Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan November bagi kita sekalian. Pada bulan November ini kita kembali akan memperingati 10 November, yaitu peringatan hari pahlawan di tengah-tengah bangsa dan negara kita. Kemudian sesuai dengan kalender gerejawi kita akan memasuki sebuah Minggu yaitu Minggu Akhir Tahun Gerejawi setelah itu kita akan memasuki minggu-mingu Advent. Marilah kita menjalaninya dengan pemahaman bahwa segala aktivitas yang kita lakukan di dalamnya Tuhan turut bekerja untuk melakukan yang terbaik bagi umat-Nya. Di samping itu kita pun tidak boleh lupa akan tugas panggilan kita untuk memberitakan Injil sebab Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan. Untuk itulah tema bulanan GKPI pada November 2018 sebagaimana dalam Almanak GKPI, yaitu: “Memberitakan Injil kepada semua mahluk” yang didasarkan pada terang nas Matius 16:15: “Lalu Ia berkata kepada mereka: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala mahluk" Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini semakin diberkati oleh Tuhan dan dikuatkan oleh Tuhan untuk memberitakan Injil-Nya. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI,Senin, 19 November 2018


BERHARAP HANYA PADA TUHAN
“Aku tahu, bahwa TUHAN akan memberi keadilan kepada orang tertindas, dan membela perkara orang miskin.” (Mazmur 140:3).

                Sekeliling kita ada orang jahat. Seperti yang dikatakan sebuah ungkapan “Serigala berbulu domba”. Jika dalam pergaulan sehari-hari dia memperlihatkan sisi baiknya, yang cipika cipiki, senyum dermawan. Namun di sisi lain dia adalah serigala yang hendak memangsa buruannya. Orang seperti ini pada awalnya sulit kita kenali, karena dia berkamuflase sebagai seorang yang bijaksana, berhikmat namun nyatanya dia adalah serigala berbulu domba.
                Pemazmur merasakan bahwa dirinya sedang berada dalam cengkraman si jahat, yang selalu berupaya mencari-cari kesalahannya. Lolos dari kesalahan yang satu, dicarinya lagi kesalahan yang lain. Tidak dapat langsung mengenai sasaran, ia pun mengambil jalan melingkar dengan mencoba mencelakakan orang-orang di sekitar si pemazmur.  Hal-hal seperti ini membuat beberapa orang yang menyatakan diri sebagai pengikut Kristus akan mengalami lemah iman. Karena dalam benaknya ada pemahaman bahwa orang yang takut akan Tuhan tidak akan mengalami peristiwa kejahatan. Ternyata semua orang tak terkecuali orang percaya atau pun tidak sama-sama mengalami peristiwa kejahatan. Hal yang membedakannya adalah orang percaya memiliki pengharapan dan mengandalkan Tuhan, sedangkan orang yang tidak percaya akan mengandalkan diri sendiri atau orang lain. Pengandalan kepada orang lain akan mendatangkan kekecewaan. Mengandalkan Tuhan akan mendatangkan sukacita.
                Pengharapan itulah yang ditanamkan oleh Pemazmur dalam dirinya dan juga kepada pembaca bahwa di dalam Tuhan ada pengharapan. Di dalam Tuhan ada keadilan.  Apa makna dari ungkapan ini dalam hidup kita? Maknanya adalah diharapkan kita akan tetap setia kepada Tuhan walau kita mengalami penindasan. Penindasan yang kita alami tidak akan membuat kita berpaling dari Tuhan. Alkitab telah mencatat akan kehidupan orang-orang percaya yang awalnya mengalami penindasan akhirnya dia menjadi berkat. Salah satunya adalah Yusuf, anak Yakub. Dia mengalami ketidakadilan yang dilakukan oleh saudara-saudaranya. Tidak hanya itu saja dia pun diperdagangkan bagaikan budak, dipenjara hingga akhirnya menjadi orang nomor dua di Kerajaan Mesir. Sekilas kita hanya melihat yang manisnya saja, tidak melihat bagaimana perjalanan hidupnya yang menghadapi onak dan duri. Oleh karena itu Firman hari ini mendorong kita untuk tetap setia dan berharap kepada Tuhan.                                                                                                        (HUM)

DOA: Bapa Sorgawi, ajarlah kami untuk tetap dalam pengharapan bahwa Engkau beserta kami dalam menjalani hidup yang penuh onak dan duri ini. Amin.

