, tidak bersedia makan, maka orang tua akan menyuapi kita. Walaupun terkadang orang tua itu marah, maka kemarahannya tidak akan lama. Kemarahannya akan redup. Dia akan kembali mencari. Pembaca yang saat ini telah menjadi orang tua pasti pernah melakukannya. Pembaca yang remaja pasti pernah dimarahi lalu diperintahkan untuk ke luar dari rumah. Lalu setelah beranjak hendak pergi orang tua itu juga yang melarang untuk pergi.
                Gambaran itu tidaklah seratus persen identik dengan apa yang telah Tuhan perbuat kepada kita. Bahkan tindakan Tuhan melebihi dari apa yang dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya (bnd Luk 11:11, Mat 7:7).  Nabi Hosea hadir untuk mengingatkan umat tersebut akan kasih Tuhan. Kehidupan  Hosea dengan isterinya Gomer seorang perempuan Sundal menggambarkan bagaimana Tuhan tetap mengasihi Israel yang telah bersundal tersebut. Walau demikian Tuhan mengasihi umat yang degil, dan keras kepala tersebut. Tuhan yang bertindak. Alat yang dipakai adalah tali untuk mengikat. Ikatan itu adalah kesetiaan dan kasih. Hal itulah yang telah terabaikan dalam persekutuan umat Tuhan pada masa kitab ini, yaitu ketidaksetiaan dan ketidakadilan.
                Hal ini menjadi pengingat bagi kita bahwa Tuhan senantiasa berinisiatif untuk menyelamatkan kita dengan kesetiaan dan kasihNya. Tuhan sendiri yang mengangkat kuk, bahkan Tuhan yang membungkuk memberi makan. Bukankah itu suatu tindakan merendahkan diri demi keselamatan kita. Oleh karena itu marilah kita setia kepada Tuhan kita.
                                Nyanyian KJ 454: 1,3 ; KJ 388:1
DOA. Terima kasih Tuhan atas kasih setiaMu bagi kami. Amin.

Kata-kata Bijak:
“Tuhan telah merendahkan diri untuk menyelamatkan kita, maka marilah kita menghadap Tahta kemulianNya.”

Sabtu, 04 Januari 2020

MEGAHKANLAH TUHAN
“Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion!”(Mazmur 147:12).

                Pengalaman hidup  itu seperti dua sisi mata uang, yaitu ada bagian depan ada bagian belakang. Pengalaman hidup itu ada yang menyenangkan dan ada yang menyusahkan. Hal itu tidak dapat kita pisahkan dari hidup kita. Pengalaman dapat menghantarkan kita semakin dekat kepada Tuhan, dan bisa juga membuat kita jauh dari Tuhan. Hal itu terjadi oleh karena perbedaan keyakinan. Keyakinan bisa membuat kita damai dan berpengharapan. Orang yang tidak mempunyai keyakinan akan mudah putus asa.
                Pemazmur menyatakan imannya melalui pengalaman hidupnya. Yang mana dia mengamati dan merasakan kehadiran Tuhan. Segala yang dialaminya diyakini adalah oleh karena kekuasaan dan kemurahan Tuhan. Kesejahteraan, keamanan, turunnya salju,  rasa dingin membuat pemazmur takjub. Semua itu adalah oleh karena berkat Tuhan. Pengamatan pemazmur mengajak kita untuk merasakan perjumpaan Tuhan di dalam setiap kehidupan. Perjumpaan itu mendatangkan kekaguman atas kuasa dan kemurahan Tuhan di dalam kehidupan kita. Alkitab telah memperlihatkan kepada kita di dalam penderitaan sekalipun Tuhan hadir. Seperti penderitaan Umat Israel di Mesir, Tuhan hadir untuk membebaskan. Di dalam sukacita Tuhan hadir, yaitu saat penahbisan Bait Suci oleh Salomo. Tuhan hadir ditandai oleh awan. Oleh karena itu apakah kita akan mengatakan bahwa Tuhan meninggalkan kita saat menderita? Bagi pemazmur segala yang terjadi dalam hidup tidak terlepas dari Tuhan. Oleh sebab itulah pemazmur menyerukan kepada kita untuk memegahkan Tuhan.
                Memegahkan Tuhan adalah sebagai bentuk memuji Tuhan atas kebaikanNya di dalam hidup kita. Saat ini memegahkan Tuhan tidak hanya melalui kata-kata tetapi harus terwujud di dalam perilaku kita yang seturut dengan kehendak Tuhan dengan pengharapan bahwa Tuhan akan menyertai kita dan memampukan kita menjalani hari-hari kita. (HUM).                                                              Nyanyian KJ. 320:1; KJ 392:1

