Departeman Apostolat GKPI

Salam dari Departemen Apostolat GKPI

SALAM DARI DEPARTEMEN APOSTOLAT GKPI

Dengan sukacita kami mengucapkan SELAMAT memasuki bulan Desember bagi kita sekalian.Pada bulan Desember ini tentu kita akan disibukkan dengan Perayaan Natal, di mana kita akanmengingat-rayakan kelahiran Yesus Kristus, Juruselamat dunia. Tema Perayaan Natal yangdigulirkan PGI tahun 2018 ini adalah YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA (1 Korintus1:30a). Tentu kita akan merenungkan tema ini dalam berbagai perayaan Natal baik di gereja,kantor-kantor, komunitas-komunitas Kristen dan juga di tempat-tempat lainnya. Namun secarakhusus di GKPI tema bulanan GKPI pada Desember 2018 ini sebagaimana dalam AlmanakGKPI, adalah: “Immanuel: Allah Menyertai Kita yang didasarkan pada Matius 1:23:“Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak lagi-lagi, dan mereka akan menamakan Dia Immanuel: Allah Menyertai Kita" Doa dan harapan kami semoga saudara-saudara pengunjung blog ini semakin diberkati oleh Tuhan dan senantiasa bersukacita dalam perayaan Natal ini. Terima kasih atas perhatian dan waktu yang diberikan oleh saudara-saudara untuk mengunjungi blog ini. Tuhan memberkati.

(KADEP Apostolat: Pdt. Humala Lumbantobing, MTh)


Tentang Departemen Apostolat GKPI silahkan klik di sini...

Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Jumat, 18 Januari 2019


PERCAYALAH KEPADA TUHAN!
“Jika kamu tidak percaya, sungguh, kamu tidak teguh jaya.” (Yesaya 7:9b).

                Para penggila  sepakbola tentu masih ingat ‘kisah dongeng’ klub semenjana Leicester City merengkuh gelar juara Liga Inggris tahun 2016. Decak kagum dan pujian disampirkan pada klub yang dilatih Claudio Ranieri. Musababnya ialah prestasi gemilang ini diraih di tengah persaingan bersama klub-klub kaya seperti Manchester City,Arsenal, Manchester United dan Chelsea. “Saya tidak pernah menyangka akan ini ketika saya datang,” kata Ranieri. “Saya adalah seorang pragmatis, saya cuma ingin memenangi laga dan membantu para pemain saya berkembang pekan demi pekan.” Raja Ahas juga tidak menyangka dapat menghadapi serangan dari Raja Rezin dan Raja Pekah. Namun Allah, melalui nabi Yesaya, meneguhkan hati Raja Ahas dan rakyat Yehuda yang gemetar ketakutan seperti pohon-pohon hutan bergoyang ditiup angin.
                “Teguhkanlah hatimu dan tinggallah tenang, janganlah takut dan janganlah hatimu kecut karena kedua puntung kayu api yang berasap ini, yaitu kepanasan amarah Rezin dengan Aram dan anak Remalya.” Demikian sabda Allah melalui Yesaya kepada Raja Ahas. Selanjutnya dikatakan,“Jika kamu tidak sungguh percaya, kamu tidak teguh jaya.” Jika Raja Ahas tidak percaya, atau meragukan pemeliharaan TUHAN, maka akan menjadi masalah besar, rakyatnya juga akan turut menjadi rapuh, maka kerajaanNya tidak akan teguh jaya. Teguh jaya bisa diartikan berkemenangan dan tak tergoyahkan di segala keadaan.  Seringkali kita berpikir bahwa kita bisa kuat kalau situasi yang ada sangat mendukung.  Bagaimana jika situasi yang terjadi sangat bertolak belakang?  Hidup orang percaya tidaklah ditentukan oleh situasi dan kondisi.  Meskipun situasi tidak memungkinkan dan sungguh teramat berat, orang percaya akan tetap teguh jaya asalkan ia tetap melekat kepada Tuhan, karena ada Roh Kudus yang senantiasa memberi kekuatan, ada tangan Tuhan yang selalu siap untuk menopang, sehingga  "...apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya."  (Mazmur 37:24).
                Yesus pernah berkata, “Jika kamu punya iman sebesar biji sesawi, maka kamu dapat memindahkan gunung…”. Iman yang memindahkan gunung, itulah sesungguhnya yang kita miliki jika kita percaya. Sebaliknya, sedikit keraguan saja yang kita miliki, dan biarkan terus-menerus, ini akan menciptakan ‘gunung’ masalah dalam hidup kita, kita tidak akan teguh jaya. Jadi, percalah kepada TUHAN. Jangan mengubur talenta-talenta, karunia yang diberikan Allah padamu. Jangan takut memimpikan hal-hal besar. Hadapi hidup ini dengan gagah, berani!
                                                                                                                                        ThA
DOA : Beri aku keberanian ya Tuhan, melalui RohMu, agar aku berani menghadapi hidup ini, teguh dan jaya, Amin.

