Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan penuh sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan Juli 2021 bagi kita sekalian. Dalam bulan ini kita masih tetap bergumul dengan penyebaran Virus Corona yang sudah melanda dunia. Tetapi kita bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan senantiasa melindungi kita umat yang dikasihiNya. Selanjutnya sebagai umat percaya mari kita terus berdoa agar virus yang mematikan itu segera berakhir di dunia ini. Sehubungan dengan konteks itu tema bulanan GKPI pada Juli 2021 ini sebagaimana dalam Almanak GKPI, adalah: “PERANAN PENDIDIKAN yang didasarkan pada Amsal 5:1-2“Hai anakku perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan" Dengan tema tersebut GKPI semakin meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan anak-anak serta dalam rangka Hari Anak Nasional 23 Juli kiranya Tuhan melindungi anak-anak dari tindakan kekerasan, perdagangan anak, serta kekerasan seksual. Kiranya pelayanan di GKPI semakin maju demi terwujudnya MISI Allah bagi dunia. Semoga saudara-saudara pengunjung blog ini semakin diberkati oleh Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

(Departemen Apostolat GKPI)



Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan HArian Terang Hidup GKPI, Selasa, 27 Juli 2021

 

MENGASIHI TUHAN

“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40).

 

Jika kamu tidak mau mengasihi sesamamu manusia yang kelihatan, bagaimana mungkin kamu bisa mengasihi Tuhanmu yang tidak kelihatan? Ungkapan ini tentu menjadi ungkapan yang sangat sering kita dengarkan. Ungkapan ini menekankan keprihatinan tentang bagaimana orang banyak berbicara tentang mengasihi dan penuh Kasih. Bahkan dalam beberapa kesempatan, mengasihi Tuhan menjadi sesuatu hal yang dianggap tidak mungkin. Tidak perlu Tuhan untuk dikasihi adalah ungkapan yang menjadi pembela dalam memahami hal tersebut. Tetapi di atas semua perdebatan itu, bahwa kita sebagai orang percaya diajak untuk melihat bahwa mengasihi Tuhan adalah sesuatu yang penting, sebagai relasi kita secara vertikal kepada Allah.

Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ungkapan ini menjadi penerang bagi kita untuk melihat bahwa hubungan manusia kepada Allah seharusnya berbanding lurus dengan hubungan manusia dengan sesamanya. Adalah hal yang omong kosong ketika seorang manusia mampu mengatakan bahwa dia mengasihi Tuhan sungguh luar biasa, mengatakan bahwa relasinya dengan Tuhan sungguh luar biasa, tetapi malah membenci sesamanya manusia. Apapun yang kita kerjakan untuk mengasihi orang-orang yang kekurangan ataupun yang membutuhkan bantuan kita, pada dasarnya menjadi bukti bahwa kita mengasihi Tuhan. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, tetapi hal tersebut hanya bisa tampak dalam kehidupan kita berelasi dengan sesama kita.

Banyak orang mengira bahwa soal mengasihi sesama dengan soal mengasihi Allah adalah dua hal yang berbeda. Kebenaranya Firman Tuhan menegaskan bahwa upaya kita berelasi dengan sesama kita menjadi bukti nyata bagaimana kita berelasi dengan Tuhan. Upaya Diakonia di tengah-tengah gereja juga menjadi bukti nyata bahwa kita sungguh mengasihi Tuhan. Setiap upaya kita untuk melihat sesama manusia seperti saudara kita dan menaruh kasih kepada mereka, adalah bukti nyata kita mau mengasihi Tuhan. Tuhan mau kita mengasihi Dia seperti Dia mengasihi kita dengan sungguh. (BMS)

Lagu: KJ. 184

DOA:Tuhan Sang Sumber Kasih, mampukan kami untuk mengasihi Engkaudengan terlebih dahulu mengasihi sesama saudara kami, Amin.

 

Kata-kata Bijak:

Kasih adalah kunci dari segala kebahagiaan.