DOA: Terpujilah Engkau Tuhan dan ajarlah kami memegahkan Tuhan dalam perilaku kami. Amin.

Kata-kata Bijak:
Megahkanlah Tuhan di dalam perilakumu.
Minggu, 05 Januari 2020

TUHAN TETAP SETIA
“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. “ (Yesaya 42:3).

                Memasuki hari ke lima pada tahun yang baru ini  menyemangati hidup kita untuk mengarungi hidup ini. Tuhan telah menambahkan satu tahun yang baru yang akan kita jalani. Tahun yang telah berlalu beberapa hari lalu adalah bisa jadi adalah hari-hari berat yang kita jalani. Namun oleh karena kasih Tuhan, kita dapat berjalan hingga tahun ini. Di antara kita mungkin ada yang hampir putus asa menjalani tahun yang lalu tersebut. Akan tetapi kita masih bernafas. Itu bukanlah oleh kuat kuasa kita. Itu semua adalah oleh karena kasih Tuhan.
                Umat Israel yang digambarkan dalam Yesaya 42:3 ini sedang berada di dalam pembuangan. Sebagian dari mereka memahami bahwa Tuhan tidak menolong mereka, Tuhan tidak mendengar seruan mereka. Ternyata Tuhan hadir di tengah umat tersebut melalui kehadiran dari nabi. Nabi menyatakan kasih-Nya kepada umat yang terbuang. Tuhan menyatakan diri-Nya bahwa dunia ini adalah ciptaan-Nya oleh sebab itu Tuhan hadir di mana-mana dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Nabi Yesaya mengandaikan umat tersebut bagaikan buluh yang patah dan terkulai.  Artinya umat tersebut sudah tidak memiliki pengharapan, atau umat tersebut layak beroleh pembinasaan, karena mereka menduakan Tuhan. Yesaya meyakinkan umat tersebut bahwa buluh yang patah terkulai tersebut tidak akan diputuskan. Artinya Tuhan tidak akan meninggalkan umat yang sedang terbuang tersebut. Tuhan akan menyertai umat tersebut dengan setia dan Tuhan akan menyatakan hukumNya.
                Ini adalah kabar sukacita bagi kita bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Seberapa besar kekuatiran kita dalam mengarungi tahun yang baru ini, kita diingatkan bahwa Tuhan itu setia menyertai langkah kita menuju damai sejahtera dari padaNya. (HUM).
                                                                                                 Nyanyian K.J. 417:1-2
DOA. Kami bersyukur punya Tuhan seperti Engkau yang setia menantikan pertobatan kami Amin.

Kata-kata bijak:
Hanya Tuhan yang sanggup memulihkan kehidupan kita.
Senin, 06 Januari 2020

JANGAN SOMBONG!
“Lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi , kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Matius 3:17).