Kata-kata Bijak:
Jika punya iman sekecil biji sesawi sekali pun, kamu dapat memindahkan gunung, sebaliknya  sedikit keraguan, akan menciptakan gunung masalah dalam hidup.


Renungan Harian Terang Hidup GKPI, Kamis, 17 Januari 2019


YESUS MATI UNTUK MENEBUS DOSA KITA
“Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita  yang dipikulnya.” (Yesaya 53:4a).

                Beberapa waktu yang lalu Indonesia berduka ketika gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter mengguncang Sulawesi Tengah, disertai dengan tsunami yang menghancurkan beberapa bangunan dan menelan ribuan korban jiwa (28/9/2018). Namun kabar pilu tersebut terdapat suatu kisah heroik dari Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie di Palu, yang juga merasakan gempa tersebut. Akibat dari bencana tersebut, satu orang pegawai AirNav Indonesia tewas usai bertugas memandu pesawat Batik Air lepas landas. Pegawai itu adalah Anthonius Gunawan Agung, seorang personil Air Traffic Controller di Bandara Palu. Kisah Almarhum kemudian menjadi viral, karena dedikasinya saat bertugas yang mementingkan nyawa orang lain dibandingkan dengan dirinya sendiri. Saat gempa terjadi bertepatan ketika Baik Air nomor penerbangan ID 6231 sudah berjalan di runway untuk bersiap-siap lepas landas. ”Pilot Batik Air ID 6231.. Allowed to take off.. Copy," ucap Agung dari menara ATC Bandara Mutiara Al Jufri, Palu. "Copy. Crew attendant.. Air flight ready to take off," ucap pilot Capt. Ricosetta Mafella dari ruang kemudi. Ketika Batik Air itu melaju semakin kencang di runway, gempa terjadi. Namun, Agung tetap berada di tower bandara untuk memandu pesawat benar-benar lepas landas, menutup rodanya.
Melalui keterangan resmi, AirNav Indonesia menyatakan setelah pesawat Batik Air sudah lepas landas atau
airborne kondisi gempa sudah semakin kuat dan Agung akhirnya melompat dari lantai 4 tower. Kemudian, Agung dibawa ke rumah sakit terdekat dan ternyata butuh penangangan lebih lanjut ke rumah sakit lainnya. AirNav kemudian memanggil helikopter, namun sebelum helikopter tiba, Agung menghembuskan nafas terakhirnya. Dia mati, sementara seluruh penumpang Batik Air dapat selamat ke tujuan.
                Dedikasi Agung ini mengingatkan kita akan pengorbanan Anak Manusia yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya.  Yesus Kristus yang digambarkan itu menderita aniaya, disiksa, disalibkan, tertikam, dikira kena tulah, dan mati. Sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipukulnya. Semuanya adalah untuk menebus dosa-dosa manusia. Dengan kasih ilahi yang penuh pengurbanan, Yesus menolak menyelamatkan nyawa-Nya sendiri. Dia mati agar dapat memberikan pengampunan atas dosa-dosa kita. Juruselamat kita tetap bertahan di kayu salib untuk Anda dan saya.So, apakah yang dapat kita dedikasikan bagi kemuliaan Allah sebagai respon  kita untuk Tuhan Yesus? MenyalibkanNya untuk keduakalinya? Tentu tidak. Tuhan menunggu kita member hidup untuk kemulianNya.
                                                                                                                                          ThA
DOA: Syukur bagiMu TUHAN, lewat pengorbanan AnakMu  Yesus  Kristus, kami mau belajar untuk hidup bukan untuk kesenangan kami, tetapi hidup bagi sesama  dan untuk kemulianMu,  Amin.
Kata-kata Bijak:
Yesus menderita, sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya!