Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan penuh sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan Maret 2021 bagi kita sekalian. Dalam bulan ini kita masih tetap bergumul dengan penyebaran Virus Corona yang sudah melanda dunia. Tetapi kita bersyukur kepada Tuhan karena menurut banyak pakar Epidemiologi, penyebaran Covid-19 sudah mulai menurun. Selanjutnya sebagai umat percaya mari kita terus berdoa agar virus yang mematikan itu segera berakhir di dunia ini. Sehubungan dengan konteks itu tema bulanan GKPI pada Maret 2021 ini sebagaimana dalam Almanak GKPI, adalah: “Kuasa Firman Tuhan” yang didasarkan pada Mazmur 119:105: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." Dengan tema tersebut kita percaya bahwa hanya Firman Tuhanlah yang menjadi penuntun hidup kita sehingga kita tetap berkenan di hadapan-Nya. Semoga saudara-saudara pengunjung blog ini semakin diberkati oleh Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)



Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Kamis, 4 Maret 2021

 

SALING MENGAKU DOSA DAN MENDOAKAN

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. (Yakobus 5:16).

 

                Akhir-akhir ini saya sering melihat di youtube kejadian-kejadian perkelahian antara sesama pengemudi. Padahal beberapa slogan sudah mengajak untuk sama-sama saling menghargai (SALAM 1 ASPAL=Klub Moge). Permasalahan yang terjadi sering sekali hanya masalah sepele, bahkan ada yang menjadi permasalahan besar hanya dikarenakan saling mendahului satu sama lain. Selain itu juga baru-baru ini ada seorang pengemudi mobil ingin menikam pengendara sepeda motor hanya dikarenakan mobilnya lecet sedikit saja. Jadi saya berfikir sejenak pada saat menonton video tersebut “Mengerikan juga yang terjadi apabila sulitnya untuk saling mengakui kesalahan ya”.

                Ayat ini memberikan suatu alasan yang penting mengapa kesembuhan sering kali tidak ada dalam diri kita? Dosa harus diakui kepada orang lain dan doa yang sungguh-sungguh bagi satu sama lain harus dipanjatkan kepada Allah. Agar berhasil dan berguna, doa hendaknya dilandasi dengan wawasan. Oleh karena itu kita menemukan ungkapan hendaklah kamu saling mengaku dosa. Ini tidak berarti bahwa kita diajak untuk mengaku dosa di tempat umum satu dengan yang lain tetapi kita diarahkan untuk saling mengaku dosa supaya kita dapat saling mendoakan. Rasul Yakobus mengingatkan kita bahwa Elia adalah orang biasa akan tetapi melalui kesungguhannya berdoa, doanya di dengar oleh Allah (Yak. 5:17-18).

                Saudaraku, nas ini mengingatkan bahwa sebelum  memanjatkan doa tidak boleh ada perasaan dendam pada orang yang telah menyakiti hati kita dan wajib mengakui kesalahan kita pada orang lain yang kita sakiti hatinya. Tanpa kita sadari, sering sekali kita melakukan kesalahan kepada orang lain. Pertanyaannya, pernahkah kita mengakui hal itu? Amen.

Lagu KJ.32:1-2

DOA: Yesus yang baik, kuatkanlah kami melalui Roh-Mu agar kami dimampukan untuk saling mengaku dosa dan mendoakan antara satu dengan yang lain. Amin.

Kata-kata Bijak :

Doa bukan hanya berbicara kepada Allah tentang keinginan,

tetapi juga membangun hubungan satu sama lain.

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Rabu, 3 Maret 2021

 

KUDUSLAH KAMU

“Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku Kudus” (1 Petrus 1:16)

 

        Allah memanggil kita untuk hidup dalam kekudusan sama seperti Dia adalah Kudus. Allah ingin agar kita seperti Dia untuk mengungkapkan tabiat Ilahi-Nya dengan memisahkan diri kita dari kebiasaan-kebiasaan duniawi. Oleh karena itu Allah memberikan rel kehidupan yang berupa aturan-aturan kepada manusia, agar manusia hidup dalam kekudusan Allah. Namun dalam perjalanan hidup manusia, banyak manusia yang menyimpang dari rel aturan Allah, sehingga apa yang dilakukan manusia jauh dari apa yang Allah kehendaki.

        “Kuduslah kamu, sebab Aku Kudus,” Hal ini bukan sebuah perintah bagi manusia, namun sebagai janji manusia di hadapan Allah. “Kudus” merupakan “terpisah, dikhususkan” atau bisa dikatakan “kudus” adalah hubungan yang benar di hadapan Allah, mengarah kepada apa yang katakan Paulus di Roma 12: 1 b” supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah Ibadahmu yang sejati. Alkitab menegaskan bahwa tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan, maka dari itu kejarlah kekudusan (Ibr. 12:14). 