                Masih ingatkah kita tentang seorang pelajar SMA yang menjadi viral karena kesombongannya yang mengaku sebagai seorang anak Jenderal ketika ia hendak ditilang karena melanggar peraturan lalu lintas? Banyak orang yang menghujatnya karena kesombongannya, pengakuannya tidak sesuai dengan kenyataannya. Hal ini juga sering kita lakukan dalam kehidupan kita. Kita sering jatuh pada kesombongan terhadap kekuasaan, harta, talenta yang kita miliki, seolah-olah ingin memperkenalkan dan menonjolkan diri kita supaya dihormati, ditakuti, dielu-elukan oleh banyak orang.
                Tapi tidak demikian dengan Yesus Kristus ketika Dia datang ke dunia ini. Ketika Dia ditanya tentang identitasnya, tak satu pun ayat yang menyatakan bahwa Yesus pernah mengaku sebagai Anak Allah, sementara banyak orang yang mencoba menjelaskan siapa Yesus itu. Ada yang mengatakan bahwa Dia adalah seorang Mesias, seorang Raja dsb.   Pada akhirnya kesiapaan Yesus terjawab dalam Matius 3: 17 dimana Yesus dinyatakan Anak Allah yang dikasihi. Identitas Yesus bukanlah berasal dari pernyataan manusia tetapi pernyataan langsung dari sorga.
                Identitas Yesus sebagai Anak Allah yang datang dengan kerendahan hati dan penuh ketaatan mengingatkan kita untuk meneladani sikap Yesus yang tidak pernah sombong dengan kekuasaan yang dimilikinya sebagai seorang Anak Allah. Bahkan dalam ketaatannya terbukti Dia mau turun dari tahta kemuliaan-Nya menjangkau kita yang hina dan berdosa untuk  menyelamatkan kita dari hukuman kekal. Saudaraku, masih adakah di antara  kita yang menjadi manusia yang mengandalkan kekuasaan, kekayaan dan talenta yang kita miliki? Mari segera berkaca dari Yesus Tuhan kita. (TMS).
                                                                                        Nyanyian :KJ. No. 376:1-2
DOA: Bapa jikalau selama ini aku masih hidup dalam kesombonganku, ajar dan bimbinglah aku sehingga aku menyadari bahwa apa yang aku punya hanya berasala dari pada-Mu. Amin

Kata-kata Bijak:
Seorang yang sombong berpikir bahwa ia memiliki segalanya, namun orang yang beriman tahu bahwa semua adalah milik-Nya
Selasa, 07 Januari 2020

BERJALAN DALAM TERANG TUHAN
“Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan dalam terang Tuhan” (Yesaya 2:5)

                Setiap manusia pasti pernah berada dalam situasi ruangan yang gelap, misalnya ketika listrik padam di malam hari. keadaan ini membuatkan kita hidup dengan keterbatasan, menjadi yang tidak sabaran, gelisah, was-was, takut, dan pasti kita akan mulai bersungut-sungut mencari kesalahan serta menghakiminya, misalnya menghakimi PLN.  Lalu kita akan berusaha untuk keluar dari kegelapan dan mencari terang. Entah itu menghubungi PLN atau mencari sumber terang lainnya, lampu emergency atau lilin. Seperti inilah kehidupan kita di dunia ini yang telah dikuasai oleh kegelapan dosa. Dosa itulah yang membuat kita hidup dalam keterbatasan sehingga ketika sering diliputi rasa takut.
                Kehidupan bangsa Israel pada zaman Yesaya sangat menyusahkan hati Tuhan dimana sangat jelas dituliskan bagaimana kehidupan mereka yang penuh dengan kegelapan. Mereka melakukan tindakan ketidakadilan (Yes. 1:15-17), melakukan ibadah palsu (Yes. 1:11-14). Saking jahatnya, bangsa Israel ini digambarkan lebih buruk dari binatang, “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” (Yes. 1:3). Itulah sebabnya Yesaya memberitakan amarah dan kecaman Tuhan atas mereka, serta mengajak supaya bangsa itu bertobat dan kembali ke jalan Tuhan menuju terang-Nya dimana di sana yang ada hanya kedamaian, kehidupan yang tenang dan sejahtera (ay. 4).
                Kitapun akan menikmati kehidupan yang amat baik itu, dimana tidak ada lagi dosa, kekacauan, takut, gelisah, kalau kita hidup dalam terang Tuhan. Analoginya sederhana, kita hanya dapat menikmati terang listrik kalau kita berada di tempat yang ada aliran listriknya. Kita pun, kapan saja dan dimana saja kalau kita hidup dan berjalan dalam terang Tuhan, kita akan menikmati anugerah-Nya.  Karena itu marilah  berjalan dalam terang Tuhan. (TMS).
Nyanyian: KJ. No. 426:1