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Senin, 26 Juli 2021

 

BERIBADAH KEPADA TUHAN

“Sekarang, janganlah tegar tengkuk seperti nenek moyangmu. Serahkanlah dirimu kepada TUHAN dan datanglah ke tempat kudus yang telah dikuduskan-Nya untuk selama-lamanya, serta beribadahlah kepada TUHAN, Allahmu, supaya murka-Nya yang menyala-nyala undur dari padamu” (2 Tawarikh 30:8).

 

Pada umumnya orang-orang akan berkata bahwa datang beribadah harus meninggalkan segala permasalahan kehidupan di pintu gereja dan kemudian beribadah dengan kudus kepada Tuhan. Semua permasalahan kehidupan tidak boleh dibawa kehadapan Tuhan dan kita harus datang dengan hati yang bersih. Tentu ini adalah pemahaman yang keliru. Seolah-olah datang kepada Tuhan, beribadah kepada Tuhan, haruslah dengan tanpa masalah. Padahal realitanya, manusia tidak lepas dari permasalahan kehidupan. Lantas, apakah memang beribadah kepada Tuhan harus benar-benar menanggalkan setiap persoalan kehidupan?

Firman Tuhan saat ini menjawab dengan tegas pertanyaan dan kegamangan tersebut. Untuk setiap hal yang terjadi apapun situasi dan kondisinya, kita diajak untuk datang beribadah kepada Tuhan. Apapun permasalahan kehidupan kita, atau apapun keadaan kehidupan kita, tidak menjadi penghalang untuk kita datang beribadah kepada Tuhan. Keras kepala dan tidak mau mendengar, menjadi penghalang kita untuk datang beribadah kepada Tuhan. Sehingga dapat kita katakan, bahwa penghalang kita beribadah kepada Tuhan bukanlah persoalan kehidupan kita melainkan sikap tegar tengkuk.

Beribadah kepada Tuhan memang tidak menjamin bahwa solusi akan segera datang. Beribadah kepada Tuhan mengajak kita untuk mendapatkan kekuatan dari Tuhan untuk menghadapi persoalan tersebut. Apapun masalah dalam kehidupan kita, jika kita mau beribadah kepadaNya, maka kita akan mendapatkan kekuatan dan pengharapan daripadaNya. Sehingga konsep beribadah perlu kita pahami ulang. Beribadah kepada Tuhan adalah upaya untuk melihat dan menyadari kehendak Tuhan dalam hidup kita, termasuk persoalan ataupun permasalahan kehidupan kita. (BMS)

Lagu: KJ. 329

DOA:Ya Tuhan, Allah Bapa, kami datang beribadah kepadaMu, ajarlah kami untuk memahami dan meletakkan kehendakMu dalam setiap perjalan kehidupan kami, Amin.

Kata-kata Bijak:

Kita boleh berencana, tetapi kehendak Allah adalah yang terbaik.

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Minggu 25 Juli 2021

 

BAPA YANG BAIK

 “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar

 kasih setia-Nya" (Mazmur 145:8).

 

                 Seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun diberi tugas oleh gurunya menuliskan semua hal tentang ayahnya. Setelah selesai, gurunya kemudian membaca tulisannya yang berjudul “Ayahku adalah pahlawanku”. “Ayahku adalah pahlawanku. Dia bekerja keras untuk aku. Dia selalu tersenyum untukku dan tidak pernah memarahiku. Tidak pernah aku merasa kelaparan. Bersamanya aku merasa senang dan nyaman. Ayahku adalah pahlawanku,” demikian isi tulisannya tersebut. Sebuah tulisan yang menggambarkan betapa ayahnya adalah seorang yang pemurah atau baik.

                Jika seorang anak kecil tersebut mampu memuji kebaikan atau kemurahan ayahnya, demikian juga pemazmur. Pemazmur menyadari Tuhan adalah Bapa dalam kehidupan yang tidak akan pernah mengecewakan. Dia adalah Bapa yang selalu memelihara kehidupan anak-anak-Nya. Itulah alasannya pemazmur menyatakan, “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya”. Sebuah ungkapan yang memperlihatkan betapa pemazmur merasa begitu dekat dan mengenal-Nya dan Dia merasakan betapa TUHAN itu begitu baik dalam hidupnya. Bagaimana dengan kita?