          Oleh karena itu, apabila kita ingin mengalami rahasia Allah dan kehadiran Allah maka syaratnya adalah mutlak harus hidup dalam kekudusan. Bagaimana cara agar kita bisa hidup dalam kekudusan Allah? Pertama-tama harus kita camkan bahwa pengorbanan Yesus di Kayu Salib yang telah menguduskan kita. Selalunya dalam hidup sehari-hari marilah kita senantiasa memelihara hubungan yang intim dengan Allah dalam doa dan saat teduh. Selanjutnya kita harus selalu menjaga  hidup kita agar bersih dan terbebas dari segala bentuk kenajisan dan kecemaran. Karena itu hendaklah kita mau dipimpin dan dituntun oleh Roh Tuhan. Amin.  (PCS).

                                                                                                    Lagu KJ. No. 376:1+4

DOA:  Ya Tuhan yang kami muliakan, tuntunlah kami oleh Roh Kudus-Mu untuk menjaga Kekudusan-Mu dan akan menjadi Anak anak Tuhan yang hidup akan kekudusan. Amen.

 

Kata-kata Bijak:

Hidup kita haruslah dalam kekudusan sebab Allah kita adalah kudus.

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Selasa, 2 Maret 2021

 

TAAT UNTUK BAHAGIA

“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh” (Mazmur 1:1)

 

                Pada saat kita jalan-jalan bersama keluarga ke kebun binatang, setiap anak pasti akan terpukau melihat hewan yang ada di tempat itu. Terlebih ketika melihat binatang yang mereka tidak pernah lihat secara langsung. Setiap anak pasti akan sangat mengagumi kehebatan seekor bunglon karena ia memiliki kemampuan untuk mengubah warna kulitnya (bahkan juga kombinasi warna).  Tujuan bunglon merubah warna kulitnya adalah untuk keberlangsungan hidupnya (mengelabui musuh, memikat lawan jenis dan menunjukkan perubahan suhu).  Setiap usaha yang dilakukan oleh bunglon itu pasti memiliki tujuan yang berguna untuk hidupnya.

                Pada hari ini kita diingatkan untuk melakukan hal yang berguna bagi diri kita. Apakah itu? Menjadi orang yang: (1) tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, artinya tidak mengikuti pola hidup orang yang tidak mengenal Tuhan, (2) tidak berdiri dijalan orang berdosa, artinya mampu tetap berjalan teguh mengikut perintah Tuhan walau orang lain tidak berbuat demikian, (3) tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, artinya tidak mau bergaul dengan orang-orang menghina Tuhan melalui perbuatan dan ucapan mereka. Setiap saat dan kemanapun kita pergi, kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang demikian. Menurut pemazmur mereka adalah orang-orang yang memiliki kebahagiaan dari Tuhan.

                Saudara yang terkasih, renungan hari ini juga seperti yang diperintahkan Tuhan Yesus dalam Matius 7:13-14, Ia memerintahkan murid-Nya untuk masuk ke dalam pintu yang sesak dan sempit itu, yang tidak banyak orang melaluinya. Jalan yang sempit menuju kepada kehidupan. Sedangkan jalan yang mulus dan lebar menuju kebinasaan. Untuk itu, mari kita memilih jalan yang benar meskipun kita hidup ditengah-tengah orang-orang yang tidak mau memilih jalan itu.

Lagu KJ. No.370:1-2

DOA: Bapa Sorgawi, Engkaulah Tuhan yang senantiasa membimbing kami agar kiranya kami hidup dalam Firman-Mu. Amin.

 

Kata-kata Bijak:

Bersama-sama di dunia ini, tapi tidak harus sama dengan dunia ini.

BERITA DALAM FOTO...






Foto bersama Kepala-kepala Departemen Gereja-gereja Anggota United Evangelical Mission (UEM) Regional Asia di sela-sela Workshop, 20-23 Februari 208 di Rentreat Center GBKP, Suka Makmur, Sibolangit. Workshop ini dipimpin oleh Claudia Wahrisch-Oblau, yang membidangi Misi dan Penginjilan UEM dari Wuppertal Jerman. Workshop ini bertujuan untuk mengupdate konteks penginjilan dewasa ini, khususnya di Asia dan bagaimana Gereja-gereja anggota UEM membangun strategi PI yang relevan pada masa kini.