DOA: Tuhan ajarlah kami untuk senantiasa berjalan dalam terang-Mu dan meninggalkan kegelapan yang selalu mendukakan hati-Mu. Amin

Kata-kata Bijak:
Yakinlah terangnya hati lebih terang dari cahaya matahari.
Rabu, 08 Januari 2020

TUHAN RAJA MAHA BESAR
Maka Tuhan akan menjadi Raja atas seluruh bumi, pada waktu itu Tuhan adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya.”
(Zakharia 14:9)

                Saat ini di berbagai media sering sekali ketidakadilan, letidakbenaran bahkan kejahatan dipertontonkan dengan terbuka. Malah yang lebih gawat lagi seolah-olah kejahatan, ketidakbenaran dan ketidakadilan menari bebas di tengah-tengah kehidupan ini. Lihat saja, seorang ibu yang rela membuang bayinya yang baru saja dilahirkan ke dunia, seorang korupsi yang masih bisa tersenyum kepada banyak orang ketika ia benar-benar telah dinyatakan bersalah. Rasanya kehidupan ini tidak adil. Mengapa orang yang taat dan patuh kepada Tuhan sering sekali jatuh pada penderitaan. Ada begitu banyak pertanyaan yang melintas, “Benarkah Tuhan tidak bergeming?  
                Pertanyaan ini mungkin juga timbul dalam diri bangsa Israel. Dalam perjalannya sejarahnya, bangsa Israel berulangkali ditahklukkan oleh bangsa-bangsa di sekitarnya. Seolah-olah Allah yang mereka sembah itu lemah, tidak mampu berbuat apa-apa. Khususnya ketika mereka ditindas, dianiaya dan kejahatan merajalela. Akan tetapi, kita melihat bahwa Allah telah mengatur segala sesuatu karena Dia yang berkuasa. Dia tidak membiarkan bangsa-Nya jatuh, jatuh sampai tergeletak. Pada saat Allah bertahta sebagai Raja, dengan kuasa-Nya, Ia mengguncang dunia (Za. 4:6), mengalahkan kejahatan dan mengembalikan kedamaian.
                Saat ini mungkin kita melihat bahwa disekitar kita begitu banyak kejahatan yang menari-nari dengan bebasnya, hukum tidak lagi adil, penindasan dan ratapan rakyat jelata ada dimana-mana. Bukan berarti Allah tidak bergeming, bukan berarti Aalah tidak berkuasa dan lemah, tapi Allah sedang menantikan waktu yang tepat untuk bertindak. Pada saat itu kita akan mengatakan, “Dia adalah Raja atas seluruh bumi,  Tuhan adalah satu-satunya, dan namanya adalah satu-satunya”. (TMS)                                                       Nyanyian : PKJ. No. 177: 1+3

DOA: Tuhan mampukan kami untuk melihat cara-Mu bekerja dan menunggu dalam pengharapan sampai waktunya tiba. Amin

Kata-kata Bijak:
Jalan Tuhan adalah perlindungan bagi orang yang tulus, tetapi kebinasaan  bagi orang yang berbuat jahat.

Kamis, 09 Januari 2020

RAIHLAH TERANG ITU
Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, katanya: “Akulah terang dunia; barang siapa mengikut Aku, dia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkah ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12)

                Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri menghasilkan sebuah produk yang berfungsi sebagai alat penerangan. Produk tersebut diberikan slogan “terang terus, terus terang” dengan harapan bahwa produk itu akan memberikan terangnya secara terus menerus bagi para konsumennya. Nah, untuk memperoleh terang dan keluar dari kegelapan maka para konsumen harus membeli produk tersebut sebagai jalan keluarnya. Dunia sering sekali digambarkan sebagai sebuah tempat yang gelap dan berbahaya di mana manusia hidup. Untuk itu apa yang menjadi jalan keluar bagi manusia untuk bisa hidup dan bertahan di tengah-tengah kegelapan dunia ini?
                Dalam Yohanes 8:12, Yesus mengatakan bahwa Dia adalah terang dunia karena Dia berasal dari Bapa. Dia adalah terang dunia karena Dia berbicara bagi Bapa, Dia akan pergi kepada Bapa  dan Dia adalah satu dengan Bapa itu sendiri. tanpa Dia berasal dari Bapa, Dia tidak mungkin bisa menyatakan “Akulah terang Dunia”. Sesungguhnya Yesus mengetahui bahwa dunia berada dalam kegelapan dan senantiasa memerlukan terang agar dapat melihat sekelilingnya, manusia yang telah lahir dalam dos aatau kegelapan itu perlu ditolong. untuk itu Dia mengajak setiap manusia untuk ada di dalam-Nya.
                Marilah kita datang untuk menghampiri terang  Tuhan supaya dapat bertahan hidup di tengah-tengah dunia yang penuh dengan kegelapan. Dan sebagai orang yang telah hidup di dalam terang Tuhan kita harus mampu menerangi orang-orang yang ada di sekitar kita untuk melanjutkan tugas-Nya, karena kita adalah “produk” atau anak-anak terang yang diciptakan dari terang sejati yaitu Yesus Kristus. Jadi terang kita harus bercahaya di depan semua supaya mereka memuliakan  Bapamu yang di sorga” (Mat.5:14,16). (TMS)

DOA: Tuhan Yesus kasihanilah kami, terangilah kami senantiasa terlebih saat kami berada dalam kegelapan. Amin
Nyanyian: KJ. No. 370:1-2
Kata-kata Bijak:
“Mereka yang tidak menyadari sedang dalam kegelapan tidak akan berusaha mencari terang.”
Jumat, 10 Januari 2020

DENGARLAH DAN LAKUKANLAH
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)

                .... yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman dan yang memeliharanya,” adalah doa dari setiap pemimpin ibadah setiap kali membacakan nats pengantar kotbah. Lalu jemaat yang mendengarkannya merespon dengan mengatakan “amin”. Nah, yang menjadi pertanyaannya adalah sudah berapa banyak firman yang kita dengarkan? Lalu sudah berapa banyak saudara melakukan firman Tuhan yang anda dengar? Karena jikalau kita telah mendengar dan melakukan firman maka iman sudah ada dalam diri kita.
                Hal inilah yang gagal dipraktekkan bangsa Israel dalam kehidupannya. Dalam Roma 10:13-17 menjelaskan bagaimana bangsa Israel tidak memiliki iman. Dari manakah asal iman? Rasul Paulus menjelaskan, iman timbul dari pendengaran, bukan asal mendengar saja, tetapi pendengaran oleh firman Tuhan.  Sementara yang dilakukan bangsa Israel adalah memesang telinga tetapi tidak mendengar, karena itu Tuhan menyebut mereka sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Sama halnya yang terjadi pada saat ini, banyak orang datang beribadah, secara fisik tubuhnya di gereja, tetapi yang di dengarnya ialah tentang keburukkan orang lain, lebih suka berbicara ketika firman Tuhan diperdengarkan oleh hamba-Nya, lebih suka untuk membuka Handphone melihat status terbaru dari temannya bahkan sampai tertidur di dalam gereja dengan pulasnya.                                                                                                                                                                                                                                                       
                Untuk itu, marilah kita dengan sungguh-sugguh mendengar firman Tuhan ketika kita sedang beribadah. Sehingga ketika kita mendengar Firman Tuhan maka iman dalam diri kita akan bertumbuh, sebab dengan iman kita akan mengalami mujizat, dengan iman kita akan melakukan perkara-perkara ajaib. Dan dengan iman kita dapat mengalahkan dan menghancurkan kuasa jahat. Dengan demikian maka kita akan menjadi orang Kristen yang tangguh, kuat dan teguh di dalam iman. Tuhan Yesus memberkati kita semua. (TMS).    
                                                                                              Nyanyian: KJ. No. 362: 1
DOA: Bapa, kami bersyukur karena kami memiliki iman, ajarlah dan mampukan kami untuk terus mendengar dan percaya akan Firman-Mu. Amin.
Kata-kata Bijak:
Ketika kita mendengar, kita belajar banyak hal.