Mungkin tidak semua orang mengalami hal seperti anak kecil di atas. Akan tetapi, kita perlu merenungkan bahwa kita memiliki Bapa yang teramat baik dalam hidup kita. Bapa yang begitu murah hati dalam hidup kita. Bapa yang adalah Tuhan pemberi berkat dan anugerah bagi manusia di dunia ini. Setiap orang yang bersyukur dan percaya kepada-Nya, pastilah memiliki perasaan yang sama seperti pemazmur. Perasaan yang begitu mengagumi Tuhan atas kebaikan-kebaikan-Nya. Mari terus mengenal Dia, maka kita meyakini Tuhan akan menjadi Bapa yang tidak akan pernah mengecewakan. (JS)

                  

                                                                      Nyanyian KJ. No. 439:1-3

DOA: Bapa Sorgawi, ajar aku untuk semakin mengenal-Mu bahwa Engkaulah pengasih dan penyayang dalam hidupku. Amin.

 

Kata-kata Bijak:

Bapa di dunia mungkin mengecewakan dan meninggalkan kita, tetapi tidak dengan TUHAN.

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Sabtu, 24 Juli 2021

 

BERHARAPLAH KEPADA TUHAN!

“Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang

sampai selama-lamanya.” (Mazmur 131:3).

 

                Dunia sedang menjerit, menangis, menderita, sakit, dilanda ketakutan yang hebat, oleh karena Corona Virus Disease (Covid 19). Saat saya menuliskan renungan ini, sudah 203 negara yang terpapar, yang meninggal diseluruh dunia sebanyak 30.039 orang, termasuk di Indonesia yang positif terjangkit sebanyak 1.414 orang, dan yang meninggal  122 orang. Jumlah ini sangat mungkin bertambah karena sampai sekarang masih banyak pasien yang sedang ditangani, sementara vaksin atau obat untuk penyembuhannya belum didapatkan atau masih dalam proses uji klinis yang panjang. Situasi ini semakin pelik karena terbatasnya alat-alat medis penunjang perawatan pasien, juga alat pelindung diri bagi para tenaga medis.

                Dalam situasi tertekan, kita cenderung bersungut-sungut dan marah kepada TUHAN. Kita ingat bagaimana ketika umat Allah Israel keluar dari Mesir dalam perjalanan di padang gurun saat di Mara, Masa, dan Meriba mereka mengalami masa-masa yang sulit karena tidak ada air yang dapat diminum. Umat Allah bersungut-sungut dan marah  dengan mengatakan “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?”( Kel 15,17). Allah tetap memelihara umatNya dan memenuhi apa yang menjadi rencaNya. Itulah yang juga membuat Daud dalam Mazmur 133 ini tetap berharap kepada TUHAN. Menenangkan dan mendiamkan jiwanya kepada TUHAN, seperti seorang anak yang disapih berbaring dekat dengan ibunya. Saat Daud tertekan, dia memilih dekat dengan TUHAN, dan berserah sepenuhnya.

                Adakah saat ini kita sedang berputus asa dan mengalami ketakutan yang dalam? Menenangkan dan mendiamkan jiwa di dalam TUHAN, akan membuat kita peka akan apa yang TUHAN kerjakan dalam hidup kita di tengah badai ini. Ingatlah komitmen iman Ayub yang lahir setelah melewati berbagai penderitaan hidup: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencanaMu yang gagal” (Ayub 42:2).—ThAS

Nyanyian Kj.No.364:1-2

DOA: TUHAN Engkaulah sumber kekuatan, pertolongan, dan keselamatanku. Sembuhkanlah jiwa raga kami.Amin.

 

Kata-kata Bijak:

Tidak ada rencana TUHAN yang gagal