Kata-kata Bijak:
Berharaplah kepada Tuhan yang setia menyertai hidup kita.


Renungan Harian Terang Hidup GKPI,Minggu, 18 November 2018


MENGALAH UNTUK MENANG
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian
dengan semua orang!”  (Roma 12:18).

                Cerita ini mungkin sudah terkenal, yaitu cerita antara dua orang sahabat yang sedang berdebat tentang hasil perkalian. Ceritanya tidak persis seperti yang saya sampaikan ini, namun alur ceritanya hampir sama. Perdebatan mereka itu hampir berujung kepada saling mencelakakan. Sebutlah namanya si Anto dan si Andi. Mereka memperdebatkan hasil perkalian 3 x 4. Si Anto menjawab 12 sedangkan si Andi menjawab 7. Karena mereka tidak memiliki kesepakatan tentang siapa yang benar dan yang salah dan saling memegang pendapatnya, akhirnya mereka pun berusaha mencari  penengah dengan perjanjian jika si Anto benar maka si Andi  memilih untuk tangannya dipotong, dan jika si Andi benar maka si Anto memilih untuk dicambuk dengan rotan sebanyak 12 kali.  Mereka pun pergi ke pada juru penengah dan menceritakan apa hukuman jika salah satu dari antara mereka benar. Si juru penengah pun membenarkan si Andi dengan jawaban 3 x 4 = 7. Akhirnya si Anto mendapat cambukan rotan sebanyak 12 kali. Setelah si Andi pergi maka si Anto pun protes kepada si juru penengah dengan mengatakan bahwa dialah yang benar. Si juru penegah pun menjawab memang kamu benar tetapi jika kamu saya benarkan maka si Andi akan kehilangan tangannya dan dia tidak akan dapat bekerja lagi.  Si juru penegah mengajarkan kepada si Anto untuk mengalah agar tidak mencelakakan orang lain.
                Hidup seperti inilah yang sesungguhnya perlu kita hidupi di dalam kehidupan kita, yaitu bagaimana mengurangi dampak dari kejahatan atau perbedaan yang terjadi. Kebenaran tentu harus diungkapkan. Namun apakah hal tersebut harus dipaksakan? Apakah nyawa harus diganti dengan nyawa?  Yesus Kristus memberi kita keteladanan bagaimana Dia menyelamatkan kita yang seharusnya kitalah yang harus mati oleh karena dosa. Yesus Kristus hadir dan menyatakan upah dosa adalah maut. Namun upah tersebut tidak dikenakan serta merta kepada manusia, tetapi Dialah yang mengambil tempat itu menjadi korban di kayu salib. Yesus memilih bahwa hanya melalui kematianlah Dia menyelamatkan manusia dari hukum dosa.
                Lalu bagaimana hal ini kita terapkan dalam kehidupan kita. Terkadang perselisihan kecil bisa menjadi persoalan yang besar oleh karena seseorang. Misalnya tentang tawuran. Tawuran umumnya dipicu masalah sepele, seperti saling ejek, atau salah seorang dari anggota geng tersebut dicolek. Namun karena dia mengadu ke kelompoknya dan memprovokasi kelompoknya maka terjadilah perkelahian yang besar. Dalam gereja pun bisa seperti itu. Oleh sebab itu kita perlu belajar dari Yesus, bagaimana mengelola konflik dengan baik menuju damai.  Saudara, jadilah kita sebagai pembawa damai.                (HUM)

DOA: Terimakasih Tuhan atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk menjadi pembawa damai. Amin.
Kata-kata Bijak:
Jadilah pembawa damai dalam lingkunganmu.