Sabtu, 11 Januari 2020

TUHAN SUMBER KEKUATAN!
“TUHAN kiranya memberi kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!” (Mazmur 29:11).

                Saat mempersiapkan renungan ini, tiba-tiba saya menerima berita sedih dari salah satu keluarga, adik perempuan saya. Sambil menangis dia menceritakan bahwa putrinya didiagnosa oleh dokter mengalami penyakit radang getah bening. Dia memberitahu bahwa dokter akan melakukan biopsy demi mendapat kepastian penyakitnya dan pengobatan berikut. Saya bisa merasakan kesedihan dan kepanikannya. Saya katakan kepadanya untuk tetap tenang, berdoa, dan bahwa bagi TUHAN, tidak ada yang mustahil. Seterusnya saya sarankan untuk cepat mengikuti saran dokter.
                Banyak hal yang dapat membuat kita panik. Salah satunya ketika kita mengalami sesuatu yang buruk. Renungan kita hari ini memberikan pelajaran yang amat berharga bagi kita, khususnya ditengah situasi buruk atau badai kehidupan yang sedang menggoncang. Daud mengungkapkan kebesaran dan kemuliaan Allah di tengah badai yang sedang menggelora. Bahwa di tengah badai yang sedang terjadi, tetaplah Allah hadir dan bertahta atasnya. Karena itu Daud berseru, “TUHAN bersemayam di atas air bah, TUHAN bersemayam sebagai Raja untuk selama-lamanya” (Mzm.29:10).   Saya pernah membaca kesaksian dari seorang yang pernah selamat dari amukan badai di laut yang menyebabkannya terlempar jauh dari kapal yang ditumpanginya. Selama berminggu-minggu dia terapung di laut dengan berpegangan pada papan pecahan badan kapal, sampai akhirnya dapat diselamatkan oleh tim Sar. Ketika dia ditanya, apa yang dapat membuat dia dapat tetap bertahan dengan menahan lapar, haus, terik matahari di siang hari, dan cuaca dingin di malam hari. Dia memberi jawaban, dia selalu memandang ke arah perbukitan yang jauh di hadapannya, di sana ada biara dengan salib di menaranya. Salib itu seolah-olah berseru memanggilnya, dan memberi kekuatan untuk dapat bertahan.Ya, salib Kristus adalah kekuatan kita.
Lagu: PKJ.165:1-2
DOA: Ya TUHAN, kepadamulah kuserahkan hidupku ini. Engkaulah sumber kekuatan dan pertolonganku, Amin.

Kata-kata bijak:
Badai bisa datang, tetapi Tuhanlah sauh hidupku ini!
Minggu, 12 Januari 2020

TUHAN PENOLONG KITA
“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum”. (Yesaya 42:3).

                Alexis Szico, seorang pemuda dari Swiss, memiliki tubuh atletis dan tampan. Alexis sangat disiplin menjaga kebugaran tubuhnya dan menjaga asupan gizi dalam tubuhnya. Sedikitnya empat kali dalam seminggu selalu berlari mengitari kota tempat ia tinggalnya untuk melatih tubuhnya. Namun dalam kehidupan seterusnya dia harus berjuang mengalami sakit kanker yang menggerogoti tubuhnya. Awalnya dia sangat terpukul, pernah hampir bunuh diri. Suatu malam Alexis yang sedang berputus asa itu mendengar firman TUHAN yang dibawakan oleh seorang pendeta dalam program televisi yang ditontonnya. “Marilah kepadaku hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan.” Firman inilah yang menuntunnya untuk berserah dan berharap kepada TUHAN. Semangatnya yang patah itu akhirnya dipulihkan.
                Setiap orang percaya di mana pun, yang berada dibawah kolong langit ini, masih dapat mengalami berbagai kesulitan dalam hidup. Orang percaya sebaik apapun suatu saat bisa saja diizinkan Allah mengalami kekurangan, dicurangi orang lain, difitnah, kelemahan tubuh atau sakit, kehilangan orang yang disayangi, kepahitan, kekecewaan, kuatir, dan kemalangan. Gambaran ini sejajar dengan apa yang diumpamakan dengan istilah “buluh yang patah terkulai” atau “sumbuh yang pudar nyalanya”. Dalam penerapan terhadap manusia maka nas ini hendak mengatakan kepada kita bahwa “sekalipun kita mengalami kemalangan” seperti nasib “buluh yang patah terkulai” tetapi Allah tidak akan membiarkan kemalangan tersebut . Tuhan akan memberi pertolongan sesuai dengan waktuNya. Di sini kita percaya bahwa Tuhan tetap melindungi kita terhadap segala pergumulan yang pahit sekalipun. (Th.S).

Lagu: KJ.No.240a:1-2; KJ.No.238:1-2
DOA: Tolonglah aku Tuhan, agar aku dapat tetap menanti dalam kesetian jawaban untuk semua masalahku. Amin.

Kata-kata bijak:
Tuhan tetap peduli akan hidupmu.

Senin, 13 Januari 2020

AKU MILIKMU, YESUS TUHANKU!
“Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku” (Yesaya 43:1).
               
                Taman Bunga di kota kelahiran saya, juga kota tempat pelayanan saya sekarang, adalah satu tempat favorit yang sering saya kunjungi. Selain bagus untuk tempat berolahhraga, juga menjadi  tempat mencari inspirasi. Biasanya sore hari tempat itu banyak dikunjungi orang untuk olahraga, dan juga arena bermain bagi anak-anak bersama orangtuanya. Suatu kali saya meperhatikan seorang anak laki-laki sedang bermain balon, usianya kira-kira empat tahun. Dia sangat asyik dan tertawa memainkan balonnya. Dia melempar, memukul,  dan menendang balonnya sambil tertawa. Senang sekali. Saya ingin bermain bersamanya. Saya mendekatinya, namun tiba-tiba langkahku terhenti sejenak. Tiba-tiba ada anak lain, yang kurang lebih seusianya, mengambil balonnya, menendang-nendang dan membawanya menjauhinya. Sipemilik balon itu kelihatannya sedih, dan mencoba merebut balonnya kembali. Dia berjuang terus sambal berteriak, kelihatannya dia tidak rela kalau milik kepunyaannya itu diambil oleh orang lain. Dia berjuang terus, sampai pada akhirnya ia mendapatkannya kembali.
                Tahukah kita, bahwa kita ini adalah kepunyaan TUHAN, dan bahwa kita adalah mulia dan berharga dimata-Nya? Inilah yang sedang diungkapkan oleh TUHAN melalui nabi Yesaya. Seperti apa yang dilakukan oleh anak laki-laki yang berjuang merebut balon mainannya kembali,  Allah sudah berjuang, melakukan pengorbanan besar demi merebut kita umat ciptaanNya dari tangan iblis sipencuri. Oleh kasihNya dalam diri Yesus Kristus, kita menerima hidup yang kekal, dan pewaris Kerajaan Sorga.Kesadaran bahwa kita adalah umat kepunyaanNya, yang sudah ditebus dari kebinasaan, seharusnya mendorong kita untuk tidak kuatir dalam menghadapi segala permasalahan hidup. (Th.S).       Nyanyian K.J. No. 362:1-2; Kj. Np. 363:1

DOA: Ya Tuhan, kuatkanlah aku supaya tetap hidup di dalam rencana dan kehendakMu. Amin!

Kata-kata bijak:
Kita diciptakan oleh Tuhan bukan kebetulan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar